Bandung (BRS) – Tantangan menuju Indonesia Emas 2045 tidak hanya membutuhkan kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pemimpin yang mampu membangun manusia, menyiapkan talenta, serta menjaga organisasi tetap adaptif menghadapi perubahan.
Persoalan tersebut menjadi bahasan utama HCM Talks 7th Series 2026 yang digelar School of Business and Management Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), Rabu (23/9/2026), di Auditorium Lantai 6, Gedung Freeport SBM ITB.
Mengusung tema “Leadership Development Across Fields and Levels Toward Indonesia Emas 2045”, forum yang merupakan kolaborasi SBM ITB, Ikatan Alumni ITB (IA ITB), dan PRIMA Indonesia melalui PT Rintis Sejahtera (RINTIS) itu mempertemukan mahasiswa, akademisi, profesional, dan praktisi dari berbagai sektor.
Pembahasan dalam empat sesi menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak berhenti pada jabatan. Pengembangan manusia, tata kelola, regenerasi pemimpin, kemampuan beradaptasi terhadap teknologi, hingga praktik memimpin dalam kehidupan sehari-hari menjadi bagian dari pembahasan.
Pada sesi pertama, “Public Leadership and Policy: Building Indonesian People from the Policy Space”, Abraham J. Adriaansz, President Director PT Rintis Sejahtera, menyoroti hubungan kepemimpinan dengan tata kelola organisasi.
Menurut Abraham, good governance tidak cukup dimaknai sebagai kepatuhan terhadap aturan, tetapi harus menghasilkan kinerja.
“Good governance itu bukan sekadar compliance, tetapi good governance itu justru ujungnya adalah performance,” ucapnya.
Ia juga menekankan pentingnya keberanian menantang kondisi yang sudah ada serta kemampuan pemimpin memberdayakan orang lain.
“Empower others to act,” imbuhnya.
Sementara itu, Gita Wirjawan, Chairman of Ancora Group dan mantan Menteri Perdagangan, membawa pembahasan pada pembangunan manusia melalui pemerataan akses terhadap public goods, termasuk pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan kesejahteraan.
Gita juga menekankan pentingnya empati dalam kepemimpinan dengan mengambil contoh kepemimpinan Satya Nadella di Microsoft.
“Never underestimate the power of empathy,” kata Gita.
Pembahasan kemudian bergeser ke dunia korporasi dan industri melalui sesi “Corporate & Industry Leadership”. Ichwan F. Agus, President Director PT Gapura Angkasa, menekankan pentingnya rasa ingin tahu dan pembelajaran sepanjang perjalanan karier.
“Stay curious. Never stop learning,” ucapnya.
Menurutnya, perubahan teknologi, termasuk AI, menuntut pemimpin tetap mampu berpikir dan memahami persoalan secara mendalam.
Dari industri energi, Indra Pehulisa Sembiring, President Director PT Pertamina Gas, menyoroti pentingnya membangun leadership ecosystem. Ia mengaitkannya dengan leadership pipeline dan succession planning agar posisi-posisi kritis dalam organisasi memiliki penerus yang siap.
“Leadership risk = critical position without a ready successor,” tegasnya.
Sementara Yudo Anggoro, Assistant Professor in People & Knowledge Expertise Group dan Director of the Center for Policy and Public Management SBM ITB, menegaskan bahwa organisasi perlu menciptakan sistem yang memungkinkan lahirnya pemimpin baru.
Persoalan pengembangan talenta kemudian menjadi fokus sesi ketiga, “Developing Future Leaders: Talent, Learning, and Succession for Indonesia 2045”.
Prof. Dr. Henndy Ginting, Chair of the People and Knowledge Management Interest Group dan Chair of the SBM ITB Senate, menghubungkan kepemimpinan dengan perubahan perilaku, produktivitas, dan daya saing.
“Leadership becomes economically relevant when leadership changes behaviour,” ucapnya.
Sementara Wahyu Dhyatmika, CEO Tempo Media Digital, menyoroti perubahan organisasi di tengah perkembangan AI. Menurutnya, teknologi mengubah alat dan proses kerja, sementara pemimpin menentukan perubahan apa yang perlu dilakukan dan prinsip apa yang tetap dipertahankan.
“AI is changing the tools. Leadership decides what changes and what must remain,” ucap Wahyu.
Ia juga menekankan empat kemampuan pemimpin masa depan, yakni AI literacy, judgment, learning agility, dan human leadership.
“The advantage is not ‘human vs. machine.’ It is the ability to lead both,” imbuhnya.
Jika tiga sesi sebelumnya banyak membahas kepemimpinan dalam ruang publik dan organisasi, sesi keempat membawa pembahasan ke praktik yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari melalui tema “Everyday Leadership: From Leading Yourself, Team, to Community”.
Dr. Yuni Ros Bangun, Associate Professor in Behavioral Science SBM ITB, menyoroti pentingnya integritas, kerendahan hati, komunikasi, kemampuan memecahkan masalah, pengambilan keputusan, hingga keteladanan.
“Kepemimpinan tidak hanya tentang kompetensi, tetapi juga tentang bagaimana seorang pemimpin membawa dirinya. Integritas, humility, dan kemampuan untuk lead by example menjadi bagian penting dari bagaimana seorang pemimpin membangun kepercayaan dan memberikan pengaruh,” ucap Dr. Yuni Ros.
Sedangkan Dr. Ir. Moris Krismas Tarigan, President Director PT Larsen and Toubro, menegaskan bahwa kepemimpinan dapat dimulai sebelum seseorang memperoleh jabatan formal.
Menurut Moris, pemimpin juga memiliki tanggung jawab untuk membuka potensi orang-orang di sekitarnya melalui praktik kepemimpinan sehari-hari.
Sementara Shana Fatina, Founder and CEO Komodo Water, membawa kepemimpinan pada konteks individu dan komunitas.
“Every day, we influence someone through our choices, our actions, and the example we set. Before we lead others, we need to learn to lead ourselves,” tuturnya.
Rangkaian HCM Talks 7th Series 2026 tersebut mempertemukan perspektif kebijakan publik, bisnis, industri, akademik, teknologi, hingga komunitas dalam satu ruang diskusi.
Melalui empat sesi, pembahasan mencakup tata kelola, pemberdayaan manusia, pengembangan talenta, succession planning, AI, pembelajaran berkelanjutan, hingga kemampuan memimpin diri sendiri, tim, dan komunitas dalam menghadapi perubahan menuju 2045.










