Batavia Mood Buktikan Regenerasi Keroncong Hadir di SKF 2026

Solo (BRS) – Regenerasi musik keroncong menjadi warna tersendiri dalam gelaran Solo Keroncong Festival (SKF) 2026. Orkes Keroncong Batavia Mood memilih menghadirkan konsep berbeda dengan melibatkan para pelajar SMA Pangudi Luhur Jakarta untuk tampil bersama di panggung Alun-Alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta.

Bukan sekadar kolaborasi, keterlibatan para siswa menjadi bukti bahwa musik keroncong masih mampu menarik minat generasi muda. Di bawah arahan Ages Dwiharso, para pelajar mendapat kesempatan merasakan pengalaman tampil di panggung festival nasional bersama musisi yang lebih senior.

Ages mengatakan, konsep yang dibangun lebih menekankan proses pendampingan dibanding menampilkan aransemen yang rumit. Menurutnya, pengalaman tampil dan belajar bersama menjadi bekal penting untuk melahirkan generasi penerus keroncong.

“Konsep kami sederhana, bagaimana kakak-kakak dari Batavia Mood membimbing adik-adik dari SMA Pangudi Luhur. Yang paling penting adalah semangat menjaga keroncong tetap hidup dan terus berkembang,” ujarnya di Solo, Sabtu (18/7).

Dalam penampilannya nanti, Batavia Mood menghadirkan pemain flute, biola, dan vokalis utama, sementara delapan pelajar SMA Pangudi Luhur lainnya mengisi berbagai instrumen, mulai dari bass, cello, cuk, cak, gitar, piano hingga vokal. Formasi tersebut disusun secara fleksibel agar setiap siswa memperoleh kesempatan belajar sekaligus tampil di atas panggung.

Meski waktu latihan terbatas karena aktivitas sekolah, Ages menilai antusiasme para pelajar menjadi modal utama dalam menjaga eksistensi musik keroncong.

“Kami memang tidak membuat aransemen yang terlalu rumit. Yang kami bangun adalah semangat anak-anak untuk ikut mengambil bagian dalam pelestarian musik keroncong,” katanya.

Sebagai pembina komunitas keroncong di SMA Pangudi Luhur, Ages berharap semakin banyak anak muda yang berani menekuni musik tradisional. Ia meyakini setiap generasi akan menghadirkan karakter dan warna baru, namun tetap membawa semangat yang sama untuk menjaga warisan budaya Indonesia.

“Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa keroncong memiliki generasi penerus. Setiap angkatan akan membawa karakter dan warna baru, tetapi semangat melestarikan musik tradisional Indonesia harus tetap ada,” tuturnya.

Kolaborasi Batavia Mood bersama pelajar SMA Pangudi Luhur pun menjadi pesan kuat bahwa masa depan musik keroncong tidak hanya bergantung pada para pelaku seni senior, tetapi juga pada lahirnya generasi muda yang siap melanjutkan estafet pelestarian musik khas Indonesia tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *