Bandung (BRS) – Tahun 2020 Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan memiliki Migrant Training Center. Ini akan menjadi pusat pemberdayaan tenaga kerja Indonesia asal Jabar yang berkualitas, berwawasan luas dan memiliki ketrampilan. Kepala Disnakertans Jabar Ade Afriandi, dalam acara Jabar Punya Informasi (JAPRI) di Gedung Sate Bandung, Jumat (4/10) mengatakan, bahwa banyak permasalahan yang menimpa para pekerja migran, salah satunya keterbatasan wawasan dan kurangnya keterampilan.
Lebih lanjut Ade mengatakan, pihaknya telah membentuk tim khusus yang melakukan pendataan calon tenaga kerja, memperkuat sistem perekrutan yang melibatkan peran disnakertrans provinsi, kabupaten/kota, hingga keterlibatan aparat desa.
Dari sisi lain, Hemasari selaku Ketua Tim Akselerasi Jabar Juara (TAJJ) Bidang Ketenagakerjaan memaparkan bahwa tantangan ketenagakerjaan di Jawa Barat diantaranya dari industri manufaktur, garmen, dan tekstil yang makin hari makin terancam bangkrut karena derasnya produk luar negeri. Dari data yang ada, di Jawa Barat ada 188 pabrik yang tutup dan 68 ribu pekerja mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).
Saat ini ada sekitar 48 juta penduduk Jawa Barat. 23,83 juta diantaranya merupakan usia kerja atau angkatan kerja sedangkan pengangguran berjumlah 1,84 juta, atau sekitar 8,3 persen dari jumlah penduduk usia kerja. Di targetkan, selama kepemimpinan Gubernur Ridwan Kamil, Disnakertrans Jabar mampu merealisasikan penurunan angka pengangguran sebanyak 1 persen.














