Foto : ilustrasi (freepik)
Bandung (BRS) – Perayaan Tahun Baru Imlek bukan sekadar pergantian kalender lunar. Di Bandung, Imlek menjadi momentum budaya yang menghadirkan perpaduan tradisi, kuliner, doa, dan kebersamaan lintas generasi. Dari meja makan keluarga hingga kawasan Pecinan lama, suasana merah dan emas kembali mewarnai Kota Kembang.
Denyut perayaan paling terasa di kawasan Jalan Kelenteng dan sekitarnya. Di sana berdiri Vihara Satya Budhi, salah satu vihara tertua di Bandung yang setiap Imlek dipadati umat untuk bersembahyang. Lampion merah menggantung berderet, aroma dupa memenuhi udara, dan doa-doa dipanjatkan sebagai ungkapan syukur sekaligus harapan akan tahun yang lebih baik.
Selain Jalan Kelenteng, atmosfer Imlek juga terasa di kawasan Jalan ABC, Cibadak, dan Pasar Baru. Toko-toko menghias etalase dengan ornamen khas Tionghoa, mulai dari lampion, karakter shio, hingga pernak-pernik berwarna merah yang dipercaya membawa keberuntungan.
Imlek identik dengan ragam kuliner simbolik yang sarat makna. Kue keranjang atau nian gao hampir selalu hadir di setiap rumah. Berwarna coklat dengan teksturnya yang lengket melambangkan eratnya hubungan keluarga, sementara rasa manisnya menjadi simbol harapan hidup yang semakin manis dari tahun ke tahun.
Di meja makan saat malam tahun baru, ada hidangan ikan utuh kerap disajikan sebagai lambang kelimpahan. Lalu mie panjang umur yang menjadi doa untuk kesehatan dan usia yang panjang. Pangsit yang bentuknya menyerupai emas batangan melambangkan rezeki dan kemakmuran. Sementara jeruk mandarin disusun rapi sebagai simbol keberuntungan.
Foto: kue keranjang (dok. Arashi)
Tradisi makan malam bersama keluarga besar tetap menjadi inti perayaan. Meski zaman berubah dan gaya hidup semakin modern, kebersamaan pada malam pergantian tahun Imlek masih dijaga banyak keluarga Tionghoa di Bandung.
Selain itu, pembagian angpao menjadi momen yang paling dinanti anak-anak. Amplop merah berisi uang diberikan kepada mereka yang belum menikah sebagai simbol doa, keberkahan, dan perlindungan dari energi negatif. Warna merah dalam budaya Tionghoa diyakini membawa hoki sekaligus menangkal kesialan.
Kemeriahan Imlek juga diramaikan pertunjukan barongsai dan liong yang kerap hadir dan tampil di pusat perbelanjaan maupun ruang publik. Tabuhan genderang yang ritmis dan gerakan lincah barongsai bukan sekadar hiburan, melainkan simbol pengusir roh jahat serta pembawa keberuntungan.
Salah satu titik penting lainnya adalah Klenteng Dharma Ramsi, yang juga menjadi pusat kegiatan ibadah dan budaya saat Imlek. Di kawasan ini, warga tak hanya datang untuk berdoa, tetapi juga menikmati suasana khas Pecinan yang masih terasa kuat.
Dalam beberapa tahun terakhir, perayaan Imlek di Bandung semakin inklusif. Warga lintas suku dan agama turut menikmati festival, pertunjukan seni, hingga wisata kuliner musiman. Imlek tak lagi dipandang semata sebagai perayaan etnis, melainkan bagian dari kekayaan budaya kota.
Modernisasi memang membawa penyesuaian. Ucapan selamat kini ramai dibagikan melalui media sosial. Angpao tak jarang dikirim secara digital. Namun, esensi perayaan tetap sama, yaitu refleksi, doa, dan harapan baru.
Lampion-lampion yang menyala di Pecinan Bandung bukan hanya dekorasi, tetapi simbol optimisme. Dari kue keranjang hingga tawa anak-anak menerima angpao, Imlek terus hidup sebagai tradisi yang beradaptasi tanpa kehilangan makna.
Di tengah dinamika kota yang terus bergerak, Imlek menjadi pengingat bahwa akar budaya tetap penting dirawat. Bandung bukan hanya kota kreatif, tetapi juga ruang perjumpaan tradisi yang terus menyala dari generasi ke generasi.















