Bandung (BRS) – Keberhasilan merawat bayi prematur tidak lagi hanya diukur dari kemampuan tenaga medis menyelamatkan bayi melewati masa kritis. Tantangan berikutnya adalah memastikan bayi dapat tumbuh dan berkembang secara optimal setelah keluar dari ruang perawatan intensif.
Perubahan perspektif tersebut menjadi salah satu gagasan utama dalam buku Bayi Prematur Menjemput Harapan, karya Prof. dr. Tono Djuwantono, Sp.OG(K), M.Kes, Dr. dr. Tetty Yuniarti, Sp.A(K), M.Kes, dan dr. I.G.A. Nyoman Partiwi, Sp.A, MARS.
Buku yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas itu membahas perjalanan bayi prematur secara menyeluruh, mulai dari masa kehamilan, kelahiran, perawatan di Neonatal Intensive Care Unit (NICU), hingga masa setelah bayi kembali ke rumah.
Perspektif tersebut penting karena keluarnya bayi dari NICU bukan berarti seluruh persoalan selesai. Setelah kondisi bayi stabil, keluarga menghadapi fase baru yang tak kalah menentukan, yakni memastikan kebutuhan nutrisi, stimulasi, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan, serta dukungan emosional terpenuhi.
“Setiap kehamilan membawa harapan. Ketika bayi lahir prematur, harapan itu tidak boleh berhenti. Ilmu kedokteran terus berkembang, tetapi hasil terbaik hanya dapat dicapai ketika tenaga kesehatan dan keluarga berjalan bersama mendampingi setiap bayi,” kata Prof. dr. Tono Djuwantono di Bandung, Minggu (23/8/2026).
Pendekatan tersebut juga menempatkan perawatan bayi prematur sebagai proses yang membutuhkan kolaborasi lintas disiplin. Prof. Tono, sebagai dokter spesialis obstetri dan ginekologi konsultan, berperan sejak masa kehamilan, termasuk dalam penanganan kehamilan berisiko serta layanan fertilitas dan teknologi reproduksi berbantu.
Ketika bayi lahir prematur dan membutuhkan perawatan intensif, penanganan dilanjutkan oleh dokter spesialis anak konsultan neonatologi. Pada tahap ini, perhatian tidak hanya tertuju pada kondisi medis bayi, tetapi juga pada keterlibatan orang tua selama perawatan.
Salah satu pendekatan yang disoroti adalah Family Integrated Care (FiCare), yang menempatkan orang tua sebagai bagian dari tim perawatan setelah mendapatkan edukasi dan pendampingan dari tenaga kesehatan.
Dalam pendekatan ini, orang tua tidak sekadar menjadi pengunjung NICU. Mereka dilibatkan dalam proses perawatan, termasuk memberi kesempatan kepada ibu untuk memberikan kolostrum dan ASI sedini mungkin sesuai kondisi bayi.
“Teknologi membantu bayi bertahan hidup. Namun, kehadiran keluarga membantu mereka bertumbuh. Ketika orang tua menjadi bagian dari proses perawatan, manfaatnya dapat dirasakan jauh setelah bayi meninggalkan NICU,” ujar Dr. dr. Tetty Yuniarti.
Keterlibatan keluarga juga menjadi penting ketika bayi sudah diperbolehkan pulang. Fase tersebut justru menjadi awal dari proses panjang untuk mengejar pertumbuhan dan perkembangan sesuai potensinya.
Orang tua perlu memahami kebutuhan bayi, mengenali tanda-tanda yang perlu diperhatikan, serta memastikan pemantauan tumbuh kembang dilakukan secara berkesinambungan.
“Keluar dari NICU bukan akhir perjuangan. Saat pulang ke rumah, proses tumbuh kembang justru baru akan dimulai. Pendampingan yang tepat akan membantu bayi prematur memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, bermain, dan mencapai potensi terbaiknya,” kata dr. I.G.A. Nyoman Partiwi.
Dengan demikian, keberhasilan perawatan bayi prematur tidak cukup hanya dilihat dari angka keselamatan. Perjalanan setelah NICU menjadi bagian penting untuk memastikan bayi dapat berkembang secara fisik, kognitif, dan emosional bersama keluarganya.
Buku Bayi Prematur Menjemput Harapan mencoba menjembatani kebutuhan tersebut dengan menyajikan informasi medis dalam bahasa yang lebih mudah dipahami keluarga, sekaligus menekankan pentingnya perawatan berkelanjutan dan keterlibatan orang tua.















