Bandung (BRS) – Satu tahun berjalan, angkot pintar Kota Bandung sudah buktikan kinerjanya. Layanan berjalan lancar dan disambut baik warga. Tapi Pemkot Bandung masih pusing soal harga armada listrik yang mahal.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut evaluasi setahun terakhir menunjukkan hasil positif. Dari sisi operasional, angkot pintar sudah sesuai harapan dan mampu melayani penumpang dengan baik.
“Hasil evaluasi menunjukkan secara operasional angkot pintar sudah sangat baik. Tetapi tantangannya ada pada biaya pengadaan. Harga angkot listrik bisa mencapai dua kali lipat dibandingkan angkot konvensional,” kata Farhan di Pendopo Kota Bandung, awal pekan ini.
Mahalnya harga kendaraan listrik jadi ganjalan utama. Harga satu unit angkot listrik disebut bisa dua kali lipat angkot konvensional. Kondisi ini membuat Pemkot belum bisa ekspansi armada secara cepat.
Untuk menjawab itu, Pemkot Bandung bersama Dishub Jabar, Dishub Kota Bandung, dan Kementerian Perhubungan sedang merancang skema pembiayaan. Tujuannya agar pengadaan armada bisa berkelanjutan tanpa membebani operator.
Armada baru rencananya tetap dioperasikan koperasi angkutan kota yang sudah lama jadi tulang punggung transportasi Bandung. Nama-nama seperti Kobutri, Kopamas, dan Kobanter disiapkan jadi operator utama transformasi ke angkutan ramah lingkungan.
Selain pengadaan, Pemkot juga mengkaji konvergensi kepemilikan angkot. Artinya menyatukan banyak pemilik kendaraan ke dalam satu badan usaha agar pengelolaan lebih efisien.
“Konvergensi masih terus dihitung. Menyatukan beberapa pemilik angkot menjadi satu entitas usaha bukan perkara mudah. Karena itu kami sedang menyusun model bisnis yang tepat,” kata Farhan.
Ia menegaskan, konvergensi hanya bisa jalan kalau ada subsidi jelas dan berkelanjutan. Pemkot Bandung, Pemprov Jabar, dan pemerintah pusat harus bareng-bareng turun tangan urusan pendanaan.
“Mesti ada bisnis model yang fix di mana nanti Pemerintah Kota Bandung, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi sama-sama memberikan subsidinya. Karena harus disubsidi, tidak mungkin tidak,” tuturnya.
Dengan model bisnis yang matang dan dukungan subsidi, Pemkot optimistis angkot pintar bisa terus jalan dan berkembang. Targetnya, transportasi publik Bandung makin modern, nyaman, dan ramah lingkungan.







