Jakarta (BRS) – Sektor jasa keuangan Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kondisi sektor jasa keuangan tetap stabil dengan fundamental industri yang solid, meski ketidakpastian geopolitik dan pengetatan kebijakan moneter global masih berlangsung.
Penilaian tersebut menjadi salah satu hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK pada 30 September 2026 lalu. OJK mencermati pertumbuhan ekonomi global tahun ini yang diperkirakan lebih rendah dibandingkan 2025, meski proyeksinya membaik dari perkiraan sebelumnya.
Pertumbuhan global masih ditopang peningkatan investasi dan perdagangan yang berkaitan dengan pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, momentum tersebut menghadapi sejumlah risiko, terutama kenaikan inflasi akibat eskalasi konflik geopolitik yang kembali mendorong harga minyak.
Selain itu, fenomena very strong El Nino berpotensi meningkatkan harga pangan dan komoditas pertanian. Tekanan inflasi tersebut mendorong kebijakan suku bunga global bertahan pada level tinggi dalam waktu lebih lama.
Di tengah kondisi global tersebut, perekonomian domestik relatif stabil. Inflasi Indonesia masih terjaga sesuai target pemerintah sehingga permintaan domestik dan konsumsi masyarakat tetap kuat. Kondisi tersebut turut menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
OECD bahkan meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 0,5 persen. Hal itu mencerminkan kepercayaan terhadap daya tahan perekonomian nasional di tengah tingginya ketidakpastian global.
Ketahanan sektor keuangan terlihat dari kinerja intermediasi perbankan. Pada Agustus 2026, pertumbuhan kredit meningkat menjadi 13,65 persen secara tahunan atau year on year (yoy), dari 13,58 persen yoy pada Juli 2026. Total penyaluran kredit mencapai Rp9.178 triliun.
Berdasarkan penggunaannya, kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 25,11 persen yoy. Berikutnya kredit modal kerja tumbuh 11,45 persen yoy dan kredit konsumsi 5,07 persen yoy.
Dari sisi debitur, kredit korporasi menjadi yang tumbuh paling tinggi dengan kenaikan 22,18 persen yoy. Sementara kredit UMKM juga melanjutkan tren positif dengan pertumbuhan 2,32 persen yoy, meningkat dari 1,62 persen yoy pada Juli 2026.
Kredit bank BUMN mencatat pertumbuhan tertinggi berdasarkan kepemilikan, yakni 16,41 persen yoy.
Di sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 10,94 persen yoy menjadi Rp10.413 triliun. Pertumbuhan terbesar berasal dari deposito yang naik 13,10 persen yoy, disusul giro 9,82 persen dan tabungan 9,56 persen.
Likuiditas perbankan juga masih berada pada level memadai. Rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) tercatat 102,31 persen, sedangkan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) mencapai 23,04 persen. Keduanya masih berada di atas ambang masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen.
Sementara Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada pada level 187,1 persen.
Dari sisi kualitas kredit, rasio Non-Performing Loan (NPL) gross berada di level 2,11 persen dan NPL net 0,84 persen. Loan at Risk (LaR) tercatat 8,56 persen. Adapun Return on Asset (ROA) perbankan berada di level 2,43 persen.
Ketahanan perbankan juga tercermin dari Capital Adequacy Ratio (CAR) yang meningkat menjadi 24,10 persen dari 23,84 persen pada Juli 2026.
Selain perbankan, sektor pasar modal tetap menjadi bagian penting dalam pembiayaan ekonomi. Meski IHSG pada akhir September 2026 berada di level 6.071,14 atau terkoreksi 6,96 persen secara bulanan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan 29,79 persen secara year to date (ytd), aktivitas penghimpunan dana korporasi masih tinggi.
Dari awal Januari hingga 5 Oktober 2026, total nilai Penawaran Umum mencapai Rp186,03 triliun. Angka tersebut berasal dari tujuh IPO, 18 Penawaran Umum Terbatas, 11 Penawaran Umum EBUS dan 123 Penawaran Umum Berkelanjutan EBUS.
Pada pipeline, terdapat 29 rencana Penawaran Umum dengan nilai indikatif Rp26,47 triliun.
Jumlah investor pasar modal juga terus meningkat. Pada September 2026 saja terdapat tambahan 1,03 juta investor baru. Secara ytd, jumlah investor tumbuh 57,96 persen menjadi 32,17 juta investor.
Di industri asuransi, total aset mencapai Rp1.200,55 triliun per Agustus 2026 atau tumbuh 2,56 persen yoy. Aset asuransi komersial mencapai Rp982,18 triliun dengan akumulasi pendapatan premi Rp255,40 triliun.
Sementara aset dana pensiun tumbuh 6,99 persen yoy menjadi Rp1.724,14 triliun. Program pensiun wajib menyumbang aset Rp1.311,75 triliun atau tumbuh 7,86 persen yoy.
Di sektor pembiayaan, piutang perusahaan pembiayaan pada Agustus 2026 mencapai Rp514,08 triliun atau tumbuh 1,68 persen yoy. Risiko industri masih terjaga dengan NPF gross 3,04 persen dan gearing ratio 2,04 kali.
Sementara pembiayaan pinjaman daring tumbuh 22,07 persen yoy menjadi Rp106,94 triliun. Industri pergadaian juga tumbuh 44,60 persen yoy dengan total pembiayaan Rp156,61 triliun.
OJK memproyeksikan sektor jasa keuangan tetap tumbuh positif hingga akhir 2026, meski dengan laju yang lebih moderat seiring tekanan ekonomi global dan dinamika pasar keuangan.









