Jakarta (BRS) – Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) mempertemukan pelaku industri, pembuat kebijakan, akademisi, dan peneliti dalam SBM ITB Industrial Summit 2026 dan International Conference on Management in Emerging Markets (ICMEM) ke-10.
Forum yang akan berlangsung pada 19–20 Agustus 2026 di AYANA Midplaza Jakarta itu mengangkat tema besar “The Wealth of Nations at 250”, menandai 250 tahun publikasi karya ekonomi klasik Adam Smith, The Wealth of Nations.
Momentum tersebut digunakan SBM ITB untuk membawa kembali pertanyaan mendasar mengenai kemakmuran bangsa ke dalam konteks ekonomi modern. Perubahan teknologi, ketidakpastian geopolitik, dinamika perdagangan global, volatilitas sektor keuangan hingga tuntutan keberlanjutan dinilai membuat persoalan mengenai sumber kemakmuran semakin kompleks.
Ketua SBM ITB Industrial Summit & ICMEM 2026, Jagat Prirayani, mengatakan forum tersebut tidak ingin berhenti pada pembahasan akademis, tetapi mendorong pertemuan langsung antara gagasan dengan persoalan yang dihadapi dunia usaha dan pemerintah.
“Kami ingin Summit ini menjadi ruang di mana akademisi tidak hanya berbicara tentang industri, dan industri tidak hanya berbicara tentang persoalannya sendiri. Kami ingin keduanya duduk di meja yang sama, saling menguji pandangan, dan membangun pemahaman yang lebih baik mengenai berbagai transformasi yang sedang terjadi,” ujar Jagat dalam keterangannya, Sabtu (15/8).
Menurutnya, pertanyaan mengenai apa yang menciptakan kemakmuran tetap relevan meski kondisi dunia telah berubah drastis. Indonesia saat ini menghadapi transformasi digital, perubahan teknologi, tantangan keberlanjutan, ketidakpastian geopolitik, serta persaingan ekonomi yang semakin dinamis.
“Dua ratus lima puluh tahun setelah The Wealth of Nations diterbitkan, pertanyaan dasarnya masih sama: apa yang sesungguhnya menciptakan kemakmuran? Namun hari ini kita harus menjawab pertanyaan tersebut dalam dunia yang dibentuk oleh transformasi digital, ketidakpastian geopolitik, keterhubungan sektor keuangan, tantangan keberlanjutan, dan bentuk-bentuk persaingan yang sama sekali baru,” ungkapnya.
Industrial Summit 2026 akan membahas sejumlah tantangan strategis, mulai dari menjaga daya saing industri, pembiayaan transformasi ekonomi, inovasi, ketahanan sektor keuangan hingga pengembangan model bisnis berkelanjutan.
Sementara itu, ICMEM 2026 mengusung tema “Reimagining Global Markets: Embracing Humanities for Sustainable Business.” Konferensi internasional ini menjadi ruang bagi peneliti dan akademisi untuk mempresentasikan hasil riset sekaligus mendiskusikan perkembangan manajemen dan ekonomi di negara-negara emerging market.
Kolaborasi kedua forum tersebut diharapkan menciptakan hubungan yang lebih erat antara riset dan kebutuhan industri. Persoalan nyata di lapangan dapat menjadi sumber pertanyaan penelitian, sementara temuan akademik dapat memberikan perspektif baru bagi pengambilan keputusan bisnis maupun kebijakan.
Bagi Indonesia, forum ini dinilai relevan di tengah upaya memperkuat industri, mempercepat transformasi digital, mendorong transisi energi, membangun infrastruktur, serta memperluas keterlibatan dalam rantai nilai global.
Melalui pertemuan tersebut, SBM ITB ingin membangun ruang dialog lintas sektor sekaligus memperkuat jejaring intelektual dan profesional untuk menghadapi perubahan ekonomi global.














