Foto : ilustrasi Ramadan /pngtree
Bandung (BRS) – Ramadan di Indonesia selalu hadir dengan warna. Dari denting sendok saat berbuka, lantunan ayat suci di masjid, hingga jalanan yang ramai menjelang sahur.
Namun di balik semarak itu, ada sejumlah tradisi khas masyarakat yang perlahan memudar, tergerus perubahan zaman dan gaya hidup serba cepat. Salah satunya adalah Dugderan, tradisi menyambut Ramadan yang lekat dengan masyarakat Semarang.
Tradisi ini biasanya ditandai dengan arak-arakan, tabuhan bedug, serta pesta rakyat menjelang penetapan awal puasa. Ikon warak ngendog, makhluk imajiner simbol akulturasi budaya Jawa, Arab, dan Tionghoa, selalu menjadi pusat perhatian.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, gaung Dugderan tak lagi semeriah dulu. Generasi muda lebih akrab dengan pengumuman awal Ramadan lewat gawai ketimbang menunggu tabuhan bedug di alun-alun.
Sementara di sejumlah daerah di Sumatera Barat, tradisi Malamang juga mulai jarang ditemui. Masyarakat Minangkabau dahulu bergotong royong membuat lamang, beras ketan yang dimasak dalam bambu, untuk dibagikan menjelang Ramadan atau saat berbuka bersama. Proses memasaknya yang panjang menjadi ruang silaturahmi dan kebersamaan.
Kini, kebiasaan itu perlahan tergantikan oleh makanan instan dan pesanan daring. Praktis, tetapi kehilangan cerita.
Tradisi membangunkan sahur keliling pun tak sehidup dulu. Di banyak kampung, anak-anak dan remaja biasanya berkeliling membawa kentongan atau bedug kecil sambil melantunkan selawat. Suara riuh itu menjadi alarm alami yang menghidupkan suasana dini hari.
Kini, peran tersebut digantikan nada dering ponsel. Bahkan di beberapa wilayah, tradisi ini dibatasi karena dianggap mengganggu ketertiban. Sahur menjadi lebih sunyi, lebih personal.
Ada pula tradisi Meugang di Aceh, kebiasaan memasak dan menyantap daging bersama keluarga sehari sebelum Ramadan. Tradisi ini bukan sekadar soal hidangan, tetapi simbol kesiapan menyambut bulan suci dengan hati bersih dan perut kenyang.
Meski masih bertahan, nilai kebersamaan dalam prosesnya mulai berkurang, terutama di kawasan perkotaan yang serba sibuk.
Di Jawa Barat dan Banten, masyarakat mengenal tradisi Ngabuburit dalam makna awalnya yaitu berjalan santai atau berkegiatan sederhana menunggu waktu berbuka.
Dahulu, ngabuburit identik dengan pengajian sore, permainan tradisional, atau sekadar duduk di serambi masjid. Kini, istilah yang sama lebih sering merujuk pada berburu takjil atau nongkrong di pusat perbelanjaan. Maknanya bergeser, dari spiritual menjadi konsumtif.
Begitu juga tradisi ziarah kubur massal menjelang Ramadan yang mulai berubah wajah. Dulu, keluarga besar berkumpul, membersihkan makam bersama, lalu berdoa dengan khusyuk. Kini, momen itu sering kali dilakukan secara singkat dan individual, bahkan sekadar formalitas.
Perubahan memang tak terelakkan. Modernisasi membawa kemudahan, tetapi juga mengikis ruang-ruang komunal yang dulu menjadi ruh Ramadan di Indonesia.
Tradisi-tradisi ini sesungguhnya bukan sekadar seremoni, melainkan sarana mempererat hubungan sosial, merawat identitas budaya, dan menanamkan nilai kebersamaan.
Ramadan selalu datang setiap tahun. Pertanyaannya, apakah tradisi yang menyertainya akan tetap bertahan? Atau kita hanya menyisakan ingatan tentang bunyi kentongan sahur, aroma lamang dari bambu, dan arak-arakan dugderan yang tinggal cerita? Di tengah derasnya arus zaman, mungkin sudah saatnya generasi hari ini menoleh sejenak—merawat kembali senandung yang kian samar itu.














