Bandung (BRS) – Perekonomian Jawa Barat masih menunjukkan daya tahan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pada triwulan II 2026, ekonomi Jawa Barat tumbuh 5,73 persen secara tahunan (yoy), tetap lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.
Meski sedikit melambat dibandingkan triwulan I 2026 yang tumbuh 5,80 persen, capaian tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi di Jawa Barat masih bergerak positif. Bank Indonesia Jawa Barat memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 tetap berada pada kisaran 4,9–5,7 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat Junanto Herdiawan mengatakan, kinerja tersebut menunjukkan perekonomian Jawa Barat masih memiliki fondasi yang cukup kuat, terutama ditopang konsumsi, investasi, dan aktivitas sektor produktif.
“Ekonomi Jawa Barat tetap tumbuh kuat meskipun menghadapi berbagai tantangan global. Sinergi kebijakan antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, dunia usaha, dan masyarakat menjadi faktor penting untuk menjaga momentum pertumbuhan agar semakin berdaya tahan,” ujar Junanto dalam keterangannya, Sabtu (9/8).
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penopang utama dengan pertumbuhan 5,01 persen. Namun, angka ini lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 5,97 persen, seiring normalisasi aktivitas masyarakat setelah Ramadan dan Idulfitri.
Sementara itu, konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 40,24 persen. Kinerja tersebut antara lain didukung realisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mencapai sekitar Rp11 triliun pada triwulan II serta mulai berjalannya program Sekolah Rakyat.
Investasi juga menunjukkan penguatan dengan pertumbuhan 4,65 persen, terutama didorong peningkatan investasi nonbangunan. Perkembangan ini menjadi sinyal positif bagi penguatan kapasitas produksi dan aktivitas dunia usaha di Jawa Barat.
Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan menjadi salah satu motor pertumbuhan dengan capaian 4,76 persen, meningkat dari 4,06 persen pada triwulan I. Penguatan tersebut didukung membaiknya permintaan, termasuk dari negara tujuan ekspor yang Purchasing Managers’ Index (PMI)-nya berada di zona ekspansif.
Sektor perdagangan besar dan eceran juga tumbuh 4,49 persen, naik dari 3,06 persen pada triwulan sebelumnya. Salah satu pendorongnya adalah peningkatan penjualan mobil domestik yang tumbuh 34,19 persen.
Adapun sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 9,86 persen. Meski masih tinggi, pertumbuhan ini melambat seiring normalisasi mobilitas dan kunjungan wisatawan setelah periode Ramadan dan Idulfitri.
Ke depan, Bank Indonesia Jawa Barat tetap mewaspadai risiko global, termasuk ketegangan geopolitik, potensi kenaikan harga komoditas, serta tekanan ekspor akibat implementasi tarif Trump.
“Ke depan, kami akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan, termasuk dalam pengendalian inflasi serta pengembangan ekonomi dan keuangan daerah,” kata Junanto.
Menurutnya, kolaborasi tersebut penting agar pertumbuhan ekonomi Jawa Barat tidak hanya tinggi, tetapi juga semakin berkualitas dan mampu menghadapi berbagai tekanan eksternal.














