Sumedang (BRS) – Pemerintah Kabupaten Sumedang terus memperkuat daya saing produk unggulan daerah agar mampu menembus pasar internasional. Berbagai komoditas lokal, mulai dari Tahu Sumedang, Ubi Cilembu, batik, hingga aneka kerajinan, didorong menjadi motor penggerak pertumbuhan UMKM sekaligus memperluas pangsa ekspor.
Bupati Sumedang Dony Munir mengatakan, potensi produk lokal Sumedang sangat besar. Namun, agar mampu bersaing di pasar global, para pelaku UMKM harus terus meningkatkan kreativitas, kualitas produk, serta kemampuan memasarkan hasil usahanya.
Menurut Dony, pemerintah daerah telah menyiapkan berbagai dukungan agar UMKM bisa berkembang lebih cepat. Salah satunya melalui Kredit Usaha Rakyat Daerah (Kurda) dengan bunga hanya tiga persen per tahun, sehingga pelaku usaha memiliki akses permodalan yang lebih ringan.
“Di Sumedang ada Kurda dengan bunga hanya tiga persen setahun. Pemerintah memberikan subsidi bunga agar UMKM dan industri kreatif bisa berkembang lebih cepat,” kata Dony usai menghadiri pembukaan Sunda Karsa Fest KKJ 2026 di TSM Bandung, Jumat (26/6/2026) malam.

Selain permodalan, Pemkab Sumedang juga memperkuat pendampingan melalui edukasi dan pelatihan agar pelaku usaha mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah. Dony menegaskan, inovasi harus menjadi budaya sehingga setiap tahun lahir produk yang semakin berkualitas dan memiliki daya saing tinggi.
Ia menilai promosi melalui pameran harus dimanfaatkan sebagai pintu masuk untuk memperluas jaringan pemasaran, bukan sekadar ajang memamerkan produk. Karena itu, setiap pelaku UMKM diminta menyiapkan katalog lengkap beserta informasi kontak agar calon pembeli dapat dengan mudah melakukan transaksi setelah pameran selesai.
“Setiap kegiatan harus memberi nilai tambah. UMKM harus semakin maju, semakin sejahtera, dan pasarnya semakin luas. Jangan berhenti di pameran saja, tetapi harus menghasilkan transaksi,” katanya.
Dony mengungkapkan, kualitas produk UMKM Sumedang terus menunjukkan perkembangan. Hal itu terlihat dari semakin banyak produk yang lolos proses kurasi untuk tampil pada berbagai pameran bergengsi, termasuk yang difasilitasi Bank Indonesia.
Di sektor pangan, Ubi Cilembu menjadi salah satu contoh produk lokal yang telah berhasil menembus pasar ekspor. Komoditas khas Sumedang tersebut kini dipasarkan ke Malaysia, Jepang, dan Korea berkat cita rasa manis alami yang muncul setelah dipanggang.
“Ubi Cilembu memiliki karakteristik yang tidak dimiliki daerah lain. Walaupun bibitnya ditanam di tempat lain, hasilnya tidak akan sama dengan yang ditanam di Sumedang,” tutur Dony.
Selain Ubi Cilembu, Tahu Sumedang tetap menjadi ikon kuliner yang terus didorong untuk menghadirkan berbagai inovasi produk olahan. Sementara di sektor kerajinan, batik, wayang golek, totopong, serta aneka suvenir bermotif khas Sumedang diproyeksikan menjadi produk kreatif yang mampu memperkuat identitas daerah di pasar nasional maupun internasional.
Tak hanya itu, komoditas hortikultura seperti Sawo Sukatali dan Salak Salembong juga mulai dikembangkan sebagai produk unggulan baru yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Melalui penguatan pembiayaan, inovasi, peningkatan kualitas, dan perluasan pasar, Pemkab Sumedang optimistis semakin banyak UMKM lokal yang mampu naik kelas dan menjadikan produk khas daerah sebagai komoditas berdaya saing global.
Gambar Atas: Ilustrasi AI














