Len Garap Teknologi “Mata Malam”, Dorong Kemandirian Alutsista Nasional

Jakarta (BRS) – Upaya memperkuat kemandirian teknologi pertahanan nasional kembali diperkuat. PT Len Industri (Persero) menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengembangkan teknologi penglihatan malam atau Night Vision Goggle (NVG) serta perangkat pencitraan termal yang selama ini masih banyak bergantung pada produk luar negeri.

Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Kepala Pusat Riset Fotonika BRIN, Prof. Dr. Isnaeni, M.Sc., dan Direktur Teknologi & Manajemen Risiko PT Len Industri (Persero), Amalia Maya Fitri, Rabu (11/3/2026).

Kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk mempercepat penguasaan teknologi sensor optoelektronik yang menjadi komponen penting dalam sistem pertahanan modern.

Bagi Len Industri, proyek ini bukan sekadar pengembangan teknologi baru, tetapi bagian dari upaya memperkuat peran industri pertahanan nasional dalam menghadirkan solusi teknologi strategis yang diproduksi di dalam negeri.

Night Vision Goggle (NVG) sendiri merupakan perangkat yang memungkinkan pengguna melihat dalam kondisi gelap atau minim cahaya dengan memanfaatkan cahaya sisa maupun radiasi inframerah. Teknologi ini banyak digunakan dalam operasi militer malam hari, pengawasan wilayah perbatasan, hingga pengamanan objek vital.

Di tengah dinamika geopolitik global dan ketergantungan terhadap teknologi impor, penguasaan teknologi penglihatan malam menjadi salah satu kunci untuk menjaga kedaulatan sistem pertahanan. Karena itu, pengembangan NVG dan perangkat pencitraan termal di dalam negeri dinilai strategis untuk memastikan ketersediaan teknologi kritis bagi kebutuhan TNI dan aparat keamanan.

Dalam kolaborasi ini, BRIN berperan sebagai pusat riset yang mengembangkan teknologi dasar dan inovasi fotonika, sementara Len Industri bertanggung jawab pada aspek rekayasa sistem, industrialisasi, hingga integrasi teknologi menjadi produk siap pakai.

Sinergi tersebut diharapkan mampu mempercepat proses hilirisasi hasil riset nasional. Dengan demikian, inovasi yang selama ini berkembang di laboratorium dapat langsung diterjemahkan menjadi produk teknologi pertahanan yang dapat digunakan di lapangan.

Direktur Teknologi & Manajemen Risiko PT Len Industri (Persero) Amalia Maya Fitri menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan langkah konkret untuk memperkuat kemampuan teknologi pertahanan nasional.

“Kolaborasi ini penting untuk menghadirkan teknologi penglihatan malam dan pencitraan termal yang andal, kompetitif, dan siap digunakan di dalam negeri, sekaligus memperkuat ketahanan serta kemandirian teknologi pertahanan nasional,” ujarnya.

Selain memperkuat kemampuan operasional, pengembangan teknologi NVG di dalam negeri juga memberikan dampak strategis terhadap industri. Produksi lokal akan meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), menekan biaya pengadaan, serta memastikan dukungan teknis sepanjang siklus hidup produk tanpa bergantung pada pemasok luar negeri.

Lebih jauh, keberhasilan pengembangan teknologi ini juga berpotensi membuka peluang ekspor bagi industri pertahanan nasional. Dengan dukungan ekosistem riset dan industri yang semakin kuat, Len Industri menargetkan teknologi sensor optoelektronik buatan dalam negeri dapat bersaing di pasar regional hingga global.

Bagi Len, langkah ini menegaskan posisi perusahaan sebagai salah satu motor penggerak inovasi teknologi pertahanan nasional, sekaligus memperkuat ekosistem industri strategis Indonesia menuju kemandirian alutsista.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *