Tasikmalaya (BRS) – Persaingan industri penyiaran kian ketat seiring masifnya platform digital. Kondisi ini mendorong Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Jawa Barat mengambil langkah agresif dengan menggelar roadshow dan rapat koordinasi ke seluruh wilayah. Agenda ini bukan sekadar konsolidasi organisasi, tetapi menjadi sinyal kuat bahwa radio harus “siap tempur” dan bertransformasi atau tergerus zaman.
Roadshow dimulai Rabu (15/4/2026) di wilayah Priangan, mencakup Tasikmalaya, Banjar, Pangandaran, Ciamis, dan Garut. Kegiatan akan berlanjut ke Cirebon pada 16 April, Sukabumi pada 22 April, dan Karawang pada 23 April. Fokus utama kegiatan ini adalah mendorong percepatan digitalisasi radio anggota.
Ketua PRSSNI Jawa Barat, Joesoef Siregar, menegaskan bahwa perubahan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Ia menyebut, pola siaran konvensional tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan industri saat ini.
“PRSSNI tidak bisa hanya mengandalkan siaran terestrial seperti biasa. Kita harus berubah mengikuti perkembangan teknologi,” kata Joesoef usai kegiatan di RM Nini Anteh, Tasikmalaya, Rabu (15/4/2026).
Menurutnya, respons anggota di wilayah Priangan menunjukkan antusiasme tinggi terhadap arah baru organisasi. Ia melihat kesadaran kolektif mulai tumbuh bahwa masa depan radio bergantung pada kemampuan beradaptasi dengan teknologi digital.
“Teman-teman anggota sangat antusias. Ini menjadi sinyal bahwa kita siap tempur dan melangkah bersama ke arah digital,” tegasnya.
Yusuf juga menekankan, PRSSNI Jawa Barat memiliki keunggulan sumber daya manusia yang mampu mendorong transformasi ini. Ia optimistis, langkah yang dimulai dari daerah bisa menjadi contoh nasional.
“Belum tentu daerah lain punya kemampuan seperti ini. Kita ingin ini menjadi gerakan bersama yang bisa diikuti seluruh Indonesia,” tambahnya.

Ancaman Nyata Platform Digital
Dari sisi riset, PRSSNI menilai ancaman platform digital terhadap radio bukan sekadar wacana. Tim Research and Development PRSSNI Jawa Barat, Suseno Brotokusumo, mengungkapkan bahwa radio kini harus berhadapan langsung dengan ekosistem digital yang jauh lebih terukur dan fleksibel.
“Kami melihat radio akan berhadapan langsung dengan platform digital. Tapi di sisi lain, ini juga peluang jika dimanfaatkan dengan benar,” ungkapnya.
Salah satu strategi yang ditawarkan adalah integrasi siaran radio dengan platform streaming. Melalui sistem ini, radio tidak hanya bisa didengarkan secara lokal, tetapi juga menjangkau audiens nasional hingga global.
“Radio sekarang bisa dipantau secara streaming, bahkan sampai ke luar negeri. Ini kekuatan baru,” jelas Suseno.
Tak hanya itu, sistem digital memungkinkan pengukuran audiens secara lebih akurat, mulai dari jumlah pendengar hingga durasi mendengarkan. Data ini dinilai menjadi aset penting dalam meningkatkan daya saing radio, terutama dalam menarik pengiklan.
Sebagai bagian dari ekosistem tersebut, PRSSNI Jawa Barat juga memperkenalkan platform bersama yang mengintegrasikan seluruh radio anggota. Platform ini diharapkan menjadi pusat data sekaligus kanal distribusi konten digital.
“Dari data itu kita bisa membuktikan bahwa radio masih didengarkan, bahkan bisa terukur. Ini penting untuk industri,” katanya.
Tantangan di Lapangan: Modal dan Role Model
Meski dorongan digitalisasi semakin kuat, tantangan di tingkat pelaku industri masih cukup besar. Direktur dan Penanggungjawab Radio Sukapura FM Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, Supratman, mengakui bahwa transformasi digital membutuhkan investasi yang tidak kecil.
“Radio sekarang tidak cukup hanya didengar, tapi juga harus bisa ditonton. Itu berarti butuh kamera, studio yang memadai, dan sumber daya manusia tambahan,” ujarnya.
Ia menilai, kendala utama bukan hanya soal teknologi, tetapi juga kepastian bisnis. Banyak radio daerah masih ragu beralih ke platform digital karena belum melihat contoh nyata yang berhasil secara finansial.
“Kami butuh role model. Contoh yang sudah berhasil menghasilkan dari platform digital. Kalau belum ada, anggota akan sulit untuk beralih,” tegasnya.
Menurut Supratman, tanpa model bisnis yang jelas, digitalisasi justru berpotensi menjadi beban baru bagi radio lokal yang memiliki keterbatasan sumber daya.
Menuju Kebangkitan Radio 2026
PRSSNI Jawa Barat menargetkan tahun 2026 sebagai momentum kebangkitan industri radio. Melalui roadshow ini, organisasi berharap seluruh anggota tidak hanya memahami pentingnya digitalisasi, tetapi juga aktif terlibat dalam ekosistem yang sedang dibangun.
Suseno menyebut, partisipasi aktif anggota menjadi kunci keberhasilan transformasi ini. Ia optimistis, jika seluruh radio terintegrasi dalam satu platform, kekuatan kolektif industri akan kembali terbentuk.
“Kami berharap ini menjadi titik awal kebangkitan radio. Dari yang selama ini cenderung stagnan, menjadi lebih dinamis dan kompetitif,” katanya.
Dengan tekanan dari platform digital yang terus menguat, langkah PRSSNI Jawa Barat ini menjadi taruhan besar. Jika berhasil, radio bukan hanya bertahan, tetapi juga menemukan kembali relevansinya di era baru.








