KBB (BRS) – Kopi dari kawasan Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, mulai memperkuat jejaknya di pasar global. Java Halu Coffee melakukan ekspor perdana ke Eropa dengan mengirimkan 10 ton kopi senilai sekitar Rp2,5 miliar melalui buyer Falcon Coffees.
Ekspor tersebut menjadi salah satu hasil pengembangan usaha dan pendampingan yang melibatkan berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia (BI) Jawa Barat, pemerintah daerah, serta para petani kopi di kawasan Gunung Halu.
Owner Java Halu Coffee, Rani Mayasari, mengatakan perjalanan produknya menuju pasar internasional bukan proses yang instan. Java Halu Coffee telah memulai ekspor sejak 2019 dan secara bertahap memperluas pasar ke Amerika, Eropa, Timur Tengah, Australia, hingga Asia.
“Di balik karung kopi yang kami kirim ke berbagai negara, ada peran penting dari banyak pihak, terutama para petani dan masyarakat sekitar yang ikut terlibat dalam proses produksi,” kata Rani.
Menurut Rani, Java Halu saat ini menggandeng sekitar 20 petani yang tergabung dalam kelompok Halu Farm dari sekitar 200 kepala keluarga. Selain itu, sebagian besar pekerja yang terlibat dalam proses pascapanen merupakan perempuan.
Para pekerja perempuan tersebut antara lain melakukan penyortiran kopi cherry. Dalam sehari, proses penyortiran dapat menangani hingga lima ton kopi, mulai pagi hingga sore.
“Sebanyak 80 persen pekerja petani di Java Halu adalah perempuan. Jadi, ketika kopi ini diekspor, yang ikut bergerak bukan hanya bisnisnya, tetapi juga ekonomi masyarakat di sekitar Gunung Halu,” ujarnya.
Rani menuturkan, perluasan pasar internasional juga masih akan dilanjutkan. Pada akhir Agustus 2026, Java Halu Coffee menargetkan ekspor ke Tiongkok. Sebelumnya, Java Halu telah melakukan ekspor ke Jepang pada 2024.
“Hari ini kami bersyukur sebagai warga Jawa Barat bisa mengolah kopi dari Desa Rejeki dan membawanya ke pasar dunia,” katanya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Jawa Barat, Junanto Herdiawan, mengatakan penguatan ekspor menjadi penting karena merupakan salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi daerah. Menurutnya, kinerja ekonomi Jawa Barat pada triwulan II 2026 tumbuh 5,7 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.
“Empat mesin pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi, investasi, belanja pemerintah, dan ekspor. Konsumsi, investasi, dan belanja pemerintah sudah bergerak. Karena itu, ekspor perlu terus kita dorong agar pertumbuhan ekonomi Jawa Barat semakin kuat,” ujar Junanto.
BI, lanjut Junanto, tidak ingin UMKM binaan hanya bertahan, tetapi mampu naik kelas hingga menembus pasar ekspor. Java Halu Coffee menjadi salah satu contoh bagaimana pendampingan dapat memperkuat kapasitas UMKM sekaligus membuka akses pasar internasional.
Pendampingan tersebut dilakukan secara bertahap, mulai dari fasilitasi promosi melalui World of Coffee Jakarta 2025, business matching dengan Asian Coffee Australia, kurasi menuju World of Coffee San Diego dan Bangkok 2026, hingga dukungan alat pengolahan untuk memperkuat kapasitas produksi dan kualitas kopi.
Sedamgkan Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan menilai kopi, teh, dan kakao merupakan komoditas strategis yang perlu terus dikembangkan melalui inovasi, hilirisasi, penguatan merek, serta perluasan akses pasar.
“Jawa Barat harus terus tampil sebagai daerah yang tangguh, adaptif, dan inovatif di tengah dinamika ekonomi global,” kata Erwan.
Ia menyebut nilai ekspor Jawa Barat pada semester I 2026 telah mencapai sekitar US$19,6 miliar. Capaian tersebut diharapkan terus meningkat hingga akhir tahun, seiring bertambahnya komoditas dan pelaku usaha Jawa Barat yang mampu masuk ke pasar internasional.
Bagi BI Jawa Barat, keberhasilan Java Halu menunjukkan bahwa UMKM dapat menembus pasar global ketika didukung ekosistem yang kuat. Kolaborasi pemerintah, petani, pelaku usaha, lembaga pendamping, dan mitra bisnis menjadi kunci agar produk unggulan daerah tidak berhenti di pasar domestik, tetapi mampu membawa identitas Jawa Barat ke dunia.








