Bandung (BRS) – Kota Bandung kembali menjadi panggung bagi para atlet panjat tebing terbaik Indonesia. Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia, lebih dari 200 atlet ambil bagian dalam EIGER Independence Sport Climbing Competition (EISCC) ke-17 yang digelar di EIGER Adventure Flagship Store, Jalan Sumatra, Kota Bandung, Jumat (14/8).
Kompetisi tahunan ini tak sekadar menjadi ajang adu kemampuan memanjat dinding. EISCC juga mempertemukan atlet nasional, komunitas, hingga pegiat panjat tebing dari berbagai daerah dalam satu perayaan olahraga dan semangat kemerdekaan.
Salah satu perhatian utama tertuju pada Putra Tri Ramadani atau Srondeng. Atlet panjat tebing Indonesia itu datang dengan status juara dunia setelah pada Juni 2026 meraih medali emas nomor lead dalam World Climbing Series di Prague.
Prestasi tersebut menjadi catatan penting karena nomor lead membutuhkan kombinasi kekuatan fisik, ketahanan, teknik, konsentrasi, serta kemampuan membaca jalur. Srondeng bahkan mampu mengungguli sejumlah atlet papan atas dunia seperti Alberto Gines Lopez, Neo Suzuki, dan Sorato Anraku.
Di Bandung, Srondeng kembali akan menunjukkan kemampuannya di nomor lead. Ia bersaing bersama sejumlah atlet berprestasi lainnya, seperti Alma Ariella, Sukma Lintang, Raji’ah Sallsabillah, Rahmad Adi, hingga Raharjati Nursamsa.
Ketua Pelaksana EISCC 2026 Nara Witaraga mengatakan, kompetisi tahun ini sengaja dibuat lebih inklusif agar panjat tebing tidak hanya menjadi arena bagi atlet profesional.
“EISCC tidak hanya menjadi panggung bagi atlet profesional. Ada kategori Speed Rookie untuk mahasiswa pencinta alam, Spray Challenge untuk peserta non-atlet, serta Fun Boulder dengan beragam doorprize bagi masyarakat yang hadir,” kata Nara.
Menurutnya, antusiasme peserta dari berbagai daerah menunjukkan olahraga panjat tebing semakin berkembang. Komunitas, klub, hingga sekolah panjat tebing turut mengirimkan atlet untuk berkompetisi.
“Para atlet nonprofesional datang dari lokasi yang jauh. Komunitas panjat, klub panjat, bahkan sekolah-sekolah panjat dari banyak daerah mendaftarkan timnya. Semoga EISCC memberikan ruang yang baik dan positif bagi ekosistem panjat tebing Indonesia,” ujarnya.
Perjalanan EISCC sendiri tidak terlepas dari sejarah perkembangan panjat tebing nasional. EIGER mulai membangun kedekatan dengan olahraga ini sejak ekspedisi Gunung Eiger pada 1986 yang digagas Harry Suliztiarto.
Sejarah tersebut berlanjut dengan berdirinya FPTGI pada 1988 yang kemudian menjadi FPTI pada 1990. Pada 2001, EIGER membangun papan panjat modern berbahan resin berstandar internasional sekaligus menggelar EISCC.
EIGER Adventure Technical Advisor sekaligus salah satu pendiri FPTI, Mamay S. Salim, mengatakan kompetisi tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan panjang panjat tebing Indonesia.
“Sejak itu, EIGER dan panjat tebing Indonesia tumbuh bersama. Dari 2001 hingga edisi ke-17 pada 2026, EISCC rutin digelar setiap 17 Agustus dan telah melahirkan banyak atlet berprestasi dunia,” tutur Mamay.
Kini, tradisi tersebut berlanjut dengan hadirnya generasi baru atlet Indonesia yang membawa nama Merah Putih ke pentas internasional. Masyarakat juga dapat menyaksikan EISCC ke-17 secara gratis dan terbuka untuk umum sebagai bagian dari perayaan kemerdekaan melalui olahraga.















