Bandung (BRS) – Bulan Dana Kemanusiaan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bandung 2026 berhasil menghimpun Rp2.047.761.508 atau lebih dari 81 persen dari target Rp2,5 miliar. Di tengah capaian tersebut, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mendorong PMI tidak hanya memperkuat kegiatan kemanusiaan, tetapi juga mengambil peran lebih besar dalam penanganan kesehatan mental masyarakat.
Hal itu disampaikannya saat menutup secara resmi Bulan Dana PMI Kota Bandung 2026 di Pendopo Kota Bandung, Jumat (18/9/2026).
Menurut Farhan, dana yang terkumpul merupakan amanah karena berasal dari kontribusi masyarakat. Karena itu, pengelolaannya harus dilakukan secara bertanggung jawab dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
“Rp2.047.000.000 lebih ini merupakan nilai yang sangat tinggi. Namun, di balik itu semua, kami menitipkan agar bisa dikelola sebaik-baiknya,” tegas Farhan.
Ia mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan Bulan Dana PMI, mulai dari Forkopimda Kota Bandung, perangkat daerah, camat, lurah, kepala sekolah, unit kerja pemerintahan, hingga masyarakat.
Bulan Dana PMI Kota Bandung 2026 sendiri berlangsung selama empat bulan, yakni sejak 1 Mei hingga 31 Agustus 2026. Ketua Umum Panitia Bulan Dana PMI Kota Bandung 2026, Asep Cucu Cahyadi, mengatakan dana dihimpun dari berbagai unsur masyarakat dan lembaga.
Sumber pengumpulan antara lain berasal dari masyarakat, perangkat daerah, pelaku usaha, UMKM, pelanggan listrik, telepon, air minum, rumah sakit, apotek, kampus, sekolah, RT dan RW, serta kelompok dan lembaga lainnya.
Asep mengatakan dana tersebut diharapkan dapat mendukung berbagai program PMI Kota Bandung, terutama pelayanan bagi korban bencana, pembinaan generasi muda, serta program kemanusiaan lainnya.
Dalam kesempatan yang sama, Farhan menyampaikan bahwa penguatan peran PMI perlu diarahkan pada persoalan masyarakat yang semakin kompleks, termasuk kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri.
“Palang Merah Indonesia saya harapkan menjadi bagian dari upaya bersama-sama kita untuk melakukan pencegahan bunuh diri di Kota Bandung yang terjadi hampir setiap bulan,” kata Farhan.
Ia mendorong PMI membekali para relawannya dengan pengetahuan untuk mengenali dan menangani orang yang menunjukkan tanda-tanda memiliki kecenderungan bunuh diri. Menurutnya, jaringan relawan yang dimiliki PMI dapat menjadi salah satu kekuatan dalam memperluas upaya pencegahan.
“Mungkin Palang Merah Indonesia sudah mulai memasukkan, dalam tanda kutip, kurikulum bagi para relawannya tentang penanganan orang-orang yang sudah punya ciri-ciri suicidal,” ujarnya.
Selain pembekalan, Farhan juga mendorong perluasan rekrutmen relawan. Ia menilai keterlibatan dalam kegiatan kerelawanan dapat mendorong seseorang untuk merasa memiliki manfaat bagi orang lain.
“Perluasan rekrutmen relawan ini saya harapkan bisa menambah semangat orang-orang untuk memberikan manfaat pada orang lain. Dan ini salah satu obat yang sangat baik untuk mencegah suicide,” katanya.
Upaya penanganan kesehatan mental, kata Farhan, juga telah mulai dilakukan Pemerintah Kota Bandung. Salah satunya melalui pelatihan bagi guru Bimbingan dan Konseling (BK) yang dilakukan bersama Himpunan Sarjana Psikologi Indonesia untuk membantu guru melakukan asesmen terhadap anak-anak sekolah.
Untuk kebutuhan penanganan lebih lanjut, Farhan menyebut terdapat 12 puskesmas yang telah mendapatkan penempatan psikolog klinis.
Ia berharap langkah tersebut dapat diperkuat melalui kolaborasi antara PMI, Dinas Kesehatan Kota Bandung, dan pihak lainnya. Menurut Farhan, tekanan yang dihadapi masyarakat, termasuk anak-anak, semakin kompleks seiring persaingan pendidikan dan pekerjaan serta penggunaan media sosial.
“Mungkin memang saatnya Palang Merah Indonesia menjadi mitra dari Dinas Kesehatan Kota Bandung untuk mulai mengembangkan penanganan masalah kesehatan mental,” katanya.
Farhan juga menyoroti kebutuhan akses konsultasi yang mudah bagi masyarakat. Ia menyebut jalur hotline perlu kembali diperkuat agar warga yang membutuhkan bantuan memiliki ruang untuk mencari pertolongan tanpa merasa khawatir atau malu.
“Hotline menjadi penting. Nanti tahun depan saya akan pastikan kita punya jalur hotline lagi,” imbuhnya.
Selain layanan dan akses bantuan, Farhan menekankan pentingnya pemahaman keluarga dalam menghadapi anggota keluarga yang mengalami depresi. Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan penanganan yang tepat dan tidak cukup hanya direspons dengan nasihat untuk bersyukur atau memperbanyak ibadah.
Ia kemudian menitipkan penguatan penanganan kesehatan mental kepada Dinas Kesehatan dan PMI Kota Bandung agar dapat menjadi bagian dari pelayanan kemanusiaan bagi warga.
Pada penutupan Bulan Dana PMI tersebut, PMI Kota Bandung juga memberikan penghargaan kepada kolektor terbaik Bulan Dana PMI Kota Bandung 2026. Penghargaan diberikan kepada BKPSDM, Kecamatan Cidadap, Dinas Kesehatan, dan Dinas Pendidikan.














