QRIS Makin Merambah Aktivitas Warga Jabar, BI Bidik 15 Juta Pengguna Hingga Akhir 2026

Bandung (BRS) – Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Jawa Barat terus berkembang dan merambah semakin banyak aktivitas masyarakat. Bank Indonesia (BI) Jawa Barat mencatat jumlah pengguna QRIS telah mencapai 14,49 juta hingga triwulan II 2026 dan menargetkan angka tersebut meningkat menjadi 15 juta pengguna hingga akhir tahun.

Perluasan penggunaan QRIS tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam puncak Pekan QRIS Nasional (PQN) 2026 Jawa Barat melalui QRISKeun The Hallway Space di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Senin (17/8).

Kegiatan yang digelar bertepatan dengan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia itu menjadi penutup rangkaian PQN 2026 yang sebelumnya menyasar berbagai kelompok masyarakat, mulai dari pedagang pasar, pelaku UMKM, mahasiswa, pemerintah daerah, komunitas, hingga sektor pariwisata.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Barat Junanto Herdiawan mengatakan, rangkaian tersebut dirancang untuk menunjukkan bahwa QRIS bukan hanya alat pembayaran, tetapi dapat digunakan dalam beragam aktivitas ekonomi masyarakat.

“Pekan QRIS Nasional menjadi momentum bagi kami untuk semakin mendekatkan QRIS kepada masyarakat. Melalui semangat QRIS-na Hiji, Mangpaatna Réa, kami ingin menunjukkan bahwa satu standar pembayaran dapat memberikan banyak manfaat dan hadir di berbagai aktivitas masyarakat,” kata Junanto.

Menurutnya, perluasan penggunaan QRIS menjadi penting seiring berkembangnya kebutuhan transaksi digital masyarakat. Di Jawa Barat, perkembangan tersebut tercermin dari tingginya pertumbuhan transaksi QRIS.

“Pada triwulan II 2026, volume transaksi QRIS di Jawa Barat mencapai 1,46 miliar transaksi, tumbuh 187,06 persen secara tahunan, dengan nominal sebesar Rp125,35 triliun atau tumbuh 135,73 persen,” jelas orang yang akrab disapa Pak Ijun ini.

Dari sisi pengguna, lanjut Pak Ijun, Jawa Barat tercatat memiliki 14,49 juta pengguna QRIS atau sekitar 22,99 persen dari total pengguna secara nasional. Angka tersebut sekaligus menjadi yang tertinggi di Indonesia.

Sementara jumlah merchant QRIS di Jawa Barat telah mencapai 9,87 juta merchant, dengan pangsa 22,01 persen secara nasional.

“Perkembangan ini menunjukkan bahwa QRIS semakin diterima dan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat Jawa Barat,” jelas Pak Ijun.

Dengan capaian tersebut, BI Jawa Barat masih melihat ruang pertumbuhan yang cukup besar. Targetnya, jumlah pengguna QRIS di Jawa Barat dapat menembus sekitar 15 juta pengguna hingga akhir 2026.

“Target kita adalah sampai dengan sekitar 15 juta di Jawa Barat,” jelasnya.

Diketahui, perluasan QRIS selama PQN 2026 dilakukan melalui berbagai pendekatan. Di sektor perdagangan, BI menghadirkan QRISKeun Pasar Parahyangan melalui program Pasar PAKAI atau Praktis, Aman, Kekinian, Andal dan Inklusif. Program serupa juga diperkuat melalui QRISKeun Pasar Modern Batununggal.

Tidak hanya menyasar pedagang, edukasi QRIS juga diarahkan kepada generasi muda. Melalui QRISKeun Universitas Padjadjaran dan STIE Pasundan, BI memberikan edukasi mengenai QRIS, pelindungan konsumen melalui PeKA (Peduli, Kenali dan Adukan), serta penggunaan media sosial secara bijak kepada lebih dari 9.000 mahasiswa.

Sementara di tingkat pemerintah daerah, QRISKeun Pemda Kabupaten Cianjur menjadi bagian dari penguatan digitalisasi sistem pembayaran melalui High Level Meeting TPID dan TP2DD. Edukasi juga diperluas kepada pelaku usaha melalui QRISKeun UMKM Kabupaten Cianjur.

Sektor pariwisata menjadi ruang lain yang terus diperluas. Melalui QRISKeun Wisata Bandung, pengemudi dan pemandu Bandung Tour on Bus (Bandros) mendapatkan edukasi mengenai QRIS dan pelindungan konsumen.

Pemanfaatan QRIS kemudian diterapkan langsung melalui QRISKeun Bandros pada 16–17 Agustus 2026. Masyarakat dapat menikmati perjalanan wisata dengan tarif khusus melalui pembayaran menggunakan QRIS.

“Jadi, semua tenant di The Hallway Space ini, termasuk UMKM, sudah dapat menggunakan QRIS. Itu salah satu yang kami harapkan,” tegas Pak Ijun.

Menurutnya, perkembangan QRIS juga sejalan dengan potensi ekonomi kreatif Jawa Barat, khususnya Bandung. Ruang kreatif seperti The Hallway Space dinilai memiliki posisi penting karena banyak melibatkan pelaku UMKM dan generasi muda.

“Industri kreatif ini salah satu sumber pertumbuhan ekonomi karena bagian dari pemberdayaan UMKM. Ini juga digerakkan oleh anak-anak muda, Gen Z. Bandung dan Jawa Barat punya kekuatan salah satunya di industri kreatif,” jelasnya.

Di The Hallway Space, masyarakat diajak melihat langsung bagaimana pembayaran digital dapat menyatu dengan aktivitas ekonomi dan ruang kreatif. Konsep tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa QRIS dapat digunakan lintas sektor dan tidak terbatas pada jenis usaha tertentu.

“QRIS itu cepat, mudah, murah, aman, dan andal. Itu yang paling penting,” ucapnya.

Pak Ijun juga menegaskan, berakhirnya rangkaian PQN 2026 bukan berarti kampanye penggunaan QRIS di Jawa Barat ikut berhenti. Edukasi dan perluasan akseptasi akan terus dilakukan dengan tetap menekankan aspek keamanan dan pelindungan konsumen.

“Setelah rangkaian Pekan QRIS Nasional berakhir, semangat QRISKeun Jabar tentu tidak berhenti di sini. Kami berharap penggunaan QRIS terus menjadi bagian dari aktivitas masyarakat sehari-hari dengan tetap mengedepankan keamanan dan pelindungan konsumen,” pungkasnya.

Melalui semangat “QRIS-na Hiji, Mangpaatna Réa”, BI Jawa Barat ingin memastikan satu standar pembayaran tersebut tidak hanya semakin banyak digunakan, tetapi juga memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat, UMKM, industri kreatif, pariwisata, hingga perekonomian Jawa Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *