Bandung (BRS) – Pengembangan mobilitas listrik tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan sebuah kendaraan. Di balik performa kendaraan listrik, terdapat sistem yang saling terhubung, mulai dari baterai, manajemen daya, sistem kendali dan proteksi, infrastruktur pengisian, hingga pengelolaan data.
Kondisi tersebut mendorong PT Len Industri (Persero) memperkuat kompetensi di bidang rekayasa dan integrasi sistem energi. Bagi perusahaan, kemampuan menghubungkan berbagai subsistem secara aman, terukur, dan dapat diverifikasi menjadi salah satu kunci dalam membangun ekosistem mobilitas listrik yang andal.
Pengalaman tersebut dibangun Len melalui berbagai proyek teknologi strategis, termasuk integrasi sistem kelistrikan on-grid, off-grid, dan hybrid. Sistem tersebut menuntut keterpaduan antara pembangkitan, penyimpanan, pengendalian, proteksi, hingga distribusi energi agar dapat bekerja sebagai satu kesatuan.
Pengalaman serupa juga diperoleh melalui pengembangan Electrical Bike Sprint. Kendaraan listrik ini menjadi salah satu sarana pembelajaran teknis Len dalam mengintegrasikan sistem energi, kelistrikan, kendali, dan proteksi dalam satu platform.
Sprint menggunakan motor listrik berdaya 3.000 watt dengan kemampuan kecepatan hingga 80 kilometer per jam dan jarak tempuh hingga 60 kilometer. Kendaraan tersebut memiliki daya angkut hingga 190 kilogram, dilengkapi suspensi depan teleskopik serta rem cakram pada kedua roda.
Namun, Len menempatkan Sprint terutama sebagai referensi pengalaman rekayasa, bukan sebagai dasar klaim mengenai kesiapan pasar atau kinerja komersial kendaraan listrik. Fokusnya adalah bagaimana setiap komponen dan subsistem dapat bekerja secara terintegrasi melalui proses pengujian, verifikasi, serta pemenuhan persyaratan teknis.
Direktur Utama PT Len Industri (Persero), Joga Dharma Setiawan, mengatakan pendekatan integrasi menjadi penting karena mobilitas listrik merupakan bagian dari sistem yang lebih besar.
“Baterai, manajemen daya, sistem proteksi, infrastruktur pengisian, dan pengelolaan data tidak dapat bekerja sendiri-sendiri. Seluruhnya membutuhkan persyaratan dan antarmuka teknis yang jelas. Pengalaman Len dalam mengintegrasikan sistem kompleks menjadi referensi untuk menerapkan pendekatan yang disiplin, terukur, dan berbasis data,” ujar Joga dalam keterangannya, Rabu (12/8).
Kompetensi tersebut juga diperkuat pengalaman Len dalam mengembangkan Radar Ground Control Intercept (GCI). Meski memiliki fungsi dan tingkat kritikalitas berbeda dengan kendaraan listrik, radar memberikan pembelajaran penting mengenai pengelolaan sistem kompleks yang melibatkan banyak subsistem, antarmuka, parameter, aliran data, serta mekanisme verifikasi.
Menurutnya, keandalan sebuah sistem tidak hanya ditentukan oleh kualitas setiap komponen. Kemampuan seluruh subsistem untuk terhubung dan bekerja secara konsisten juga menjadi faktor penting.
Karena itu, Len mengedepankan pendekatan berbasis bukti dalam proses integrasi, mulai dari pemetaan ketergantungan antarsistem, penyelarasan antarmuka, pengelolaan informasi teknis, hingga verifikasi berdasarkan data.
Ke depan, kompetensi tersebut akan terus diperkuat untuk mendukung kebutuhan sistem energi dan mobilitas listrik. Pendekatan bertahap dan berbasis verifikasi diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan teknologi mobilitas listrik yang lebih aman, andal, efisien, dan berkelanjutan.








