Bandung (BRS) – Di tengah dinamika ekonomi global dan nasional yang masih penuh tantangan, sektor jasa keuangan Jawa Barat belum menunjukkan tanda-tanda kehilangan daya tahannya. Hingga Juni 2026, intermediasi perbankan tetap tumbuh, dana masyarakat meningkat, sementara risiko kredit secara umum masih berada dalam batas yang terjaga.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat mencatat total aset perbankan tumbuh 5,67 persen secara tahunan (year on year/yoy). Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 8,23 persen, sedangkan penyaluran kredit tumbuh 8,58 persen.
Kinerja tersebut menjadi gambaran masih kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap industri jasa keuangan di Jawa Barat. Bahkan, penyaluran kredit berdasarkan lokasi proyek pada Juni 2026 mencapai Rp1.120 triliun.
Meski pertumbuhannya masih di bawah nasional yang mencapai 12,48 persen, Jawa Barat tetap menjadi provinsi dengan pangsa kredit terbesar kedua secara nasional setelah DKI Jakarta, dengan kontribusi 12,10 persen.
Dalam keterangannya, Kepala OJK Provinsi Jawa Barat Darwisman mengatakan kondisi sektor jasa keuangan hingga pertengahan tahun masih menunjukkan ketahanan yang baik.
“Stabilitas sektor keuangan daerah tetap terjaga, dengan intermediasi perbankan yang positif dan profil risiko yang terkendali,” kata Darwisman, Rabu (2/9/2026).
Dari sisi kualitas kredit, rasio Non-Performing Loan (NPL) perbankan tercatat 3,42 persen. Namun, OJK mencermati perlunya perhatian lebih terhadap sejumlah sektor, terutama konstruksi yang mengalami penurunan penyaluran kredit sebesar Rp739 miliar seiring meningkatnya risiko kredit.
Di sisi lain, beberapa sektor justru memperlihatkan kualitas pembiayaan yang membaik. Industri pengolahan mencatat NPL 2,49 persen, real estate 0,69 persen, sedangkan sektor pengangkutan dan pergudangan berada di level 0,77 persen.
OJK pun mendorong perbankan memperluas pembiayaan ke sektor produktif yang memiliki prospek pertumbuhan sekaligus risiko yang terukur.
Perhatian juga diarahkan kepada BPR dan BPRS. Hingga Juni 2026, aset industri tersebut mencapai Rp33,18 triliun atau tumbuh 1,65 persen, dengan kredit Rp24,77 triliun atau tumbuh 2,81 persen. Namun, NPL gross meningkat dari 13,27 persen menjadi 15,64 persen. Kondisi itu ikut menekan laba yang turun 52,61 persen menjadi Rp80 miliar.
Sementara itu, pasar modal Jabar tetap bergairah. Jumlah investor berdasarkan Single Investor Identification (SID) mencapai 5,78 juta atau 20,02 persen dari total nasional, tertinggi di Indonesia. Nilai transaksi saham investor Jabar mencapai Rp42,67 triliun.
Di tengah pertumbuhan tersebut, OJK juga memperkuat perlindungan konsumen. Sepanjang Januari-Juni 2026, sebanyak 10.881 kegiatan edukasi keuangan digelar dengan 4,2 juta peserta. Hingga Juni, terdapat 1.142 pengaduan terkait PUJK dan 4.644 aduan pinjaman online ilegal.
OJK menegaskan penguatan pengawasan, literasi, dan perlindungan konsumen akan terus dilakukan agar sektor jasa keuangan tidak hanya tumbuh, tetapi juga mampu menopang ekonomi Jawa Barat secara berkelanjutan.








