Bandung (BRS) – Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB), khususnya program studi Master & Doctor of Science in Management (MSM-DSM), untuk pertama kalinya merilis program kerja sama Doktor dengan PT Kaltim Prima Coal Indonesia.
Pembukaan kelas pertama dilaksanakan secara daring pada hari Jumat (27/8), dan dihadiri oleh pimpinan dari kedua pihak serta peserta/mahasiswa.
Direktur program studi MSM-DSM Yuliani Dwi Lestari mengatakan bahwa, sebagai sekolah bisnis unggulan di Indonesia, SBM ITB berkomitmen untuk terus melakukan inovasi pendidikan dan berupaya menjangkau lapisan masyarakat dari berbagai segmen, termasuk kalangan professional.
“Banyak sekali professional di perusahaan yang memiliki pengalaman praktis, serta wawasan yang luas dalam hal bisnis dan manajemen. Sehingga melalui program ini, diharapkan kami bisa bekerja sama dalam hal bagaimana mentransfer wawasan praktis tersebut menjadi scientific knowledge/ pengetahuan ilmiah sehingga dapat memberikan kontribusi yang lebih signifikan, melalui riset tindakan di sector Energi,” kata Yuliani.
“Program kerja sama Doktor ini didesain sesuai dengan kurikulum berbasis riset dengan tetap mengedepankan penekanan substansi dan topik terkait dengan sector energy,” imbuhnya.
Dengan kombinasi pembelajaran berbasis riset, ditambah dengan program non-kurikulum seperti misalnya MSM-DSM Lounge: Academic & Research Forum dan program lainnya, diharapkan para professional mampu mencetak publikasi yang bergengsi dan memberikan dampak luas bagi industri.
Kedepan, Yuliani berharap makin banyak industry yang aktif meningkatkan kompetensi sumber daya manusia melalui pendidikan bekerja sama dengan Perguruan Tinggi.
Dalam acara pembukaan kelas pertama, salah satu wakil pimpinan PT Kaltim Prima Coal yakni Acting CEO Ido Hutabarat, menyampaikan bahwa sector pertambangan memegang peranan penting bagi ekonomi, namun ditengah kondisi krisis pandemic dihadapkan pada ketidakpastian dari berbagai aspek seperti kondisi pasar, harga, dan juga tantangan efisiensi operasional lainnya.
“Selain itu, tekanan dari komunitas internasional terkait dengan dampak lingkungan, efek rumah kaca, emisi karbon dari sector pertambangan juga menjadi salah satu isu yang menjadi perhatian kita. Sehingga tantangan untuk sector ini, adalah bagaimana upaya penciptaan sumber energy yang terjangkau namun tetap dapat meminimalisasi atau antisipasi dampak lingkungan dan social,” ucap Ido.
“Untuk itu program kerjasama Doktor ini diharapkan dapat membantu peningkatan kompetensi, menciptakan manusia unggul, merubah cara berpikir untuk melihat masa depan dengan mengedepankan inovasi dan daya saing bagi sector ini,” katanya lagi.














