BRIN Dorong Riset Lawan Penyakit Parasit Pada Ikan Budidaya

Bandung (BRS) – Penyakit akibat infeksi parasit masih menjadi salah satu ancaman terbesar dalam dunia budidaya perikanan. Selain menurunkan kesehatan dan produktivitas ikan, serangan parasit juga dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang besar bagi para pelaku usaha perikanan.

Kondisi ini mendorong perlunya pengembangan teknologi dan riset yang mampu menghasilkan strategi pengendalian penyakit yang lebih efektif sekaligus ramah lingkungan.

Hal tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam webinar internasional yang diselenggarakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP). Kegiatan tersebut mempertemukan para peneliti dari Indonesia dan luar negeri untuk membahas perkembangan terbaru mengenai respons imun dan molekuler ikan terhadap infeksi parasit.

Dari keterangan resmi BRIN, Sabtu (4/7/2026), Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, mengatakan penyakit parasit hingga kini masih menjadi tantangan serius bagi sektor akuakultur dunia. Salah satu yang paling merugikan adalah white spot disease atau ichthyophthiriasis yang disebabkan oleh protozoa Ichthyophthirius multifiliis.

“White spot merupakan salah satu penyakit parasit paling penting pada ikan air tawar di dunia, sementara hingga kini belum tersedia vaksin yang sepenuhnya efektif,” kata Puji.

Ia menjelaskan, pengendalian penyakit tersebut selama ini masih banyak mengandalkan penggunaan bahan kimia. Meski efektif dalam kondisi tertentu, cara tersebut dinilai berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan maupun kesehatan. Karena itu, menurutnya, pendekatan berbasis riset dan inovasi menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

Puji berharap webinar tersebut tidak hanya menjadi wadah berbagi hasil penelitian terbaru, tetapi juga mampu memperkuat kolaborasi internasional serta meningkatkan kapasitas para peneliti dalam mengembangkan solusi bagi permasalahan kesehatan ikan.

Hal senada disampaikan Kepala Pusat Riset Perikanan Budidaya Air Tawar BRIN, Fahrurrozi. Menurutnya, pemahaman mengenai hubungan antara ikan sebagai inang dengan parasit merupakan kunci untuk menciptakan sistem budidaya yang sehat dan berkelanjutan.

“Infeksi parasit dapat menghambat pertumbuhan ikan, melemahkan sistem imun, meningkatkan tingkat kematian, hingga menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan,” jelasnya.

Melalui kegiatan tersebut, BRIN berharap lahir berbagai gagasan dan inovasi baru yang dapat mendukung upaya pencegahan penyakit ikan secara lebih efektif sehingga mampu meningkatkan produktivitas sektor budidaya perikanan.

Dalam sesi ilmiah, Research and Development Biologist Snaptun A/S, Denmark, Heidi Mathiessen, memaparkan hasil penelitiannya mengenai mekanisme ketahanan alami ikan terhadap white spot disease. Ia menjelaskan bahwa kemampuan ikan melawan infeksi sangat dipengaruhi oleh respons imun bawaan yang bekerja pada fase awal serangan parasit.

Menurut Heidi, sel-sel imun seperti neutrofil dan makrofag memiliki peran penting dalam membentuk pertahanan awal tubuh ikan. Selain itu, kemajuan teknologi biologi molekuler seperti RNA sequencing, in vivo imaging, hingga penyuntingan gen berbasis CRISPR/Cas membuka peluang untuk mengidentifikasi gen-gen yang berperan dalam membangun ketahanan alami ikan terhadap infeksi.

Sementara itu, peneliti BRIN, Huria Marnis, mempresentasikan hasil penelitian mengenai analisis transkriptomik pada hati ikan kod Baltik (Gadus morhua) yang terinfeksi larva nematoda Contracaecum osculatum. Penelitian menggunakan teknologi RNA sequencing terhadap 20 sampel ikan tersebut menemukan sebanyak 2.084 gen mengalami perubahan ekspresi akibat infeksi parasit.

“Analisis transkriptomik menunjukkan bahwa infeksi Contracaecum osculatum memengaruhi ekspresi gen yang berkaitan dengan pertumbuhan, metabolisme, dan respons imun. Temuan ini menunjukkan adanya dampak fisiologis yang signifikan pada ikan kod Baltik,” ungkap Huria.

Temuan tersebut memperkuat pemahaman bahwa infeksi parasit tidak hanya menyerang sistem kekebalan tubuh ikan, tetapi juga memengaruhi proses metabolisme dan pertumbuhan. Hasil riset ini diharapkan menjadi pijakan penting dalam mengembangkan metode pengendalian penyakit yang lebih tepat sasaran, sehingga budidaya perikanan di masa depan semakin produktif, berkelanjutan, dan mampu menekan kerugian akibat serangan parasit.

 

Gambar : Ilustrasi Ternak Ikan Budidaya / dok: bisnisukm.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *