“Sudah Jangan ke Jatinangor” Tandai Kembalinya BOSMAT SEVACTER, 1.500 Tiket Ludes

Bandung (BRS) – Seni pertunjukan kabaret kembali menunjukkan daya hidupnya di Bandung. Pementasan kolaboratif bertajuk “Sudah Jangan ke Jatinangor” sukses mencatatkan capaian gemilang dengan menjual habis 1.500 tiket reguler dan re-sale untuk dua hari pertunjukan yang akan digelar di Dago Tea House, Bandung.

Lebih dari sekadar pertunjukan, pementasan ini menjadi penanda kembalinya BOSMAT SEVACTER ke panggung besar setelah menempuh perjalanan panjang selama empat dekade di dunia kabaret dan teater.

Kolaborasi lintas generasi ini sekaligus mempertemukan dua kekuatan kabaret Bandung dalam satu panggung megah.

Disutradarai Dimas Tri Aditio, pertunjukan ini dirancang untuk menegaskan kembali kabaret sebagai pilihan hiburan utama masyarakat, di tengah derasnya arus film dan konten media digital.

Dimas menilai kabaret memiliki identitas kultural yang kuat dan tidak terpisahkan dari Bandung.

“Kabaret itu ikonik di Bandung. Kalau bicara kabaret, itu sudah Bandung pisan,” kata Dimas di Bandung, Rabu (14/1/2026).

Sekitar 120 orang terlibat dalam produksi ini, mulai dari pemain hingga kru. Pementasan merupakan hasil kolaborasi antara Bosmat dari SMA 7 Bandung dan Sepakter dari SMP 7 Bandung, yang kini bersatu dalam entitas BOSMAT SEVACTER sebagai simbol kesinambungan dan regenerasi seni kabaret.

Dari sisi artistik, “Sudah Jangan ke Jatinangor” mengusung pendekatan komedi dua warna khas Bosmat yang dipadukan dengan drama emosional.

Racikan tersebut menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak penonton bernostalgia pada kejayaan kabaret Bandung di masa lalu.

Penggarapan kreatif turut diperkuat oleh Tatan Oscar, junior sekaligus rekan regenerasi Dimas.

Secara naratif, pertunjukan ini menyuguhkan kisah romantis-komedi bernuansa tragis yang terinspirasi dari lirik lagu karya Pidi Baiq.

“Cerita berpusat pada perjuangan seseorang yang mempertahankan cinta ketika sang kekasih harus pindah kuliah ke Jatinangor,” tutur Dimas.

Tema cinta dipilih karena sifatnya yang universal. Menurutnya, kisah ini merangkum berbagai lapisan emosi, mulai dari persahabatan, pengkhianatan, hingga relasi dengan orang tua, yang dekat dengan realitas generasi muda. Antusiasme publik yang tinggi tak lepas dari kekuatan strategi pemasaran digital.

Sementara itu, Produser pertunjukan, Argan Hasta Nugraha, mengungkapkan penjualan tiket sempat berjalan lambat sebelum satu konten media sosial tim produksi viral dan menembus lebih dari 300 ribu penayangan di laman For Your Page (FYP).

“Fans Ayah Pidi Baiq besar sekali, terutama dari lagu Sudah Jangan ke Jatinangor. Ketika konten itu naik, penikmat musik, fans Pidi Baiq, dan orang-orang kabaret sama-sama merespons,” ungkap Argan.

Argan menambahkan, adaptasi karya Pidi Baiq ke format kabaret menjadi daya tarik tersendiri. Selama ini, karya Pidi Baiq dikenal luas lewat film dan musik, namun belum pernah dihadirkan secara utuh dalam medium kabaret.

Pertunjukan “Sudah Jangan ke Jatinangor” akan digelar pada 7–8 Februari 2026 di Dago Tea House Bandung dengan total lima sesi. Sesi malam pada hari Sabtu ditetapkan sebagai Special Show, yang direncanakan akan dihadiri langsung oleh Pidi Baiq.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *