Transformasi Digital Jadi Syarat Radio Bertahan di Era Internet

Bandung (BRS) – Industri radio di Indonesia menghadapi tantangan besar di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Ledakan pengguna internet dan dominasi smartphone dalam kehidupan sehari-hari membuat radio dituntut untuk bertransformasi jika ingin tetap bertahan dan relevan di tengah persaingan media yang semakin ketat.

Ketua Umum Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Muhammad Rafiq menegaskan, perubahan pola konsumsi media masyarakat tidak lagi bisa dihindari. Saat ini, hampir seluruh aktivitas masyarakat dilakukan melalui perangkat digital, mulai dari bekerja, belajar, mencari informasi hingga menikmati hiburan.

“Ini bukan lagi pertumbuhan pengguna internet, tetapi ledakan pengguna internet. Ada lebih dari 200 juta pengguna internet di Indonesia dan rata-rata mereka menghabiskan waktu sekitar delapan jam per hari secara online,” ujar Rafiq usai pembukaan Sidang Paripurna Daerah (SPD) PRSSNI Jawa Barat di Bandung, Kamis (18/6/2026).

Menurutnya, jumlah smartphone yang terkoneksi internet di Indonesia bahkan mencapai sekitar 350 juta unit, jauh melampaui jumlah penduduk yang berkisar 270 juta jiwa. Kondisi tersebut menjadi sinyal kuat bahwa radio tidak bisa lagi hanya mengandalkan siaran melalui frekuensi FM maupun AM.

“Supaya tetap relevan, radio harus hadir di smartphone. Kalau orang sekarang menonton televisi lewat smartphone dan membaca berita lewat smartphone, maka radio juga harus bisa didengarkan melalui smartphone,” katanya.

Karena itu, PRSSNI terus mendorong sekitar 600 radio anggota di seluruh Indonesia untuk mengembangkan layanan streaming dan memperkuat kehadiran mereka di berbagai platform digital.

Rafiq menilai transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang menentukan masa depan industri radio.

“Kalau mau survive, kalau mau tetap relevan, radio harus masuk ke dunia digital. Dunia ke depan adalah dunia digital,” tegasnya.

Selain memperluas distribusi siaran melalui internet, transformasi digital juga dinilai penting untuk membangun ekosistem data pendengar yang selama ini menjadi kelemahan industri radio.

Sedangkan Research and Development (R&D) PRSSNI Jawa Barat, Suseno Brotokusumo, mengatakan radio perlu mengintegrasikan seluruh pendengarnya dalam satu sistem berbasis dashboard digital sehingga data audiens dapat terukur secara akurat.

“Yang menjadi aset utama radio sebenarnya adalah pendengarnya. Ketika seluruh radio tergabung dalam satu ekosistem, kita bisa mengumpulkan data dalam jumlah besar yang sangat bernilai bagi pengiklan maupun pemerintah,” ujarnya.

Menurut Suseno, selama ini radio dinilai terlalu lambat beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Padahal, berbagai kajian mengenai pentingnya digitalisasi radio sudah muncul sejak lebih dari satu dekade lalu.

“Kita terlalu lambat bertransformasi. Harusnya ini sudah dilakukan 10 tahun yang lalu. Kalau saat itu sudah dilakukan, mungkin posisi radio hari ini jauh lebih kuat,” katanya.

Di Jawa Barat sendiri, dari 103 radio yang terdata sebagai anggota PRSSNI, sebanyak 82 radio masih aktif beroperasi. Namun, baru sekitar 62 radio yang telah terintegrasi dalam sistem digital yang tengah dikembangkan organisasi tersebut.

PRSSNI Jawa Barat menargetkan pengembangan ekosistem digital radio dapat terus diperluas sehingga mampu menghasilkan data audiens yang kuat dan terukur. Langkah tersebut diyakini dapat meningkatkan daya saing radio di tengah ketatnya persaingan dengan platform digital global.

Meski menghadapi berbagai tantangan, termasuk persoalan regulasi yang dinilai belum sepenuhnya melindungi industri penyiaran nasional, PRSSNI tetap optimistis radio memiliki masa depan yang cerah.

“Radio tidak bisa melawan digital. Yang harus dilakukan adalah bersahabat dengan digital dan memanfaatkannya sebagai peluang. Kalau itu dilakukan, radio akan tetap hidup dan tetap relevan di tengah masyarakat,” tutup Suseno.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *