Pangandaran Siap Gelar Hajat Laut. Jaga Tradisi di Tengah Perubahan Zaman

Pangandaran (BRS) – Di tengah pesatnya perkembangan sektor pariwisata dan perubahan kehidupan masyarakat pesisir, nelayan di Kabupaten Pangandaran tetap mempertahankan tradisi Hajat Laut yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur atas rezeki yang diberikan Allah SWT sekaligus doa bersama untuk keselamatan saat melaut.

Tahun 2026, Hajat Laut kembali akan digelar di Pantai Timur Pangandaran pada Selasa, 16 Juni mendatang. Bagi masyarakat nelayan, kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni budaya, melainkan bagian dari identitas yang telah menyatu dengan kehidupan mereka selama puluhan tahun.

Ketua BPC PHRI Kabupaten Pangandaran, Agus Mulyana, mengatakan nilai utama yang ingin terus dijaga dalam Hajat Laut adalah semangat syukur dan kebersamaan masyarakat nelayan. Karena itu, tradisi tersebut tetap dilaksanakan pada waktu dan lokasi yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Hajat Laut ini adalah syukuran nelayan yang sudah berlangsung turun-temurun. Tradisi ini tetap dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas rezeki yang diberikan selama setahun terakhir,” kata Agus usai paparan, Jumat (12/6/2026).

Ia menjelaskan, tema yang diusung tahun ini adalah “Budaya Terawat, Akidah Terjaga”. Tema tersebut dipilih untuk menegaskan bahwa pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai keagamaan yang menjadi landasan kehidupan masyarakat pesisir Pangandaran.

Menurut Agus, Hajat Laut bukan hanya momentum untuk mengungkapkan rasa syukur, tetapi juga menjadi saat yang tepat bagi masyarakat melakukan introspeksi. Melalui doa bersama, istigasah, dan berbagai rangkaian kegiatan lainnya, nelayan diajak merenungkan perjalanan selama satu tahun terakhir.

“Selain bersyukur, ini juga menjadi momen untuk bertafakur. Kita mengevaluasi diri dan melihat apa yang sudah dilakukan selama setahun. Kalau hasil tangkapan berkurang, misalnya, kita harus melihat apakah ada hal yang perlu diperbaiki dalam menjaga alam maupun dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Meski berakar kuat pada tradisi, pelaksanaan Hajat Laut tahun ini juga diharapkan memberi dampak positif bagi sektor pariwisata dan ekonomi daerah. Berbagai unsur masyarakat, pemerintah daerah, serta pelaku usaha pariwisata dilibatkan untuk menyemarakkan kegiatan tersebut.

Namun demikian, Agus menegaskan bahwa tujuan utama Hajat Laut tetap tidak berubah, yakni menjaga warisan leluhur yang sarat makna spiritual. Menurutnya, kemeriahan acara hanyalah pelengkap, sementara nilai syukur dan penghormatan terhadap tradisi tetap menjadi inti perayaan.

“Yang paling penting adalah tradisi syukuran nelayan ini tetap hidup. Ini warisan para pendahulu yang harus dijaga dan diteruskan kepada generasi berikutnya,” tegasnya.

Melalui Hajat Laut, nelayan Pangandaran kembali menunjukkan bahwa tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian dari jati diri yang terus dirawat sebagai bentuk syukur, penghormatan kepada alam, dan pengingat akan pentingnya menjaga hubungan dengan Sang Pencipta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed