KBB (BRS) – Bencana yang melanda Desa Pasir Langu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat pada Sabtu (24/1) tidak hanya meninggalkan dampak fisik, tetapi juga mengguncang kehidupan sosial warga. Di tengah situasi darurat tersebut, relawan Islam Selamatkan Negeri (ISN) bergerak cepat, membangun posko kemanusiaan yang kemudian berkembang menjadi ruang kolaborasi lintas relawan dan masyarakat.
Gerak awal dilakukan sehari setelah bencana. Pada Minggu (25/1), para ketua ISN dari berbagai wilayah berkumpul dalam pertemuan darurat di Lembang untuk merumuskan respons cepat. Keputusan mendirikan Posko ISN di wilayah terdampak diambil setelah mempertimbangkan kebutuhan warga dan urgensi kehadiran relawan di lapangan.
“Sejak awal kami sepakat, posko ini harus dekat dengan warga. Bukan hanya soal bantuan, tapi tentang hadir dan mendampingi,” ucap Koordinator wilayah ISN, Azzam dalam keterangannya, Senin (9/2/2026).
Konsolidasi berlanjut pada Senin (26/1) melalui rapat daring seluruh pengurus kewilayahan. Struktur koordinasi lapangan ditetapkan, dan tim awal diterjunkan untuk melakukan asesmen kebutuhan serta menentukan lokasi posko. Sehari kemudian, relawan mulai menyusun jadwal piket dan memetakan kebutuhan dasar untuk menunjang operasional posko.
Posko ISN resmi beroperasi pada Rabu (28/1). Selain berkoordinasi dengan Posko Gabungan BNPB, relawan juga menjalin komunikasi dengan posko-posko lain di sekitar wilayah terdampak. Upaya ini dilakukan agar bantuan berjalan terintegrasi dan saling menguatkan.
“Kami sadar, bencana ini terlalu besar jika ditangani sendiri. Kolaborasi adalah kunci,” ucapnya.
Salah satu bentuk kolaborasi yang cepat terasa adalah pembukaan program air mineral dan kopi gratis pada Kamis (29/1). Posko ISN yang berada di jalur evakuasi menjadi tempat singgah relawan lintas organisasi, petugas Basarnas, hingga warga yang berjaga malam.
Program sederhana ini justru membuka ruang interaksi yang hangat. Dari obrolan di depan posko, relawan memetakan kebutuhan lapangan, sekaligus membangun kepercayaan dengan warga.
“Kopi dan air itu mungkin terlihat sepele, tapi dari situ kami saling mengenal. Warga merasa ditemani, relawan pun saling menguatkan,” ungkap Zair.
Kehadiran relawan juga menyentuh sisi sosial dan spiritual warga. Pada Jumat (30/1), salah satu relawan ISN dipercaya menjadi khatib di masjid sekitar posko. Hubungan dengan tokoh masyarakat pun semakin erat, membuka jalan bagi berbagai program lanjutan.
Di sisi lain, relawan ISN turut mengawal distribusi air bersih bagi warga yang kehilangan akses akibat jalur air dari gunung terputus pascalongsor. Program ini menjadi salah satu fokus utama karena menyentuh kebutuhan paling dasar warga.
Memasuki awal Februari, perhatian relawan diperluas ke pemulihan mental dan psikososial. Bersama RT dan tokoh masyarakat, relawan menyiapkan kegiatan trauma healing bagi anak-anak dan warga terdampak.
Dukungan dari berbagai pihak terus mengalir. Bantuan sembako, makanan anak, hingga program Jumat Berkah datang dari komunitas dan donatur yang sebelumnya tidak memiliki keterikatan dengan ISN.
“Banyak yang datang membantu tanpa diminta. Ini bukti bahwa kepedulian masih sangat kuat,” jelasnya.
Puncak kegiatan berlangsung pada Minggu (8/2) melalui agenda trauma healing, pembagian sembako, serta kegiatan edukatif untuk anak-anak. Posko ISN juga menerima kunjungan relawan lintas organisasi yang membutuhkan dukungan logistik di lapangan.
Koordinator relawan menegaskan, posko ini bukan sekadar tempat distribusi bantuan, tetapi ruang pemulihan sosial.
“Yang paling penting, warga tahu mereka tidak sendirian. Dari sinilah harapan itu tumbuh,” pungkasnya.
Hingga pertengahan Februari, Posko ISN masih aktif dengan jadwal piket relawan yang berkelanjutan. Kolaborasi yang lahir dari kepedulian bersama ini menjadi fondasi penting dalam mendampingi warga Cisarua bangkit pascabencana.












