Jakarta (BRS) – Jumlah investor di pasar modal Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan sepanjang 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga akhir Juli 2026 jumlah investor telah mencapai 30,06 juta, atau meningkat 47,63 persen sejak awal tahun. Peningkatan tersebut menjadi sinyal bahwa kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal nasional masih terjaga di tengah gejolak ekonomi global.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan pertumbuhan jumlah investor tidak lepas dari berbagai upaya pendalaman pasar yang dilakukan bersama Self-Regulatory Organization (SRO), pelaku industri, serta penguatan ekosistem digital di sektor pasar modal.
“Seiring inisiatif pendalaman pasar yang dilakukan secara konsisten oleh OJK, SRO, dan pelaku usaha, serta penguatan ekosistem digital di industri pasar modal, jumlah investor di pasar modal dalam negeri terus menunjukkan tren peningkatan,” kata Mahendra dalam hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK, Selasa (4/8).
Sepanjang Juli 2026 saja, tercatat ada tambahan sekitar 1,10 juta investor baru. Pertumbuhan ini terjadi di tengah kondisi pasar keuangan global yang masih dibayangi ketidakpastian akibat konflik geopolitik di Timur Tengah serta kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat.
Meski demikian, pasar saham domestik menunjukkan pemulihan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Juli ditutup di level 6.236,13, menguat 10,51 persen dibandingkan bulan sebelumnya. OJK menilai kondisi tersebut mencerminkan resiliensi pasar modal Indonesia yang tetap terjaga.
Sentimen positif juga terlihat dari kembalinya investor asing ke pasar saham domestik. Setelah pada Juni membukukan aksi jual bersih (net sell), pada Juli investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp1,62 triliun. Kondisi tersebut turut diikuti membaiknya likuiditas perdagangan dengan penyempitan rata-rata bid-ask spread menjadi 1,33 persen.
Di pasar obligasi, minat investor asing juga masih positif. Hingga 29 Juli 2026, pembelian bersih Surat Berharga Negara (SBN) oleh investor asing mencapai Rp6,39 triliun, meski pergerakan pasar masih dipengaruhi meningkatnya persepsi risiko global.
Sementara itu, industri pengelolaan investasi juga menunjukkan kinerja yang tetap solid. Nilai Asset Under Management (AUM) mencapai Rp1.025,12 triliun, sedangkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana meningkat menjadi Rp663,26 triliun. Selama Juli, investor reksa dana juga masih membukukan net subscription sebesar Rp3,43 triliun.
Dari sisi penghimpunan dana, pasar modal masih menjadi pilihan perusahaan untuk mencari pembiayaan. Hingga akhir Juli 2026, total dana yang berhasil dihimpun melalui pasar modal mencapai Rp121,96 triliun. Nilai tersebut berasal dari berbagai aksi korporasi, mulai dari penawaran umum perdana saham (IPO), penawaran umum terbatas, hingga penerbitan obligasi dan sukuk.
Pendanaan melalui Securities Crowdfunding (SCF) juga terus berkembang. Sepanjang Juli, terdapat 17 efek baru dan delapan penerbit baru dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp25,79 miliar. Secara akumulatif, nilai penghimpunan dana melalui SCF kini telah menembus Rp2,01 triliun.
Selain pasar modal konvensional, perdagangan karbon dan aset keuangan digital juga terus menunjukkan perkembangan. Sejak diluncurkan pada September 2023 hingga akhir Juli 2026, Bursa Karbon Indonesia telah mencatat volume transaksi mencapai 1,98 juta ton CO2 ekuivalen dengan nilai transaksi Rp93,89 miliar.
Di sisi lain, transaksi aset kripto juga mengalami peningkatan. Pada Juni 2026, nilai transaksi aset kripto mencapai Rp28,58 triliun, naik lebih dari 24 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Jumlah akun konsumen aset keuangan digital pun terus bertambah hingga mencapai 22,69 juta akun.
OJK menegaskan akan terus memperkuat reformasi pasar modal melalui peningkatan transparansi, tata kelola, serta integritas perdagangan. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga kepercayaan investor sekaligus memperluas peran pasar modal sebagai salah satu sumber pembiayaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional.















