[ad_1]
Dinamika persoalan sosial Kota Bandung menjadi ekses tidak meratanya pembangunan di daerah tetangga. Sebagai bukti nyata, 80 persen Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kota Bandung berasal dari luar daerah.
Adanya ketimpangan dalam pembangunan membuat Kota Bandung kerap dijadikan tujuan utama masyarakat luar Bandung untuk mendulang rupiah. Hal itu diungkapkan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil saat membuka Musyarawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) di Hotel Horison, Jalan Pelajar Pejuang, Selasa (8/3/2016).
“Ada ketimpangan, jangan sampai Bandung dianggap jadi gula-gula ekonomi. 80 persen, saya turun ke lapangan menangkap PMKS hampir semua bukan orang Bandung,” ucap Emil, sapaan akrabnya.
Menurut Emil, idealnya daerah tetangga bisa sama-sama membangun daerahnya. Dia mengatakan, perlu adanya sinergitas antar daerah untuk mengentaskan masalah ekonomi masyarakat.
“Yang betul kota sekelilingnya sama-sama maju. Makanya berbagi peran, misalnya kulitnya di Garut, jualan di Cihampelas, kita bantu menjual orang Garut-nya ikut makmur,” ungkapnya.
Wilayah Kota Bandung disesaki oleh 2,7 juta penduduk dan ditambah 1 juta pendatang berkunjung ke Bandung setiap siang harinya. Padatnya suasana kota membuat kemacetan menjadi masalah utama. Akibatnya laju ekonomi kota pun tersendat.
Emil menambahkan, salah satu cara untuk melancarkan laju ekonomi masyarakat yakni dengan membangun moda transportasi massal yang baru.
“Ekonomi kita sudah juara 7,6 persen (peningkatan ekonomi) kita capai dengan Bandung banyak macet, sudah ranking nasional. Apalagi kalau macetnya berkurang,” ujarnya. (KMP)
© Bandung Juara
[ad_2]














