Jakarta (BRS) – PT Bio Farma (Persero) memperkuat sinergi strategis dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) melalui audiensi yang digelar di Kantor BPOM, Jakarta. Pertemuan antara Bio Farma dan BPOM ini menjadi langkah penting dalam mendorong ketahanan kesehatan nasional sekaligus meningkatkan daya saing vaksin dan produk biologi Indonesia di tingkat global.
Audiensi dihadiri langsung oleh Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, bersama jajaran, serta Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, didampingi direksi. Fokus utama pembahasan adalah penguatan peran BPOM sebagai WHO Listed Authority (WLA), sebuah pengakuan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap sistem regulasi obat dan vaksin yang telah memenuhi standar internasional.
Status WLA dinilai sebagai momentum besar bagi Indonesia untuk meningkatkan kepercayaan global terhadap kualitas produk kesehatan dalam negeri. Dengan pengakuan ini, peluang ekspor vaksin nasional diyakini semakin terbuka lebar.
Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, menegaskan bahwa pencapaian BPOM menjadi fondasi penting bagi industri farmasi nasional untuk naik kelas di pasar global.
“Kami mengapresiasi pencapaian BPOM RI sebagai WHO Listed Authority. Ini bukan hanya kebanggaan regulator, tetapi juga menjadi modal besar bagi industri nasional untuk semakin dipercaya di pasar internasional,” tegas Shadiq, dikutip dari siaran pers Bio Farma, Selasa (28/4/2026).
Shadiq menambahkan, kolaborasi erat antara Bio Farma dan BPOM menjadi kunci dalam memastikan setiap produk vaksin dan biologi memenuhi standar keamanan, mutu, dan khasiat yang diakui dunia.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak juga membahas sejumlah agenda strategis, mulai dari penguatan pengawasan dan pengembangan vaksin, percepatan proses registrasi dan sertifikasi, hingga peluang kolaborasi untuk memperluas pasar global industri life science Indonesia.
Sebagai BUMN yang bergerak di sektor life science dan bagian dari ekosistem Danantara, Bio Farma memiliki peran penting dalam transformasi industri kesehatan nasional. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan kapasitas produksi, inovasi produk, serta ekspansi kerja sama internasional.
“Kami berkomitmen tidak hanya pada kinerja bisnis, tetapi juga pada manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan kesehatan global. Kolaborasi dengan BPOM dan pemangku kepentingan akan terus diperkuat agar produk Indonesia semakin kompetitif,” tambah Shadiq.
Penguatan sistem regulasi melalui status WLA juga diharapkan mampu mempercepat proses registrasi produk di negara tujuan ekspor. Hal ini menjadi krusial di tengah perubahan lanskap global, di mana pengadaan vaksin kini cenderung mengarah pada kerja sama subregional dan bilateral.
Dengan pengalaman panjang sebagai produsen vaksin, Bio Farma terus memperluas peran dalam diplomasi kesehatan Indonesia. Kerja sama strategis telah dijajaki dengan berbagai negara di kawasan ASEAN, Afrika, Timur Tengah, hingga Asia Selatan.
Selain itu, Bio Farma juga aktif mendorong transfer teknologi, pengembangan kapasitas, dan kolaborasi riset sebagai bagian dari kontribusi Indonesia dalam memperkuat ketahanan vaksin global, khususnya bagi negara berkembang.
Melalui sinergi antara regulator dan industri, Bio Farma optimistis Indonesia mampu menjadi pemain kunci dalam ekosistem kesehatan global, dengan menghadirkan produk vaksin dan biologi yang aman, bermutu, dan berdaya saing tinggi.













