Banjir Tutup Sejumlah Lintasan, KAI Batalkan 98 Perjalanan KA

Jakarta (BRS) – PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyampaikan bahwa cuaca ekstrem disertai curah hujan tinggi yang melanda sejumlah wilayah Pulau Jawa berdampak signifikan terhadap operasional perjalanan kereta api. Hingga Minggu (18/1), banjir terpantau mengganggu lintasan di wilayah Daop 4 Semarang dan Daop 1 Jakarta sehingga KAI memberlakukan rekayasa operasi dengan mengedepankan keselamatan perjalanan.

Di wilayah Daop 4 Semarang, banjir terjadi pada petak jalan Stasiun Pekalongan–Stasiun Sragi, tepatnya di Km 88+900 hingga Km 89+100, yang berdampak pada jalur hulu dan hilir. Gangguan dipicu luapan sungai serta jebolnya tanggul akibat hujan berintensitas tinggi dan berdurasi panjang.

Saat ini, perjalanan kereta api hanya dapat dilayani melalui satu jalur hulu dengan pengamanan ketat, termasuk penggunaan lokomotif BB304, sembari menunggu lintasan dinyatakan aman.

Gangguan di lintas tersebut bermula sejak Jumat (16/1) dini hari ketika banjir menggenangi emplasemen Stasiun Pekalongan dan menimbulkan rintang jalan. Penanganan dilakukan melalui penambahan balas dan pengangkatan jalur rel. Namun hujan lebat kembali mengguyur pada malam hari hingga Sabtu (17/1) dini hari, menyebabkan luapan Sungai Bermi dan Sungai Meduri dengan ketinggian genangan mencapai sekitar 23 sentimeter.

Kondisi diperparah pada Minggu pagi akibat jebolnya tanggul di Km 89+100. Proses penanganan dilakukan dengan mempertimbangkan faktor alam, termasuk hujan yang masih berlangsung dan pengaruh pasang laut di pesisir utara Jawa.

Sementara itu, di wilayah Daop 1 Jakarta, genangan air terpantau di sejumlah titik operasional, antara lain emplasemen Stasiun Kampung Bandan, petak jalan Jakarta Kota–Tanjung Priok, emplasemen Jakarta Gudang, Jakarta Kota, serta Sungai Lagoa. Ketinggian air di beberapa lokasi sempat mencapai sekitar 10 sentimeter dari kepala rel.

Untuk menjamin keselamatan, KAI memberlakukan pembatasan kecepatan, pemasangan semboyan pengamanan, serta rekayasa operasional perjalanan KA dan layanan Commuter Line.

Sepanjang periode Jumat, 16 Januari hingga Minggu, 18 Januari 2026, tercatat 593 perjalanan KA antarkota di wilayah Jawa. Dari jumlah tersebut, KAI membatalkan 82 perjalanan KA penumpang antarkota, masing-masing 21 perjalanan pada Jumat (17/1) dan 61 perjalanan pada Minggu (18/1).

Selain itu, 17 perjalanan KA diberlakukan pola operasi memutar melalui lintas Cirebon–Kroya–Yogyakarta–Solo untuk menghindari lintasan terdampak banjir.

Selama periode yang sama, sebanyak 76 perjalanan KA mengalami keterlambatan dengan rata-rata kelambatan sekitar 240 menit. Hingga Minggu siang, 51 perjalanan KA keberangkatan Jumat (17/1) masih dalam perjalanan. Kelambatan tertinggi tercatat pada KA 260B Tawang Jaya relasi Pasar Senen–Semarang Poncol dengan keterlambatan 445 menit untuk keberangkatan, serta KA 21A Argo Muria relasi Semarang Tawang–Gambir dengan keterlambatan 484 menit untuk kedatangan.

Untuk layanan angkutan barang, KAI membatalkan 16 perjalanan KA barang, termasuk relasi Kalimas Surabaya–Tanjung Priok. Pada layanan Commuter Line Jabodetabek, KAI juga melakukan pembatalan sebagian relasi sebagai langkah pengamanan.

Hingga Minggu (18/1) pukul 08.00 WIB, tercatat sebanyak 8.615 tiket Kereta Api Jarak Jauh dibatalkan oleh pelanggan seiring pembatalan perjalanan dan rekayasa operasional akibat banjir.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menegaskan bahwa kondisi ini merupakan force majeure akibat faktor alam di luar kendali perusahaan, sehingga keselamatan pelanggan dan petugas menjadi prioritas utama.

“Dalam kondisi cuaca ekstrem yang menyebabkan genangan dan banjir di lintasan maupun emplasemen, KAI mengambil langkah pengamanan maksimal, termasuk pembatalan dan pengaturan perjalanan. Seluruh keputusan diambil demi keselamatan pelanggan,” kata Bobby., dikutip dari siaran pers KAI, Minggu (18/1/2026).

Senada dengan itu, Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan bahwa pemulihan operasional dilakukan secara bertahap dan terpadu melalui perbaikan prasarana, rekayasa pola operasi, serta penyiapan sarana cadangan.

“Dalam kondisi force majeure ini, KAI memberikan pengembalian bea tiket 100 persen sesuai ketentuan. Di lapangan, KAI juga menggunakan lokomotif BB hidrolis dan CC300 milik DJKA untuk melintasi genangan, dengan konsekuensi penambahan waktu tempuh rata-rata sekitar 150 menit,” jelas Anne.

Anne menambahkan, KAI juga memperkuat langkah preventif jangka panjang melalui koordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait guna meningkatkan ketahanan prasarana perkeretaapian terhadap cuaca ekstrem ke depan.

“Kami mengapresiasi pengertian dan kesabaran pelanggan. KAI akan terus menyampaikan perkembangan kondisi operasional secara berkala. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi akibat banjir,” tutup Anne.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *