Len–BRIN Kembangkan NVG, Perkuat Kemandirian Alutsista

Jakarta (BRS) – Upaya memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional kembali ditegaskan melalui kolaborasi PT Len Industri (Persero) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kedua institusi resmi menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) pengembangan teknologi Night Vision Goggle (NVG) dan thermal imaging devices atau perangkat pencitraan termal, Rabu (11/2/2026).

Penandatanganan dilakukan oleh Kepala Pusat Riset Fotonika BRIN Prof. Dr. Isnaeni, M.Sc., dan Direktur Teknologi & Manajemen Risiko PT Len Industri (Persero) Amalia Maya Fitri. Kerja sama ini menitikberatkan pada penguasaan sensor optoelektronik strategis yang selama ini masih banyak bergantung pada produk luar negeri.

NVG dan perangkat pencitraan termal merupakan teknologi krusial dalam operasi malam hari maupun kondisi minim cahaya. NVG bekerja dengan memanfaatkan cahaya sisa atau radiasi inframerah untuk memperkuat visibilitas pengguna. Sementara itu, teknologi pencitraan termal mampu mendeteksi perbedaan suhu objek, sehingga efektif digunakan dalam pengawasan, pengamanan wilayah strategis, hingga operasi militer.

Kolaborasi Len dan BRIN dinilai strategis karena menggabungkan kekuatan riset dasar dan kemampuan industrialisasi dalam satu ekosistem terintegrasi. BRIN berperan dalam penguasaan teknologi inti dan pengembangan riset fotonika, sedangkan Len memiliki kapasitas rekayasa sistem, produksi, serta integrasi dalam sistem pertahanan.

Direktur Teknologi & Manajemen Risiko PT Len Industri, Amalia Maya Fitri, menegaskan bahwa kerja sama ini bukan sekadar proyek riset, melainkan langkah konkret menuju kemandirian teknologi pertahanan.

“Kolaborasi ini penting untuk menghadirkan teknologi penglihatan malam dan pencitraan termal yang andal, kompetitif, dan siap digunakan di dalam negeri, sekaligus memperkuat ketahanan serta kemandirian teknologi pertahanan nasional,” ujarnya.

Melalui sinergi tersebut, hasil riset diharapkan tidak berhenti pada tahap laboratorium, tetapi dapat dihilirisasi menjadi produk siap pakai yang memenuhi kebutuhan TNI dan aparat keamanan. Penguasaan teknologi ini juga membuka peluang percepatan produksi, peningkatan respons terhadap kebutuhan operasional, serta jaminan keamanan pasokan.

Dari sisi industri, pengembangan NVG dan perangkat pencitraan termal di dalam negeri berpotensi meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), sekaligus menekan biaya pengadaan dan pemeliharaan. Selain itu, dukungan teknis sepanjang siklus hidup produk dapat dilakukan tanpa ketergantungan pada pemasok asing.

Langkah ini juga dinilai sebagai bagian dari strategi membangun rantai pasok pertahanan yang lebih mandiri dan berkelanjutan. Dengan kemampuan produksi nasional, Indonesia tidak hanya memperkuat kedaulatan sistem pertahanan, tetapi juga membuka peluang ekspor produk teknologi bernilai tambah tinggi ke pasar regional dan global.

Kolaborasi Len dan BRIN menandai babak baru penguatan industri pertahanan berbasis inovasi dalam negeri—sebuah langkah strategis untuk memastikan sistem pertahanan nasional semakin tangguh, adaptif, dan berdaya saing di tengah dinamika geopolitik global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *