Bandung – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan sejumlah pemangku kepentingan memperkuat pengembangan komoditas ayam petelur melalui layanan inklusi keuangan. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat ekosistem usaha peternak dari hulu hingga hilir, sekaligus membuka akses pembiayaan dan pasar yang lebih luas.
Kegiatan bertema EGG (Endog Jabar Go Global), “Ti Lembur Ka Global, Ngawangun Ekonomi Jabar Istimewa”, di Bandung, Jumat (25/9/2026), melibatkan 4.665 pelaku usaha ternak ayam petelur, baik perorangan maupun perseroan, yang tersebar di 21 sentra peternakan di Jawa Barat.
Dalam sambutannya, Kepala OJK Provinsi Jawa Barat Darwisman mengatakan, pengembangan ayam petelur menjadi bagian dari Program Pengembangan Ekonomi Daerah (PED) yang dijalankan melalui kolaborasi pemerintah daerah, sektor jasa keuangan, akademisi dan mitra strategis dalam wadah Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD).
“Program ini dirancang melalui pembentukan ekosistem kemitraan terpadu (close loop) yang memberikan nilai tambah dari hulu hingga hilir,” kata Darwisman.
Menurutnya, program tersebut memiliki sejumlah manfaat, mulai dari peningkatan produksi telur, kenaikan pendapatan peternak, efisiensi anggaran pemerintah hingga peningkatan akses pembiayaan.
“Perhitungan program menunjukkan, peternakan dengan 2.000 ekor ayam dapat menghasilkan pendapatan sekitar Rp34,88 juta per bulan. Sementara potensi peningkatan kredit pembiayaan melalui KUR perbankan diproyeksikan mencapai Rp456,5 miliar dengan skema KUR mikro tanpa agunan tambahan,” papar Darwisman.
Ia menuturkan, ekosistem kemitraan juga diarahkan untuk menghubungkan peternak dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Skema tersebut diperkirakan dapat mendukung efisiensi anggaran program makan bergizi gratis di Jawa Barat hingga Rp4,23 triliun per tahun, dengan harga pembelian telur yang disebut dapat lebih rendah 10 hingga 15 persen dibandingkan harga pasar.
Pengembangan pasar tidak hanya menyasar kebutuhan dalam negeri. Pelaku usaha ayam petelur juga mulai didorong mengakses pasar luar daerah hingga ekspor.
Ia menyebut, pada semester I 2026, nilai ekspor ‘fertilized egg for incubation of fowl’ atau telur tetas dari Jawa Barat tercatat mencapai 550.230 dolar AS. Nilai tersebut tumbuh 513 persen dibandingkan semester I 2025, dengan tujuan ekspor antara lain Myanmar, Brunei Darussalam dan Malaysia.
Dari sisi hilir, pengembangan komoditas juga diarahkan pada pengolahan telur menjadi produk bernilai tambah, seperti tepung telur, produk sarapan, pupuk organik dari cangkang telur hingga nutrisi hewan peliharaan.
“Pengolahan dinilai dapat membantu memitigasi kerugian akibat masa kedaluwarsa telur yang relatif cepat, yakni sekitar 21 hari,” jelasnya.
Sementara itu, Dewan Komisioner OJK Dian Ediana Rae menegaskan, pembiayaan bagi peternak perlu ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem usaha, bukan sekadar pemberian modal.
“Pembiayaan tidak boleh berdiri sendiri. Pembiayaan harus hadir bersama dengan pendampingan literasi keuangan, akses pasar, penguatan kelembagaan usaha, pemanfaatan teknologi serta manajemen risiko,” ucap Dian Ediana.
Menurutnya, sektor jasa keuangan perlu meningkatkan penyaluran kredit atau pembiayaan yang sehat dan berkualitas, terutama kepada sektor produktif yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah dan nasional.
Dalam pengembangan ayam petelur, kebutuhan peternak mencakup penyediaan bibit dan pakan, investasi kandang dan peralatan, pengelolaan kesehatan ternak, menghadapi fluktuasi harga pakan dan telur hingga memastikan kepastian pasar.
Karena itu, OJK mendorong tindak lanjut berupa pemetaan kebutuhan pembiayaan, pengembangan skema pembiayaan yang sesuai, pendampingan, akses pasar, penguatan integrasi rantai pasok serta monitoring dan evaluasi secara berkala.
Untuk diketahui, dalam kegiatan EGG (Endog Jabar Go Global), “Ti Lembur Ka Global, Ngawangun Ekonomi Jabar Istimewa”, juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara industri jasa keuangan, di antaranya Bank BJB, BNI dan Bank Mandiri, dengan pelaku usaha untuk pengembangan peternak ayam petelur melalui inklusi keuangan.
Meski demikian, peternak masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti tingginya harga pakan, volatilitas harga telur, keterbatasan akses pembiayaan serta perlunya penguatan tata kelola peternakan. Salah satunya terkait kepemilikan Nomor Kontrol Veteriner (NKV) yang saat ini baru dimiliki 39 pelaku usaha ayam petelur.
Program yang melibatkan 18 kabupaten dan sembilan kota di Jawa Barat tersebut juga diarahkan untuk memperkuat posisi Jawa Barat sebagai salah satu lumbung pangan nasional dan membuka peluang replikasi pengembangan sentra ayam petelur di daerah lain di Indonesia.









