Foto : Jengkol / Dok. Yesdok
Bandung (BRS) – Aroma khasnya tajam, rasanya legit dan sedikit pahit, teksturnya empuk ketika dimasak dengan sambal atau semur. Bagi sebagian orang, jengkol bukan sekadar lauk, melainkan “comfort food” yang sulit ditolak.
Namun saat Ramadan tiba, muncul pertanyaan klasik: bolehkah makan jengkol saat sahur atau berbuka? Apakah aman bagi tubuh yang tengah berpuasa?
Dari sisi agama, Ustad Faisal Abbas dari Pondok Pesantren Aljawahir Ciputat menyebut, tidak ada larangan dalam mengonsumsi jengkol saat sahur maupun berbuka. Artinya, dari sisi kehalalan, jengkol termasuk bahan pangan yang boleh dikonsumsi.
“Halal, boleh, tapi tidak berlebihan saat mengkonsumsinya, namun bila ada pilihan makanan lain saat sahur atau berbuka, ya kalau bisa tidak usah mengkonsumsinya,” ucapnya saat dihubungi Redaksi BRS, Selasa (17/2/2026) malam.
Namun persoalannya cenderung bukan sekadar boleh atau tidak, melainkan bagaimana dampaknya bagi kesehatan, terutama ketika tubuh sedang menjalani puasa lebih dari 12 jam.
Jengkol, yang dikenal dengan nama ilmiah Archidendron Pauciflorum, mengandung zat bernama asam jengkolat. Dalam jumlah wajar dan pada orang dengan kondisi ginjal sehat, zat ini umumnya tidak menimbulkan masalah serius.
Pada sebagian orang, konsumsi jengkol berlebihan dapat memicu keluhan seperti nyeri perut, mual, gangguan buang air kecil, bahkan kondisi yang dikenal sebagai “jengkolan”, sebuah gangguan pada saluran kemih akibat pengendapan kristal asam jengkolat.
Dalam banyak jurnal kesehatan, yang dirangkum Redaksi, disebutkan bahwa waktu (timing) konsumsi jengkol juga berpengaruh. Semisal dikonsumsi usai sahur, tubuh akan menahan asupan cairan cukup lama. Jika makan jengkol dalam jumlah banyak tanpa diimbangi minum yang cukup, risiko gangguan pada ginjal bisa meningkat, terutama pada orang yang memang punya riwayat batu ginjal atau infeksi saluran kemih.
Walau disebutkan juga saat berbuka puasa sebenarnya relatif lebih aman dibanding sahur, karena setelah makan tubuh masih punya kesempatan untuk mendapat asupan cairan lebih banyak hingga malam hari.
Meski begitu, tetap diperlukan batasan. Kuncinya bukan di boleh atau tidak, tapi di jumlah dan kondisi kesehatan orang yang mengkonsumsi jengkol tersebut.
Selain risiko pada ginjal, jengkol juga dikenal dapat memicu bau mulut dan bau urine yang menyengat. Saat sahur, hal ini bisa menjadi persoalan tersendiri karena bau tersebut dapat bertahan cukup lama selama berpuasa.
Dalam konteks sosial, sebagian orang mungkin merasa kurang nyaman saat beraktivitas di siang hari.
Dari sisi gizi, jengkol sebenarnya memiliki kandungan protein nabati, serat, serta beberapa mineral seperti fosfor dan zat besi. Namun, jengkol juga sering diolah dengan cara digoreng atau dimasak dengan santan dan sambal berlemak.
Pola pengolahan inilah yang justru kerap menjadi masalah tambahan, terutama bagi penderita asam lambung, kolesterol tinggi, atau tekanan darah tinggi.
Sementara itu pada kebanyakan masyarakat, menyarankan agar jengkol tidak dijadikan menu utama saat sahur.
“Sahur itu idealnya yang cukup protein, semisal sayur, buah, dan asupan cairan yang cukup juga,” ucap Bianti (42 tahun), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Bandung.
“Kalau ingin makan jengkol, bagusnya sih jangan di Ramadan,” imbuhnya.
Hal senada dikemukakan Rizky (23 tahun), mahasiswa di Bandung yang menyebut sebaiknya mengkonsumsi jengkol dalam porsi kecil (sedikit).
“Aneh juga sih sebetulnya kalau makan jengkol saat sahur atau pas buka. tapi ya kalau sebagai pelengkap aja kayaknya tidak apa-apa, jadi bukan menu utama,” katanya.
Perlu diketahui, tubuh yang sedang berpuasa (saat Ramadan), cenderung lebih rentan mengalami dehidrasi ringan, sehingga organ ginjal akan bekerja lebih keras. Asupan cairan yang didapat saat sahur sedikitnya dapat menyeimbangkan kondisi tersebut.
Lalu bagaimana jika tetap ingin menikmati jengkol? dr. Zaidul Akbar, seorang ahli kesehatan dan juga pendakwah, dalam kanal Youtube Pewaris Para Nabi, menyarankan, mengkonsumsi jengkol cukup satu hingga dua potong saja, yang tentunya sudah diolah dengan baik dan benar.
Sebagai kesimpulan, jengkol bukanlah musuh Ramadan. Ia bisa tetap hadir di meja makan, asalkan dikonsumsi secara bijak. Puasa bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum menjaga tubuh agar tetap sehat dan bugar.
Jadi, bolehkah makan jengkol saat sahur atau berbuka? Jawabannya: boleh, dengan catatan. Jangan berlebihan, kenali kondisi tubuh, dan pastikan asupan cairan tercukupi. Nikmat boleh, tapi sehat tetap nomor satu.
Dari berbagai sumber













