Jakarta (BRS) – PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus memperkuat layanan KRL Commuter Line Jabodetabek guna menjawab tingginya mobilitas masyarakat di kawasan aglomerasi Jakarta. Penguatan dilakukan melalui modernisasi sarana dan prasarana seiring tren pertumbuhan jumlah penumpang yang konsisten meningkat.
Sebagai salah satu wilayah urban terbesar di Indonesia, Jabodetabek mencatat mobilitas harian jutaan orang. KRL menjadi moda transportasi massal berkapasitas besar yang menopang aktivitas ekonomi dan produktivitas kawasan.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyampaikan, penguatan layanan KRL merupakan kebutuhan mendasar untuk mendukung pertumbuhan wilayah aglomerasi.
“Setiap hari, KRL melayani lebih dari satu juta masyarakat Jabodetabek. Ini bukan sekadar layanan transportasi, tetapi infrastruktur produktivitas kota dan penggerak utama aktivitas ekonomi kawasan,” kata Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat bersama DPR RI, Kamis (12/2/2026).
KAI memproyeksikan volume penumpang KRL Jabodetabek mencapai 437 juta penumpang pada 2030, meningkat dari realisasi sekitar 339 juta penumpang pada 2025. Dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 4 persen per tahun, jumlah pengguna harian diperkirakan mendekati 2 juta orang per hari pada 2030.
Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, KAI melakukan penguatan sarana melalui kombinasi dukungan pemerintah dan investasi korporasi. Saat ini telah beroperasi 11 trainset KRL produksi CRRC dan 4 trainset produksi PT INKA (Persero). Selain itu, KAI menandatangani kontrak pengadaan 16 trainset atau 192 unit KRL produksi PT INKA senilai Rp3,85 triliun. Sebanyak 11 rangkaian ditargetkan mulai beroperasi pada 2026 sebagai bagian dari program regenerasi sarana.
“Kami memastikan pengadaan dilakukan melalui berbagai skema pendanaan, baik dukungan pemerintah maupun investasi perusahaan, agar kapasitas layanan terus bertumbuh sesuai kebutuhan mobilitas,” kata Bobby.
Secara keseluruhan, KAI mengoperasikan 1.088 unit KRL, dengan sebagian sarana telah berusia di atas 30 tahun dan akan diregenerasi secara bertahap demi menjaga keselamatan dan kenyamanan penumpang.
Dukungan pemerintah pusat juga terus menguat. Dalam peresmian Stasiun Tanah Abang Baru pada 4 November 2025, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan komitmen pengembangan KRL dengan alokasi pendanaan hingga Rp5 triliun. Dukungan tersebut diarahkan untuk penambahan rangkaian, peningkatan kapasitas, dan penguatan sistem operasional di jalur-jalur utama.
Selain pengadaan sarana, KAI mendorong modernisasi prasarana melalui peningkatan kapasitas kelistrikan di lintas padat seperti Manggarai–Bogor dan Manggarai–Bekasi, pembaruan sistem operasi untuk meningkatkan ketepatan waktu dan frekuensi perjalanan, serta penguatan integrasi layanan di simpul transportasi utama.
Elektrifikasi lintas KRL telah mencapai 474,942 kilometer pada periode 2017–2018, mencakup Bogor Line, Bekasi Line, Serpong Line, Tangerang Line, dan Tanjung Priok Line.
“Sarana baru harus ditopang sistem kelistrikan, persinyalan, dan stasiun yang siap menghadapi pertumbuhan penumpang. Modernisasi prasarana menjadi fondasi dalam menjaga stabilitas dan kualitas layanan,” ujar Bobby.












