Bandung (BRS) – Penguatan produksi obat di dalam negeri menjadi salah satu langkah untuk memperkuat ketahanan rantai pasok kesehatan Indonesia. Upaya tersebut dilakukan PT Kimia Farma (Persero) Tbk. (KAEF), bagian dari Bio Farma Group, melalui pengembangan dan produksi versi generik baloxavir marboxil, obat antivirus untuk pengobatan influenza.
Kimia Farma memperoleh sublisensi (sublicense) dari Medicines Patent Pool (MPP) dalam kerangka voluntary licensing agreement antara MPP dan Roche. Melalui kerja sama tersebut, Kimia Farma mendapatkan akses terhadap sejumlah dukungan teknis untuk mengembangkan produk baloxavir marboxil secara lokal.
Dukungan itu mencakup technical data package, produk referensi untuk studi bioekuivalensi, serta dukungan teknis lainnya yang ditujukan untuk membantu proses pengembangan produk dan memperoleh persetujuan regulatori.
Bagi Bio Farma Group, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas industri farmasi nasional, khususnya dalam pengembangan produk strategis dan penguatan kemampuan manufaktur di dalam negeri.
Dalam keterangannya pada awal pekan ini, Direktur Utama PT Bio Farma (Persero), Shadiq Akasya, mengatakan penguatan ketahanan kesehatan membutuhkan kemampuan industri nasional yang tidak hanya bertumpu pada ketersediaan produk.
“Penguatan ketahanan kesehatan tidak hanya membutuhkan ketersediaan produk, tetapi juga kemampuan industri nasional untuk mengembangkan teknologi, memperkuat manufaktur, memenuhi persyaratan mutu dan regulasi, serta membangun rantai pasok yang semakin tangguh,” ucapnya.
Shadiq menambahkan, kepercayaan yang diperoleh Kimia Farma melalui sublisensi baloxavir marboxil menjadi momentum untuk memperkuat kemampuan industri farmasi Indonesia sekaligus memperluas kontribusinya dalam ekosistem kesehatan global.
“Kepercayaan yang diperoleh Kimia Farma melalui sublisensi baloxavir marboxil dari Medicines Patent Pool dalam kerangka voluntary licensing MPP dan Roche merupakan pencapaian strategis bagi Bio Farma Group. Hal ini menunjukkan semakin kuatnya kapabilitas industri farmasi nasional untuk berpartisipasi dalam kolaborasi kesehatan global sekaligus memperkuat kesiapan Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan kesehatan di masa mendatang,” tambah Shadiq.
Pengembangan baloxavir secara lokal juga berkaitan dengan upaya membangun rantai pasok obat yang lebih terdiversifikasi. Inisiatif MPP dan Roche sendiri merupakan bagian dari upaya global untuk membangun kapasitas produksi obat yang lebih beragam secara geografis sebelum terjadi keadaan darurat kesehatan.
Dengan kapasitas produksi yang semakin tersebar, rantai pasok diharapkan dapat menjadi lebih tangguh dalam menghadapi potensi wabah dan pandemi di masa mendatang.
Dalam program tersebut, Kimia Farma menjadi satu-satunya perusahaan farmasi asal Indonesia yang memperoleh sublisensi di antara 11 manufaktur dari sembilan negara. Selain Indonesia, manufaktur yang memperoleh sublisensi berasal dari Brasil, Tiongkok, India, Malaysia, Nigeria, Uganda, Ukraina, dan Vietnam.
Dalam proses seleksi, MPP mempertimbangkan sejumlah aspek, termasuk kapabilitas teknis dan regulatori serta komitmen perusahaan untuk mengembangkan dan memproduksi produk baloxavir yang terjamin mutunya.
Sementara itu, Direktur Komersial PT Kimia Farma (Persero) Tbk., Hanadi Setiarto, mengatakan kerja sama tersebut menjadi kesempatan bagi perusahaan untuk memperkuat kemampuan di berbagai bidang yang berkaitan dengan pengembangan obat.
“Keterlibatan Kimia Farma dalam perjanjian sublisensi ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat kapabilitas industri farmasi nasional sekaligus mendukung kesiapsiagaan Indonesia dalam menghadapi berbagai kondisi kesehatan di masa mendatang. Melalui kolaborasi dengan mitra global, kami memperoleh kesempatan untuk memperkuat kemampuan di bidang pengembangan, regulasi, dan manufaktur, serta memberikan kontribusi terhadap ketahanan kesehatan nasional,” kata Hanadi.
Pengembangan baloxavir marboxil secara lokal diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi obat di dalam negeri sekaligus memperkuat diversifikasi rantai pasok obat strategis.
Langkah tersebut juga diarahkan untuk secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri, sembari meningkatkan kemampuan industri farmasi nasional dalam memenuhi kebutuhan kesehatan.
Di sisi lain, keterlibatan Kimia Farma dalam kerja sama global tersebut membuka peluang bagi industri farmasi Indonesia untuk semakin terhubung dengan rantai pasok kesehatan internasional. Kimia Farma berkomitmen mengembangkan dan memasok generik baloxavir marboxil ke pasar yang tercakup dalam lisensi dengan tetap memenuhi ketentuan regulasi yang berlaku.
Sebagai holding BUMN Farmasi dan bagian dari ekosistem Danantara Indonesia, Bio Farma Group terus mendorong penguatan kapabilitas industri melalui pengembangan teknologi, manufaktur, regulasi, serta kolaborasi dengan mitra kesehatan global.
Penguasaan kapabilitas tersebut menjadi bagian dari pengembangan industri kesehatan nasional, termasuk melalui peningkatan produksi dalam negeri dan diversifikasi rantai pasok obat strategis.












