Kuningan (BRS) – Di tengah tekanan ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik yang belum mereda, prospek ekonomi Indonesia pada 2026 masih dinilai berada di jalur positif. Namun, Bank Indonesia (BI) mengingatkan Jawa Barat (Jabar) untuk tidak lengah, terutama dalam mengantisipasi lonjakan permintaan pangan dan menjaga keseimbangan pasokan antarwilayah.
Kepala Bank Indonesia Perwakilan Jawa Barat, Muhamad Nur, menegaskan bahwa sektor industri pengolahan tetap menjadi penopang utama ekonomi nasional. Industri otomotif, khususnya kendaraan listrik, disebut sebagai peluang baru yang dapat menjaga kinerja ekspor Indonesia di tengah perubahan arah kebijakan global.
“Industri hijau seperti kendaraan listrik justru membuka harapan agar ekspor kita tetap eksis. Meski begitu, komoditas berbasis sumber daya alam masih perlu diwaspadai dampaknya akibat dinamika geopolitik global,” kata Nur usai menghadiri Pasamoan Agung bertema Sinergi Pengendalian Inflasi Pangan dan Perluasan Digitalisasi Menghadapi Ramadan–Idulfitri 2026 di Kabupaten Kuningan, Kamis (5/2/2026).
Menurutnya, tuntutan global terhadap keberlanjutan menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat basis produksi domestik dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah. Transformasi menuju ekonomi hijau dinilai tidak hanya relevan secara global, tetapi juga strategis bagi daya saing jangka panjang daerah.
Di sisi lain, tantangan serius justru datang dari sektor pangan. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini telah menjangkau lebih dari 3.000 dapur diproyeksikan mendorong lonjakan permintaan bahan pangan secara signifikan. Jawa Barat, sebagai salah satu lumbung pangan nasional, memiliki peluang besar, namun juga risiko jika tidak diantisipasi sejak dini.
“Kalau tidak disiapkan, permintaan bisa jauh lebih tinggi dibandingkan suplai,” tegasnya.
Untuk itu, BI Jawa Barat mendorong penguatan ekonomi hijau berbasis UMKM, khususnya di sektor pertanian berkelanjutan. Relaksasi pembiayaan jangka panjang, penguatan likuiditas, serta koordinasi dengan perbankan terus dilakukan agar sektor strategis mendapat dukungan optimal.
Nur mencontohkan praktik baik di Ciwidey, Kabupaten Bandung, di mana pelaku usaha hortikultura mampu meningkatkan produksi melalui intensifikasi lahan, pemanfaatan greenhouse, penggunaan bibit unggul, serta pelibatan petani muda. Model ini dinilai efektif karena mampu memenuhi kebutuhan MBG tanpa mengganggu pasokan ke pasar tradisional maupun modern.
“Ekstensifikasi lahan semakin sulit, sehingga produktivitas harus ditingkatkan lewat teknologi,” katanya.
Dari sisi ketahanan pangan, neraca pangan Jawa Barat saat ini masih berada dalam kondisi surplus. Meski demikian, BI menyoroti komoditas tertentu yang masih rentan berfluktuasi, seperti telur ayam dan susu, serta pentingnya distribusi pangan yang merata antar kabupaten dan kota.
“Kita tidak hanya bicara antarprovinsi, tapi juga intra kabupaten dan kota. Jangan sampai daerah penghasil justru mengalami defisit,” pungkas Nur.
Dengan kombinasi transformasi industri hijau, penguatan UMKM, dan pengelolaan pangan berbasis wilayah, Jawa Barat dinilai memiliki fondasi kuat untuk menjaga optimisme ekonomi 2026, asal mampu membaca risiko sejak dini dan bergerak cepat.















