Jakarta (BRS) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mengintensifkan percepatan penanganan darurat dan pemulihan awal bencana hidrometeorologi basah yang melanda Provinsi Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara hingga Minggu (18/1/2026). Fokus utama diarahkan pada keselamatan masyarakat terdampak, pemulihan akses vital, serta percepatan transisi menuju hunian yang layak.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa hingga saat ini tidak terdapat penambahan korban jiwa maupun korban hilang di ketiga provinsi tersebut.
“Situasi korban relatif stabil. Tidak ada penambahan korban meninggal maupun hilang. Ini menunjukkan bahwa upaya tanggap darurat dan pengendalian risiko berjalan efektif,” kata Abdul Muhari.
Secara kumulatif, jumlah korban meninggal dunia akibat bencana hidrometeorologi basah tercatat sebanyak 1.199 orang, sementara korban hilang sebanyak 144 orang. Adapun jumlah pengungsi terus menunjukkan tren penurunan, dari sebelumnya 154.973 jiwa menjadi 135.696 jiwa. Penurunan signifikan tercatat di Kabupaten Aceh Tamiang sebanyak 19.988 jiwa, sementara di Kabupaten Nagan Raya terdapat penambahan pengungsi sebanyak 711 jiwa.
Menurut Abdul Muhari, dinamika jumlah pengungsi merupakan bagian dari proses normal penanganan bencana, seiring dengan mulai pulihnya sebagian wilayah dan dilakukannya relokasi sementara di titik-titik tertentu.
“Pengurangan pengungsi terjadi karena sebagian wilayah sudah cukup kondusif untuk ditempati kembali. Namun, kami tetap memastikan seluruh proses berjalan aman dan terpantau,” jelasnya.
Sejalan dengan itu, BNPB bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, serta kementerian dan lembaga terkait terus mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara), pembersihan dan pembukaan akses jalan serta jembatan, hingga pemulihan kawasan permukiman agar masyarakat dapat segera beraktivitas kembali secara normal.
Dari sisi logistik, sejak 29 November 2025 hingga 17 Januari 2026, total bantuan yang telah disalurkan mencapai 1.757,03 ton. Distribusi dilakukan melalui berbagai moda transportasi, meliputi 56 sorti pesawat charter BNPB, 64 sorti pesawat Hercules, 55 truk jalur darat, serta 7 kapal laut.
Khusus pada 17 Januari 2026, distribusi logistik di Provinsi Aceh melalui jalur udara tercatat sebanyak 9 sorti dengan muatan 8 ton, serta melalui jalur darat menggunakan 4 truk dengan muatan 10 ton, sehingga total distribusi harian mencapai 18 ton.
Di Sumatra Utara, bantuan disalurkan melalui 6 truk dengan total muatan 32,59 ton, sementara untuk Sumatra Barat, logistik sebesar 2,84 ton dikirim ke Kabupaten Lima Puluh Kota.
BNPB juga mengakselerasi pembangunan hunian sementara dengan target utama penyelesaian sebelum bulan Ramadan. Dari total 50.367 unit rumah rusak berat, telah diajukan pembangunan huntara sebanyak 27.818 unit. Hingga kini, 6.063 unit masih dalam proses pembangunan, sementara 871 unit telah rampung dan siap dihuni.
Selain itu, pengajuan pembangunan hunian tetap (huntap) tercatat sebanyak 11.736 unit, dengan 648 unit di antaranya telah memasuki tahap konstruksi.
Untuk mendukung kebutuhan dasar masyarakat selama masa transisi, BNPB terus mengoptimalkan skema Dana Tunggu Hunian (DTH). Hingga pertengahan Januari 2026, pengajuan DTH telah mencapai 15.346 kepala keluarga, dengan 10.717 rekening penerima telah siap dan bantuan telah disalurkan kepada 2.695 kepala keluarga.
Dalam rangka mengurangi potensi bencana susulan, BNPB juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah terdampak. Hingga 17 Januari 2026, OMC di Aceh telah dilakukan sebanyak 487 sorti dengan total bahan semai 465.800 kilogram. Di Sumatra Utara tercatat 377 sorti dengan 330.800 kilogram, sementara di Sumatra Barat 403 sorti dengan total bahan semai 400.325 kilogram.
“OMC menjadi langkah mitigasi jangka pendek untuk mengendalikan intensitas hujan, sekaligus memberi ruang bagi proses pemulihan di lapangan agar berjalan lebih optimal,” kata Abdul Muhari.
BNPB menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat koordinasi lintas sektor guna memastikan seluruh tahapan penanganan bencana berjalan efektif, terukur, dan berkelanjutan.
“Dengan sinergi yang solid, kami optimistis pemulihan infrastruktur dasar, penyediaan hunian layak, dan penguatan mitigasi risiko dapat mengembalikan kehidupan masyarakat secara bertahap menuju kondisi yang lebih aman dan tangguh,” pungkas Abdul Muhari.













