Bandung (BRS) – Pengembangan kendaraan listrik di Indonesia tidak bisa hanya bertumpu pada baterai atau motor listrik. PT Len Industri (Persero) menilai kunci utamanya ada pada integrasi seluruh sistem, mulai dari manajemen daya, infrastruktur pengisian, hingga layanan purnajual.
Sebagai BUMN yang fokus pada teknologi, Len kini memperkuat kapabilitas rekayasa sistem untuk memastikan kendaraan listrik nasional berjalan aman, andal, dan berkelanjutan.
Direktur Utama PT Len Industri (Persero) Prof. Joga Dharma Setiawan, Ph.D. mengatakan, kendaraan listrik harus dilihat sebagai satu kesatuan ekosistem, bukan sekadar kumpulan komponen.
“Baterai tidak dapat diperlakukan sebagai komponen yang berdiri sendiri. Keandalan kendaraan listrik juga ditentukan oleh bagaimana baterai, sistem kendali daya, kendaraan, infrastruktur, layanan purnajual, dan data operasional bekerja secara selaras,” ucap Joga di Bandung, Jumat (8/8).
Menurutnya, ada empat fondasi yang harus dikuatkan bersama, yaitu standardisasi, interoperabilitas, keselamatan, dan keandalan. Tanpa empat pilar itu, kendaraan listrik sulit diterima luas oleh masyarakat.
Standardisasi diperlukan agar komponen dari produsen berbeda bisa saling terhubung. Interoperabilitas penting agar stasiun pengisian daya, baterai, dan sistem kendaraan bisa saling kompatibel. Sementara keselamatan dan keandalan menjadi syarat utama agar publik percaya menggunakan kendaraan listrik setiap hari.
Karena itu, Len mendorong kolaborasi lintas pihak. Pemerintah, industri, lembaga standardisasi, perguruan tinggi, hingga lembaga riset harus duduk bersama sesuai kewenangan masing-masing.
“Teknologi akan memperoleh kepercayaan masyarakat apabila dapat digunakan secara aman, mudah, dan konsisten. Karena itu, rekayasa teknologi dan kesiapan layanan harus berkembang bersama,” kata Joga.
Len menyoroti bahwa pengalaman pengguna akan menentukan keberhasilan ekosistem kendaraan listrik. Masyarakat tidak hanya butuh kendaraan yang bagus, tapi juga kepastian soal pengisian daya, suku cadang, garansi, dan bengkel.
Jika infrastruktur pengisian terbatas atau layanan purnajual belum siap, maka sebaik apapun teknologinya akan sulit berkembang.
Untuk itu, Len menempatkan pengujian, validasi, dan pembuktian sebagai bagian wajib dalam setiap pengembangan. Setiap spesifikasi, kinerja, dan aspek keselamatan harus melewati verifikasi sesuai standar nasional dan internasional.
Pendekatan rekayasa sistem yang dibangun Len mencakup integrasi sistem baterai, manajemen daya, kendaraan, infrastruktur pendukung, layanan, dan pengelolaan data. Dengan begitu, ketika satu subsistem mengalami gangguan, sistem lain tetap bisa bekerja konsisten.
“Keandalan kendaraan listrik tidak hanya ditentukan oleh kualitas satu komponen, tetapi oleh kemampuan seluruh subsistem bekerja secara konsisten dan terintegrasi,” jelas Joga.
Langkah ini sejalan dengan target pemerintah mempercepat transisi ke kendaraan listrik. Dengan kapasitas rekayasa dan integrasi teknologi yang dimiliki, Len ingin berkontribusi meningkatkan kapasitas teknologi nasional.
Melalui penguatan kompetensi tersebut, PT Len Industri (Persero) berharap bisa menjadi mitra strategis bagi industri otomotif dan pemerintah dalam membangun industri kendaraan listrik Indonesia yang berdaya saing.
Ke depan, Len juga akan memperluas kerja sama riset dengan kampus dan lembaga litbang untuk mempercepat sertifikasi, uji coba, dan hilirisasi teknologi kendaraan listrik buatan dalam negeri.
Dengan ekosistem yang terintegrasi, Joga optimistis kendaraan listrik nasional bisa lebih aman dipakai, lebih mudah dirawat, dan lebih terjangkau bagi masyarakat.








