Bandung (BRS) – Jelang Idul Adha 2026, harga cabai rawit atau cengek di Kota Bandung melonjak tajam hingga Rp120.000 per kilogram. Lonjakan itu sempat membuat ibu-ibu di pasar mengernyitkan dahi, tapi Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memastikan ketahanan pangan kota secara umum tetap aman.
Farhan menyampaikan hal itu usai memantau kondisi stok bahan kebutuhan pokok masyarakat (kepokmas) di Bandung, Selasa (26/5/2026). Ia mengakui kenaikan harga cabai cukup signifikan dan langsung terasa di dapur warga.
“Harga cabai cengek Rp120.000. Ini memang cukup tinggi,” kata Farhan.
Menurutnya, penyebab utama bukan permainan pasar, melainkan cuaca ekstrem yang menggagalkan panen di sejumlah daerah pemasok. Pola hujan-panas yang tak menentu membuat tanaman cabai rentan rontok dan terserang hama.
“Sepertinya banyak yang gagal panen cabai. Cuaca sekarang tidak menentu, kadang panas, tiba-tiba hujan,” ungkapnya.
Meski cabai meroket, Farhan menegaskan komoditas pangan utama lain dalam kondisi stabil. Stok daging, telur, dan ayam dilaporkan aman, baik dari sisi ketersediaan maupun harga. Situasi ini penting mengingat konsumsi daging dan protein hewani biasanya naik saat Idul Adha.
“Secara umum stok daging aman, telur, ayam aman semuanya. Hanya cabai saja yang mengalami kenaikan cukup signifikan,” ujarnya.
Pemkot Bandung terus memantau pergerakan harga dan distribusi kepokmas melalui dinas terkait dan pasar induk. Koordinasi dengan Bulog serta pemasok dari luar kota juga diperkuat agar pasokan tidak tersendat saat permintaan meningkat menjelang hari raya kurban.
Farhan meminta warga tidak panik dan tetap bijak mengatur konsumsi. Untuk sementara, ia mengimbau masyarakat mengurangi asupan makanan terlalu pedas agar tidak semakin membebani pengeluaran rumah tangga.
Diketahui, lonjakan harga cabai memang fenomena musiman yang kerap terjadi saat pergantian musim. Namun Pemkot Bandung melihat kejadian ini sebagai pengingat pentingnya penguatan ketahanan pangan lokal. Ketergantungan pada pasokan luar kota membuat harga lebih rentan diguncang cuaca di daerah lain.
Ke depan, Pemkot mendorong perluasan urban farming dan kebun warga untuk komoditas cepat panen seperti cabai, tomat, dan sayuran daun. Program itu diharapkan bisa meredam gejolak harga ketika pasokan dari luar terganggu.
Di sisi lain, stabilnya stok daging, telur, dan ayam menjadi modal penting menjaga daya beli masyarakat saat Iduladha. Farhan memastikan distribusi hewan kurban juga diawasi ketat oleh tim kesehatan hewan agar aman dikonsumsi.
Dengan kombinasi pemantauan harga, penguatan distribusi, dan imbauan konsumsi bijak, Pemkot Bandung yakin guncangan harga cabai tidak akan mengganggu ketahanan pangan secara keseluruhan. Kini tinggal bagaimana warga dan pedagang sama-sama menahan diri agar gejolak harga tidak melebar ke komoditas lain.








