RSUD Kota Bandung Tetap Jadi Rujukan, Akses Layanan Tanpa Sekat

Bandung (BRS) – RSUD Kota Bandung mencatat tingginya dinamika kunjungan pasien sepanjang 2024 hingga 2025, baik pada layanan Instalasi Gawat Darurat (IGD), rawat jalan, maupun rawat inap. Data ini menegaskan posisi RSUD milik Pemerintah Kota Bandung tersebut sebagai salah satu rumah sakit rujukan utama, tidak hanya bagi warga Kota Bandung, tetapi juga masyarakat dari wilayah sekitar.

Wakil Direktur Pelayanan RSUD Kota Bandung, dr. Henny Hasbullah, M.M., menyebutkan sepanjang 2024 kunjungan pasien IGD mencapai 40.038 orang. Kunjungan didominasi pasien Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan Non-PBI yang jumlahnya relatif seimbang setiap bulan, disusul pasien umum, kontrak, hingga karyawan.

“Ini menunjukkan RSUD Kota Bandung masih menjadi pilihan utama masyarakat dalam mendapatkan layanan kegawatdaruratan, baik peserta JKN maupun pasien umum,” kata dr. Henny, Rabu (14/1/2026).

Memasuki 2025, total kunjungan IGD tercatat sebanyak 27.116 pasien. Meski secara angka menurun, tren kunjungan mengalami peningkatan bertahap pada paruh kedua tahun. Dominasi pasien PBI dan Non-PBI tetap mencerminkan terbukanya akses layanan kesehatan bagi berbagai lapisan masyarakat.

Pada layanan rawat inap, RSUD Kota Bandung mencatat 14.699 pasien sepanjang 2024. Kunjungan tertinggi kembali berasal dari pasien PBI dan Non-PBI, diikuti pasien umum, kontrak, dan SKTM. Pola ini mempertegas peran RSUD sebagai penyangga layanan rujukan, khususnya bagi pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan.

Sementara pada 2025, hingga November, jumlah kunjungan rawat inap mencapai 9.107 pasien. Angka tersebut masih bersifat sementara karena data Desember belum sepenuhnya terhimpun. Meski demikian, kebutuhan layanan rawat inap dinilai tetap stabil.
RSUD Kota Bandung juga mencatat tingginya kunjungan pasien dari luar wilayah kota.

Sepanjang 2025, total kunjungan IGD dan rawat jalan dari warga Kota Bandung dan luar Kota Bandung mencapai 119.003 kunjungan. Pada beberapa bulan tertentu, jumlah pasien dari luar kota bahkan hampir menyaingi kunjungan warga Kota Bandung.

Hal serupa terlihat pada layanan rawat inap. Total kunjungan pasien rawat inap sepanjang 2025 mencapai 12.372 pasien, dengan proporsi pasien dari luar Kota Bandung yang masih cukup signifikan.

“Kondisi ini menegaskan RSUD Kota Bandung sebagai rumah sakit rujukan regional, khususnya bagi wilayah perbatasan. Kami terus menjaga mutu layanan agar seluruh pasien mendapatkan pelayanan optimal,” tegas dr. Henny.

Di sisi lain, Wakil Direktur Umum, Kepegawaian, dan Keuangan RSUD Kota Bandung, Wawan, S.Sos., menjelaskan rumah sakit juga menerapkan mekanisme penundaan pembayaran bagi pasien yang tidak mampu secara ekonomi. Hingga 31 Desember 2025, total piutang pasien non-audited tercatat sebesar Rp7,03 miliar, mayoritas berasal dari pasien umum dan klaim sejumlah lembaga.

Menurut Wawan, penundaan pembayaran dilakukan melalui edukasi dan kesepakatan dengan keluarga pasien, terutama pada kasus bedah. RSUD Kota Bandung juga menggandeng Baznas, platform donasi, serta yayasan sosial untuk membantu menutup sebagian biaya perawatan pasien tidak mampu.

“Kami tidak menutup layanan hanya karena kendala biaya. Penagihan piutang dilakukan bertahap sesuai perjanjian, sambil terus mencari solusi agar hak pasien atas layanan kesehatan tetap terpenuhi,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *