Cirebon (BRS) – Maraknya kasus penipuan, investasi ilegal, hingga pinjaman daring bermasalah mendorong Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat kolaborasi dengan media massa. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Training of Trainer (ToT) Duta Literasi Keuangan yang digelar di Kota Cirebon pada 10-12 Juni 2026.
Sebanyak 25 jurnalis, reporter, dan redaktur dari berbagai media di Indonesia mengikuti pelatihan tersebut. Mereka dipersiapkan menjadi duta literasi keuangan yang mampu menyebarluaskan edukasi kepada masyarakat melalui pemberitaan maupun berbagai platform digital.
Kepala Grup Komunikasi Publik OJK, Sekar Putih Djarot, menegaskan bahwa media memiliki peran strategis dalam menghadapi meningkatnya ancaman kejahatan keuangan yang kini semakin mudah menjangkau masyarakat melalui teknologi digital.
Menurut data OJK, Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah laporan dugaan penipuan keuangan tertinggi di Indonesia. Hingga awal tahun 2026, tercatat sebanyak 88.943 laporan pengaduan diterima dari wilayah tersebut.
“Transaksi keuangan di Jawa Barat sangat tinggi dibandingkan daerah lain. Karena itu, peran media menjadi sangat penting untuk membantu meningkatkan literasi masyarakat agar tidak mudah menjadi korban penipuan,” kata Sekar saat membuka acara, Rabu (10/6/2026).
Ia menjelaskan, informasi yang disampaikan media memiliki jangkauan luas dan mampu membentuk kesadaran publik secara cepat. Karena itu, wartawan dinilai dapat menjadi mitra strategis OJK dalam mengedukasi masyarakat mengenai layanan keuangan yang legal dan aman.
Dalam pelatihan tersebut, peserta dibekali pemahaman mengenai literasi dan inklusi keuangan, modus investasi ilegal, pinjaman daring ilegal, judi online, hingga berbagai bentuk kejahatan keuangan yang berkembang di era digital.
Tak hanya menerima materi, peserta juga didorong untuk menghasilkan konten edukatif yang mudah dipahami masyarakat sehingga pesan-pesan literasi keuangan dapat menjangkau lebih banyak kalangan.
“Melalui ToT ini, peserta akan memiliki peran baru sebagai edukator yang dapat memberikan pemahaman langsung kepada masyarakat di daerah masing-masing,” ujarnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala OJK Cirebon, Tesar Pratama Gustarsjidi, mengatakan perkembangan teknologi keuangan membawa dua sisi yang berbeda. Di satu sisi memberikan kemudahan transaksi, namun di sisi lain membuka peluang munculnya berbagai modus penipuan baru.
Menurutnya, masyarakat kini dapat melakukan hampir seluruh aktivitas keuangan melalui telepon seluler, mulai dari membuka rekening hingga berbelanja. Namun kemudahan tersebut sering dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk melakukan penipuan.
“Semua bisa dilakukan lewat ponsel. Namun banyak oknum yang menyalahgunakan kemudahan ini untuk merugikan masyarakat,” katanya.
Tesar juga mengungkapkan bahwa sepanjang 2025, OJK Cirebon menerima hampir 2.000 pengaduan masyarakat terkait berbagai persoalan jasa keuangan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa edukasi masih menjadi pekerjaan besar yang harus dilakukan bersama.
Karena itu, OJK berharap para peserta ToT dapat menjadi penggerak literasi keuangan di daerah masing-masing. Dengan dukungan media, informasi mengenai investasi legal, pengelolaan keuangan yang sehat, serta kewaspadaan terhadap penipuan diharapkan dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
“Ini bukan sekadar pelatihan, tetapi awal kolaborasi jangka panjang untuk melindungi masyarakat dari berbagai bentuk kejahatan keuangan,” tegas Tesar.
Melalui sinergi bersama media, OJK optimistis upaya meningkatkan literasi keuangan dapat berjalan lebih efektif sekaligus menjadi benteng penting dalam melindungi masyarakat dari ancaman penipuan dan kejahatan keuangan digital yang terus berkembang.















