Fenomena “Lapar Mata”, Antara Euforia Takjil dan Ancaman Mubazir Saat Berbuka”

Foto : ilustrasi/dok. Halodokter

 

Bandung (BRS) – Setiap menjelang waktu berbuka puasa, pemandangan yang sama kerap terulang. Deretan pedagang takjil dipadati pembeli, aneka makanan dan minuman tersaji dengan warna serta aroma yang menggoda.

Kolak, es buah, gorengan, aneka kue basah hingga makanan berat berjejer rapi, seolah memanggil untuk dibawa pulang.

Fenomena ini kerap disebut masyarakat sebagai “lapar mata”. Sebuah kondisi ketika keinginan membeli lebih besar daripada kebutuhan sebenarnya.

Di berbagai sudut kota, di pasar-pasar tradisional, atau di kawasan yang dijadikan pusat kuliner Ramadan, antusiasme warga begitu terasa. Salah satunya terlihat di kawasan Pasar Jembar Awibitung Kota Bandung, yang setiap Ramadan selalu dipenuhi pedagang dan pemburu takjil.

Sejak pukul 16.30 WIB, warga mulai berdatangan, memilih menu berbuka untuk keluarga di rumah. Santi (34), warga Antapani, sengaja datang ke Pasar Jembar ini untuk sekedar mencari takjil. Dan ia mengaku sering kali membeli lebih banyak makanan dari yang bisa dihabiskan.

“Awalnya cuma mau beli kolak sama gorengan. Tapi lihat yang lain kok enak-enak, akhirnya beli es buah, pastel, cireng, sampai ayam bakar. Pas buka, ternyata nggak habis. Besoknya mau dimakan lagi untuk sahur tapi sudah nggak terlalu enak buat dimakan,” ujarnya sambil tersenyum.

Hal serupa diungkapkan Afriza (41), pegawai swasta yang setiap sore berburu takjil sepulang kerja.

“Kebetulan pasar ini satu arah kalau saya pulang kerja, jadi sekalian mampir. Pas lihat ada takjil apa aja, rasanya semua pengen. Mata lebih lapar daripada perut. Tapi pas masuk azan Magrib, dua atau tiga saja sudah kenyang. Sisanya kadang terbuang,” katanya.

Fenomena “lapar mata” ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi fisik setelah seharian menahan lapar dan haus, hingga strategi pemasaran pedagang yang menata dagangannya semenarik mungkin.

Warna-warni minuman segar dan aroma gorengan yang baru diangkat dari penggorengan menjadi kombinasi yang sulit ditolak.

Pimpinan pondok pesantren Aljawahir Ciputat Ust. H. Faisal Abbas, mengingatkan bahwa Islam sangat menekankan sikap sederhana dan tidak berlebihan.

“Allah SWT sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an agar kita tidak berlebih-lebihan. Begitu juga saat menikmati hidangan berbuka. Jadi kalau sampai makanan terbuang, itu jelas bertentangan dengan semangat puasa,” ujarnya.

Menurutnya, berbuka puasa justru dianjurkan secara sederhana dan dengan makanan halal.

“Rasulullah SAW mencontohkan berbuka dengan yang manis dan secukupnya. Bukan dengan pesta makanan. Esensi puasa adalah pengendalian diri, bukan pelampiasan,” tambahnya.

“Kalau memang ingin membeli lebih, niatkan untuk berbagi,” katanya lagi.

Ia juga menilai fenomena “takjil war” perlu disikapi dengan bijak. Antusiasme ekonomi rakyat memang patut disyukuri, karena Ramadan juga menjadi berkah bagi pedagang kecil. Namun di sisi lain, masyarakat tetap perlu bijak agar tidak terjebak perilaku konsumtif.

Siti (52), pedagang kolak, mengaku sering melihat pembeli yang datang dengan daftar panjang belanjaan.

“Kadang saya ingatkan, beli secukupnya saja, Bu. Takutnya nggak habis. Soalnya sering yang beli seperti itu terus besoknya bilang kebanyakan,” tuturnya.

Bagi sebagian warga, Ramadan juga menjadi momentum berbagi. Ironis jika di satu sisi ada makanan terbuang, sementara di sisi lain masih banyak yang membutuhkan.

Namun di balik euforia tersebut, ada persoalan yang patut menjadi perhatian, yakni potensi pemborosan makanan. Sisa takjil yang tidak termakan kerap berakhir di tempat sampah. Padahal, ajaran puasa sendiri menekankan nilai kesederhanaan dan pengendalian diri.

Di sisi lain, pedagang tentu bersyukur dengan tingginya minat beli masyarakat. Ramadan menjadi momentum peningkatan pendapatan yang signifikan. Meski begitu, beberapa pedagang juga mulai mengingatkan pembeli agar berbelanja secukupnya.

“Sekarang saya sering bilang ke pelanggan, beli secukupnya saja. Takutnya mubazir,” ujar Asep (45), penjual gorengan di Pasar Jembar.

Fenomena ini menjadi refleksi bahwa Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari sikap berlebihan. Membeli makanan secukupnya tidak hanya membantu mengurangi pemborosan, tetapi juga mengajarkan disiplin dan empati terhadap sesama.

Dan pada akhirnya, esensi puasa bukan pada seberapa banyak hidangan tersaji, melainkan pada kemampuan mengendalikan diri di tengah godaan yang melimpah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *