Jakarta (BRS) – Pemberdayaan perempuan semakin penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Peran tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Inclusion Talk bertajuk “Berdaya dan Sejahtera, Perempuan Bisa” yang digelar sebagai bagian dari rangkaian Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta mengatakan, semakin terbuka akses dan kesempatan bagi perempuan, semakin besar pula kontribusinya terhadap perekonomian.
“Semakin luas akses dan kesempatan yang dimiliki perempuan, semakin besar pula dampaknya bagi perekonomian nasional secara berkelanjutan,” kata Filianingsih, Jumat (21/8).
Di Jawa Barat, peran perempuan sebagai penggerak ekonomi terlihat dari sejumlah UMKM yang tumbuh dari tingkat akar rumput. Salah satunya Wanoja Coffee, UMKM binaan Bank Indonesia Jawa Barat yang menggandeng kelompok tani dengan mayoritas anggotanya perempuan.
Melalui penguatan kapasitas dan akses pasar, Wanoja Coffee berkembang hingga mampu menembus pasar global. Hal serupa ditunjukkan Java Halu yang digerakkan perempuan dengan misi mengangkat potensi kopi Jawa Barat dan kini telah memasuki pasar Eropa.
Sementara itu, Kelompok Organik Sukamandi di Subang menunjukkan bagaimana perempuan dari kelompok subsisten dapat berkembang menjadi penggerak nilai tambah produk lokal. Pengembangan tersebut dilakukan melalui produk beras organik hingga berbagai produk hilirisasi.
Berbagai pengalaman itu memperlihatkan bahwa penguatan kapasitas, kualitas produk, serta akses terhadap pasar dapat membuka ruang lebih besar bagi perempuan untuk mengembangkan usaha sekaligus menggerakkan ekonomi daerah.
Potensi tersebut cukup besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, 64,5 persen pelaku UMKM di Indonesia dikelola perempuan. Karena itu, penguatan akses terhadap pengetahuan, layanan keuangan, teknologi, pembiayaan dan pasar menjadi penting agar peran perempuan dalam perekonomian semakin kuat.
Dalam kegiatan tersebut, Bank Indonesia bersama Women’s World Banking juga meluncurkan kajian “Menuju Model Bisnis Inklusif yang Responsif Gender: Pembelajaran dari Kelompok Subsisten di Indonesia”.
Kajian ini diharapkan memperkuat pemahaman mengenai kebutuhan perempuan, terutama kelompok subsisten, sekaligus mendorong model bisnis dan ekosistem yang lebih inklusif serta responsif gender.
Bank Indonesia Jawa Barat menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat pemberdayaan UMKM dan masyarakat, termasuk perempuan dan kelompok subsisten. Sinergi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan juga akan diperluas untuk membuka akses terhadap kapasitas usaha, pasar, pembiayaan dan peluang pengembangan bisnis.
Dengan ekosistem yang tepat, perempuan diharapkan tak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga semakin berperan sebagai penggerak ekonomi di keluarga dan komunitas.












