Bandung (BRS) – Dalam Annual Investment Meeting (AIM Global) ”The Investment Paradigm Shift: Future Investment Opportunities To Foster Sustainable Economic Growth, Diversity and Prosperity” yang diselenggarakan oleh AIM Foundation berkolaborasi bersama WHO pada 8-10 Mei 2023 lalu di Abu Dhabi-United Arab Emirates, Bio Farma membagikan kisah dan pelajaran penting saat menghadapi Covid-19.
Dalam siaran pers yang diterima Redaksi, Jumat (12/5/2023), disebutkan bahwa Direktur Operasi Bio Farma, Rahman Roestan menjadi salah satu narasumber yang mengangkat tema ”Investing in Innovation and Technology Transfers To Improve Access and Health, Pharmaceutical Industry Perspective”.
Dalam paparannya kala itu, Rahman menyampaikan mengenai Industri Farmasi dalam menumbuhkan sinergi dan kemitraan untuk memberikan solusi komprehensif kesehatan dan permasalahan penyakit di Indonesia dan Kawasan Asia.
Diceritakan Rahman, pada awal tahun 2020, pemerintah Indonesia membentuk Perusahaan Induk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kesehatan dengan menggabungkan tiga BUMN yang sudah memiliki keunggulan masing-masing, yaitu Bio Farma dengan produk life science, Kimia Farma dengan chemical medicines dan Indofarma dengan herbal medicines & medical devices.
”Tujuan utamanya adalah memberikan solusi yang komprehensif untuk masalah kesehatan dan penyakit di Indonesia dan Kawasan Asia, memperkuat kemandirian industri farmasi nasional, meningkatkan ketersediaan dan keterjangkauan produk kesehatan, serta menciptakan inovasi bersama dalam penyediaan obat-obatan dan produk kesehatan untuk mendukung ekosistem kesehatan,” sebut Rahman.
Dia menegaskan, pandemi Covid-19 mengajarkan banyak hal terutama di bidang kesehatan masyarakat terkait kesiapan industri dalam membangung kolaborasi atau kemitraan strategis, transfer teknologi, manajemen rantai dingin hingga sistem Distribusi Track & Trace.
Menyikapi hal itu, papar Rahman, Bio Farma telah membangun kolaborasi dengan berbagai pihak untuk percepatan penanganan pandemi Covid-19, salah satunya berkolaborasi dengan CEPI.
CEPI merupakan kemitraan global inovatif antara organisasi publik, swasta, filantropi, dan masyarakat sipil, untuk mengembangkan vaksin sebagai persipan menghadapi pandemi dan epidemi.
”Kolaborasi dapat menyelamatkan dunia dari pandemi. Pada masa pandemi, Bio Farma telah menerapkan Sistem Manajemen Distribusi Vaksin (SMDV) berupa Track and Trace, yang merupakan hasil inovasi perusahaan, untuk menjamin keamanan vaksin, kecepatan pengiriman, ketepatan waktu dan kepuasan pelanggan. SMDV ini menerapkan Internet of Things (IoT), yang dipergunakan untuk memantau suhu dari vaksin Covid-19,” paparnya.
Bio Farma telah menerapkan berbagai strategi dalam mencapai tujuan nasional dan regional keamanan vaksin, obat, dan diagnostik. Di antaranya adalah menegakkan kebijakan tentang kemandirian vaksin dan obat.
“Lalu menyusun rencana kesiapsiagaan pandemi, penelitian dan pengembangan kolaboratif, akuisisi teknologi, digitalisasi proses, kapasitas dalam pembuatan vaksin dan obat-obatan,” kata Rahman.
”Yang tidak kalah penting adalah mengharmonisasi Peraturan Daerah,” imbuhnya.
Di akhir paparannya, Rahman juga membahas kurangnya akses mendapatkan vaksin, obat-obatan, alat pelindung diri, kit diagnostik dan produk kesehatan prioritas lainnya. Termasuk, akses yang tidak merata dan tidak tepat waktu juga menjadi masalah terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah selama pandemi Covid-19.
Untuk diketahui, Annual Investment Meeting (AIM) merupakan acara yang diselenggarakan setiap tahun di Uni Emirat Arab sebagai platform bagi semua sektor untuk berdiskusi secara terbuka mengenai tren dan peluang investasi terkini, memiliki kesempatan untuk bertukar ide dan menjajaki kemitraan potensial.
Acara ini dihadiri oleh lebih dari 20 ribu peserta yang terdiri atas top executives, decision makers, pemimpin perusahaan, pemerintah, dan perwakilan masyarakat dari 170 negara.













