Bandung (BRS) – Industri reksa dana Indonesia memasuki fase akselerasi. Sepanjang 2025, dana kelolaan (asset under management/AUM) melonjak 35,06% menjadi Rp679,24 triliun dari Rp502,92 triliun pada 2024. Ini menjadi pertumbuhan tertinggi dalam lima tahun terakhir, sekaligus sinyal kuat pulihnya kepercayaan publik terhadap instrumen investasi berbasis pasar modal.
Tak hanya reksa dana, total dana kelolaan industri investasi nasional juga menembus Rp1.007,65 triliun atau naik 25,19% secara tahunan. Lonjakan ini mempertegas bahwa minat masyarakat terhadap investasi kian menguat di tengah stabilnya kondisi ekonomi dan pasar keuangan.
Dari sisi produk, reksa dana pendapatan tetap menjadi motor utama pertumbuhan, disusul pasar uang, terproteksi, dan saham. Sementara reksa dana indeks justru terkoreksi. Pola ini menegaskan karakter investor domestik yang masih cenderung konservatif hingga moderat, dengan preferensi pada instrumen berisiko lebih terukur.
Kinerja imbal hasil pun kompetitif. Data Pasardana.id mencatat reksa dana saham mencetak return tertinggi sebesar 17,23%, diikuti campuran 12,48%, pendapatan tetap 6,96%, dan pasar uang 3,18%. Capaian ini selaras dengan reli pasar saham, di mana IHSG melesat 22,13% sepanjang 2025.
Di tengah penguatan kinerja, basis investor terus melebar. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan jumlah investor reksa dana mencapai 19,2 juta SID hingga akhir 2025, naik 3,23% dibandingkan tahun sebelumnya.
Yang menonjol, lebih dari separuh atau 54,24% merupakan investor berusia di bawah 30 tahun, ini menandakan pergeseran demografi investor ke generasi muda.
Namun, peningkatan jumlah investor dinilai belum sebanding dengan potensi populasi usia produktif. Di sinilah tantangan literasi dan inklusi keuangan menjadi krusial.
Merespons hal tersebut, Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization (SRO) menggulirkan program Sosialisasi dan Edukasi Reksa Dana 2026 (SOSEDU APRDI 2026). Program ini dimulai melalui rangkaian “Road to Pekan Reksa Dana 2026” di enam kota besar, termasuk Bandung.
Di Kota Kembang, kegiatan difokuskan pada edukasi jurnalis dan mahasiswa, dua kelompok strategis dalam penyebaran literasi. Kelas edukasi bagi wartawan digelar di Kantor OJK Jawa Barat, sementara sosialisasi kampus menyasar sejumlah perguruan tinggi seperti UPI, UIN Bandung, hingga UNIBI.
Kepala OJK Provinsi Jawa Barat, Darwisman, menekankan pentingnya kualitas informasi dalam mendorong literasi.
“Media memiliki peran strategis dalam membentuk pemahaman publik. Melalui edukasi ini, kami ingin memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat akurat, berimbang, dan mendorong perilaku investasi yang bijak,” kata Darwisman usai sambutan, Senin (20/4/2026).
Senada dengan itu, Kepala Direktorat Pengawasan Pengelolaan Investasi OJK, Evie Sulistyani, menilai ruang pertumbuhan investor masih sangat besar.
“Jumlah investor meningkat, tetapi masih kecil dibandingkan populasi usia produktif. Program PINTAR Reksa Dana menjadi jembatan untuk memperluas akses sekaligus membangun budaya investasi jangka panjang,” katanya.
Sementara Direktur Eksekutif APRDI, Mauldy Rauf Makmur, menyebut momentum pertumbuhan ini harus dimanfaatkan untuk mempercepat inklusi.
“Lonjakan AUM dan dominasi investor muda adalah sinyal positif. Melalui SOSEDU 2026, kami mendorong edukasi yang lebih masif dan kreatif agar masyarakat semakin sadar pentingnya investasi terencana,” ujarnya.
Sebagai penguatan kampanye, APRDI juga menggelar kompetisi jurnalistik dan konten digital dengan total hadiah Rp55 juta. Seluruh karya akan dipublikasikan selama Pekan Reksa Dana 2026 pada 25 April–1 Mei, dengan pengumuman pemenang pada 17 Juni 2026.
Ke depan, OJK bersama pelaku industri membentuk task force untuk memperkuat ekosistem reksa dana sesuai amanat UU P2SK. Langkah ini diarahkan untuk menjaga pertumbuhan tetap berkelanjutan, sekaligus memperluas partisipasi investor ritel di pasar modal Indonesia.









