99 Jurnalis Ikuti Pelatihan AI, Akurasi dan Etika Jadi Fokus

Bandung (BRS) – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam kerja jurnalistik menuntut jurnalis tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu menjaga akurasi, etika, dan kredibilitas informasi. Untuk memperkuat kapasitas tersebut, program AI for Journalism menggelar pelatihan tatap muka di Jakarta dan Bandung yang diikuti 99 peserta.

Pelatihan ini merupakan bagian dari program AI for Journalism: Penguatan Jurnalisme melalui Pemanfaatan Kecerdasan Buatan yang Bertanggung Jawab, hasil kolaborasi Digital Access Programme British Embassy Jakarta dan Alunjiva Indonesia.

Sebanyak 99 peserta mengikuti pelatihan luring di Jakarta pada 3 Oktober 2026 dan Bandung pada 10 Oktober 2026. Kegiatan tersebut menjadi kelanjutan pembelajaran daring selama enam hari yang dirancang untuk membekali peserta dengan pemahaman dan keterampilan menggunakan AI dalam praktik jurnalistik.

Program yang resmi dimulai pada 28 Agustus 2026 itu diikuti 487 jurnalis muda dari berbagai wilayah di Indonesia. Pelaksanaannya didukung para pelatih yang sebelumnya telah mengikuti Training of Trainers (ToT).

Co-Founder Alunjiva Indonesia, Fany Efrita, mengatakan rangkaian program ini tidak berhenti pada kegiatan pembukaan maupun pembelajaran daring. Peserta didorong untuk terus memahami perkembangan AI sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritis dalam penggunaannya.

“Peserta akan terus didorong untuk memahami perkembangan AI dalam dunia jurnalistik sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam pemanfaatannya, dengan tetap mempertahankan akurasi, etika, dan tanggung jawab kepada publik,” ujar Fany.

Untuk memperkuat pemahaman peserta, program AI for Journalism mengembangkan enam modul pembelajaran yang mencakup aspek teknis, etika, regulasi, hingga hubungan jurnalis dengan audiens di tengah perkembangan teknologi.

Keenam modul tersebut meliputi Dasar-dasar AI dan Transformasi Ruang Redaksi; Produksi Konten Jurnalistik dengan Bantuan AI; AI dan Jurnalisme Data; Verifikasi dan Pemeriksaan Fakta; Etika, Tata Kelola, dan Kerangka Hukum AI dalam Jurnalisme Indonesia; serta Kepercayaan Audiens, Keterlibatan Audiens, dan Keterampilan Masa Depan Jurnalis.

Rangkaian materi tersebut dirancang untuk memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai peluang dan tantangan penggunaan AI dalam dunia jurnalistik. Peserta tidak hanya mempelajari pemanfaatan perangkat AI untuk mendukung produksi konten, tetapi juga diajak memahami pentingnya verifikasi informasi, perlindungan privasi, kepatuhan terhadap kerangka hukum, serta pemeliharaan kepercayaan publik.

Dalam pendekatan pembelajaran ini, AI ditempatkan sebagai alat pendukung kerja jurnalistik. Pemanfaatannya tetap harus mempertimbangkan akurasi, etika, kredibilitas, dan tanggung jawab jurnalis terhadap informasi yang disampaikan kepada masyarakat.

Selama pelatihan tatap muka, peserta mengikuti praktik langsung (hands-on practice), diskusi kelompok, pembahasan studi kasus, pemecahan masalah secara kolaboratif, hingga presentasi. Metode tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk menerapkan materi yang diperoleh selama pembelajaran daring ke dalam situasi nyata di lingkungan kerja masing-masing.

Sesi luring juga menjadi ruang pertukaran pengalaman bagi para jurnalis untuk membahas tantangan penggunaan AI di ruang redaksi, termasuk bagaimana memanfaatkan teknologi secara efektif tanpa mengabaikan proses verifikasi dan penilaian jurnalistik.

Selain memperkuat materi dan metode pelatihan, program ini turut memperhatikan aspek aksesibilitas agar proses pembelajaran dapat menjangkau peserta dengan kebutuhan yang beragam.

Learning Management System (LMS) yang dikembangkan untuk mendukung pembelajaran daring telah mempertimbangkan kebutuhan aksesibilitas peserta. Dukungan juru bahasa isyarat juga disediakan pada sesi pembelajaran yang memerlukannya.

Pendekatan tersebut memungkinkan peserta dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk mereka yang mengikuti seluruh kegiatan secara daring, tetap memperoleh kesempatan untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

Melalui rangkaian kegiatan ini, AI for Journalism berupaya memperkuat kapasitas jurnalis dalam memahami dan memanfaatkan perkembangan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab, sekaligus menjaga prinsip-prinsip jurnalistik yang menjadi landasan dalam menghasilkan informasi bagi publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *