Bandung (BRS) – Ada ungkapan dalam bahasa Sunda yang akrab di telinga masyarakat, yakni “Lain kumaha engke, tapi engke kumaha.” Kalimat sederhana itu mengandung pesan mendalam bahwa masa depan tidak cukup hanya dipikirkan ketika sudah tiba, tetapi harus dipersiapkan sejak sekarang. Filosofi tersebut relevan dengan pentingnya membangun perencanaan keuangan sejak dini, terlebih di tengah perkembangan teknologi digital yang membuat berbagai layanan keuangan semakin mudah diakses.
Pesan seperti itulah yang terus didorong Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat melalui penguatan literasi keuangan bagi generasi muda. OJK menilai kemampuan mengelola keuangan harus tumbuh seiring dengan meningkatnya pemanfaatan layanan digital agar masyarakat, khususnya mahasiswa dan pelajar, tidak mudah terjebak perilaku konsumtif, pinjaman online ilegal, maupun praktik keuangan ilegal lainnya.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui seminar literasi keuangan bertajuk “Pinjol dan Doom Spending” hasil kolaborasi OJK Jawa Barat, Republika, dan Universitas Islam Bandung (Unisba), belum lama ini. Kegiatan yang digelar di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unisba itu diikuti ratusan mahasiswa dan pelajar SMA yang berdiskusi mengenai tantangan mengelola keuangan di era digital.
Kepala OJK Provinsi Jawa Barat, Darwisman, mengatakan kemajuan teknologi memang memberikan kemudahan dalam mengakses berbagai produk dan layanan keuangan. Namun, kemudahan itu harus diimbangi dengan pemahaman yang baik agar masyarakat mampu mengambil keputusan finansial secara bijak.
“Gunakan pinjaman hanya untuk kebutuhan yang produktif, seperti pendidikan atau pengembangan usaha, bukan untuk memenuhi gaya hidup sesaat yang berpotensi menimbulkan masalah keuangan. Pastikan setiap layanan keuangan yang digunakan memenuhi prinsip 2L, yaitu Legal dan Logis,” ujar Darwisman.
Ia menjelaskan, prinsip legal berarti layanan tersebut telah berizin dan diawasi OJK, sedangkan logis berarti masyarakat memahami manfaat, keuntungan, maupun risiko dari produk keuangan yang digunakan.
Menurut Darwisman, penguatan literasi keuangan menjadi semakin penting mengingat tingginya penggunaan layanan keuangan digital di Jawa Barat. Berdasarkan data OJK hingga Desember 2025, outstanding pinjaman daring berizin di Jawa Barat mencapai Rp23,94 triliun dengan lebih dari 7,15 juta rekening aktif. Sementara tingkat wanprestasi atau kredit macet di atas 90 hari tercatat sebesar 3,29 persen.
Selain pinjaman online ilegal, masyarakat juga diminta mewaspadai berbagai ancaman kejahatan digital seperti investasi ilegal, judi online, love scamming, hingga penipuan melalui telepon maupun pesan singkat yang mengatasnamakan institusi tertentu.
Sementara itu, Rektor Unisba, A. Harits Nu’man, menyambut baik kolaborasi tersebut. Menurutnya, kampus memiliki tanggung jawab membekali mahasiswa dengan kemampuan mengelola keuangan sebagai bekal menghadapi kehidupan setelah lulus.
“Mahasiswa harus menjadi agen perubahan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijak dalam mengelola keuangan. Dengan literasi keuangan yang kuat, mereka dapat membangun masa depan yang lebih berdaya saing dan berkontribusi bagi bangsa,” katanya.
Dalam seminar tersebut, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai perlindungan konsumen, bahaya aktivitas keuangan ilegal, hingga aspek psikologis yang kerap memengaruhi perilaku konsumtif. OJK bersama Satgas PASTI terus mengajak masyarakat memanfaatkan layanan keuangan yang legal serta melaporkan berbagai aktivitas keuangan ilegal melalui kanal resmi yang tersedia.
Menutup kegiatan, Darwisman menegaskan bahwa perencanaan keuangan bukan sekadar soal menabung atau membedakan layanan legal dan ilegal. Lebih dari itu, literasi keuangan merupakan kebiasaan mengelola pendapatan secara disiplin, mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, serta berani mengambil keputusan finansial yang bertanggung jawab. Dengan kebiasaan tersebut dipupuk sejak dini, generasi muda diharapkan mampu membangun ketahanan finansial yang kuat sekaligus siap menghadapi tantangan ekonomi di era digital.
Gambar: Ilustrasi AI








