Jakarta (BRS) – PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus menyesuaikan layanan perkeretaapian dengan dinamika mobilitas masyarakat di wilayah barat Jawa yang kian berkembang. Berbagai masukan publik terkait kebutuhan transportasi di wilayah kulon dipetakan secara berkelanjutan dan menjadi dasar pengembangan layanan yang dilakukan bertahap serta terukur.
Pertumbuhan kebutuhan mobilitas ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi regional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menunjukkan wilayah barat Jawa, meliputi Kabupaten Tangerang, Serang, Lebak, dan Pandeglang, mengalami akselerasi ekonomi yang ditopang sektor perdagangan, pertanian, serta pergerakan tenaga kerja menuju kawasan Jabodetabek. Kondisi tersebut mendorong tingginya permintaan terhadap transportasi publik yang andal, terjadwal, dan terintegrasi.
Sebagai respons atas kebutuhan tersebut, KAI menghadirkan Stasiun Jatake di Kabupaten Tangerang sebagai simpul layanan baru. Sejak mulai beroperasi pada 28 Januari hingga 5 Februari 2026, stasiun ini mencatat 7.936 pengguna gate in dan 8.206 pengguna gate out. Angka ini menunjukkan tingginya kebutuhan akses kereta api yang lebih dekat dengan kawasan permukiman dan pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Peningkatan mobilitas wilayah kulon juga tercermin pada kinerja Commuter Line Tanah Abang–Rangkasbitung. Sepanjang 2025, lintas ini melayani 77.552.716 pengguna, meningkat signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tren ini menegaskan peran kereta api perkotaan sebagai tulang punggung mobilitas harian masyarakat penyangga Jakarta.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan bahwa pengembangan layanan di wilayah barat dilakukan dengan mempertimbangkan kesiapan infrastruktur dan pertumbuhan kebutuhan masyarakat.
“Masukan masyarakat telah kami petakan secara menyeluruh. KAI meresponsnya melalui peningkatan layanan yang dilakukan bertahap, sejalan dengan penguatan infrastruktur agar operasional tetap aman, tertib, dan berkelanjutan,” kata Anne, Jumat (6/2/2026).
Penguatan infrastruktur menjadi fondasi utama pengembangan layanan tersebut. Pada 2017–2018, KAI bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan menyelesaikan elektrifikasi jalur kulon sepanjang ±72,8 kilometer, meliputi lintas Tanah Abang–Rangkasbitung. Elektrifikasi ini meningkatkan kapasitas dan keandalan layanan perjalanan kereta listrik di wilayah barat.
Seiring penguatan infrastruktur, pola operasional juga terus disesuaikan. Jumlah perjalanan Commuter Line Tangerang Line meningkat dari 90 perjalanan per hari pada 2015 menjadi 122 perjalanan per hari pada 2025, mencerminkan adaptasi layanan terhadap pertumbuhan mobilitas jangka panjang.
Peran strategis wilayah barat juga terlihat pada lintas Merak yang terhubung langsung dengan pelabuhan penyeberangan menuju Sumatra. Dalam lima tahun terakhir, jumlah pengguna Commuter Line Merak meningkat lebih dari empat kali lipat, menandakan semakin besarnya peran kereta api sebagai moda transportasi regional.
Menjawab karakteristik ekonomi lokal, KAI Commuter sejak 1 Desember 2025 mengoperasikan kereta khusus petani dan pedagang lintas Merak–Rangkasbitung. Layanan ini melayani 14 perjalanan per hari, berhenti di seluruh stasiun, dengan tarif Rp3.000 per perjalanan. Hingga 31 Januari 2026, layanan ini telah dimanfaatkan oleh 8.650 pelanggan, dengan Stasiun Cikeusal sebagai stasiun dengan aktivitas tertinggi.
Seluruh pengembangan layanan dilakukan melalui koordinasi intensif dengan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, mulai dari tahap perencanaan hingga operasional, guna memastikan layanan sesuai standar perkeretaapian nasional.
Ke depan, KAI akan terus mengembangkan layanan perkeretaapian perkotaan secara bertahap, sejalan dengan penguatan infrastruktur dan peningkatan konektivitas antarlayanan.
“Langkah ini diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara tingginya kebutuhan mobilitas masyarakat, kelancaran aktivitas ekonomi, serta kenyamanan pengguna jasa kereta api di wilayah barat Jawa,” pungkasnya.








