Bandung (BRS) – Memasuki usia ke-81 tahun pada 28 September 2026, PT Kereta Api Indonesia (KAI) telah melewati perjalanan panjang sebagai bagian dari perubahan mobilitas masyarakat Indonesia. Dari moda penghubung antarkota hingga berkembang menjadi ekosistem transportasi berbasis rel dengan beragam layanan, KAI terus melakukan transformasi untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Hari Kereta Api Indonesia diperingati setiap 28 September, bertepatan dengan momentum pengambilalihan pengelolaan perkeretaapian dari Jepang oleh para pekerja kereta api setelah Indonesia merdeka pada 1945. Peristiwa tersebut menjadi tonggak lahirnya Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI).
Dalam perjalanannya, kereta api tidak hanya menjadi sarana penghubung antarwilayah, tetapi juga berperan dalam mengangkut masyarakat dan berbagai komoditas. Peran tersebut terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan mobilitas dan aktivitas ekonomi.
Dari keterangannya, pengamat perkeretaapian Joni Martinus mengatakan, perubahan kebutuhan masyarakat mendorong KAI melakukan transformasi layanan. Kereta api kini melayani berbagai karakter perjalanan, mulai dari perjalanan jarak jauh, perjalanan lokal, mobilitas harian masyarakat perkotaan hingga angkutan logistik.
“Di usianya yang ke-81 tahun, transformasi layanan yang dilakukan PT Kereta Api Indonesia (KAI) dalam beberapa tahun terakhir berhasil meningkatkan standar pelayanan transportasi publik nasional,” kata Joni, Jumat (25/9/2026).
Menurutnya, peningkatan layanan terlihat dari berbagai aspek, mulai dari keselamatan, keamanan, ketepatan waktu hingga kenyamanan pelanggan. KAI juga terus mengembangkan integrasi transportasi, fasilitas stasiun, peremajaan sarana dan lokomotif, serta digitalisasi sistem tiket.
“KAI secara konsisten juga terus mengembangkan dan meningkatkan integrasi transportasi, fasilitas stasiun, peremajaan sarana kereta dan lokomotif, peningkatan inovasi digitalisasi pada sistem tiket, serta menjadi ruh bagi pengembangan konsep perencanaan perkotaan yang memadukan tata ruang kota dengan moda transportasi umum (TOD) serta pengelolaan kawasan pendukung perkeretaapian,” ucap Joni.
Besarnya peran kereta api, kata Joni, juga terlihat dari jumlah pengguna. Berdasarkan data KAI, KAI Group melayani 351.602.397 pelanggan sepanjang Januari-Agustus 2026. Jumlah tersebut meningkat 7,09 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 328.311.868 pelanggan.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin beragamnya kebutuhan masyarakat terhadap transportasi berbasis rel, baik untuk mobilitas harian, perjalanan antarkota, perjalanan lokal, maupun layanan transportasi yang terintegrasi.
Di sektor angkutan barang, KAI juga memiliki peran dalam mendukung distribusi komoditas. Dalam naskah KAI yang menjadi bahan tulisan ini, angkutan barang sepanjang Semester I 2026 mencapai 32.498.043 ton, terdiri atas 26.534.095 ton batu bara dan 5.963.948 ton komoditas nonbatu bara.
Joni menilai capaian tersebut memperlihatkan posisi kereta api dalam mendukung rantai pasok nasional, khususnya untuk kebutuhan energi, industri dan logistik.
Transformasi juga terasa dari sisi pengalaman penumpang. Sejumlah fasilitas seperti musala, water station, sistem tiket, face recognition, area bermain anak, pilihan makanan di dalam kereta hingga toilet ramah lingkungan terus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pengguna.
Begitu pula dengan kehadiran berbagai sarana baru seperti sleeper train, kereta panoramik, Suite Class Compartemen, The Nusantara Explorer hingga kereta ekonomi New Generation. Beragam inovasi tersebut menjadi bagian dari perubahan wajah layanan perkeretaapian Indonesia.
Keselamatan Tetap Jadi Tantangan
Di tengah transformasi tersebut, Joni mengingatkan agar peningkatan layanan tetap berjalan beriringan dengan penguatan aspek keselamatan.
Menurut dia, masih terdapat pekerjaan besar yang harus mendapat perhatian, terutama terkait perlintasan sebidang. Data KAI menyebut hingga 2026 terdapat sekitar 1.810 perlintasan sebidang yang tidak memiliki penjagaan.
“Pelayanan yang sudah baik tidak akan ada artinya jika tidak dibarengi dengan keselamatan,” kata Joni.
Berdasarkan data KAI hingga 22 Juni 2026, tercatat 134 kecelakaan di perlintasan sebidang. Dari jumlah tersebut, 118 kejadian atau sekitar 88 persen dipicu tindakan pengguna jalan yang menerobos.
Persoalan keselamatan juga kembali menjadi perhatian setelah kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026. Dalam peristiwa tersebut, korban meninggal dunia akhirnya tercatat 15 orang, sementara 84 lainnya mengalami luka-luka.
“Masih segar dalam ingatan peristiwa tragis kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026, di mana KA Argo Bromo Anggrek menabrak dari belakang Commuter Line (KRL) yang menelan korban 15 orang meninggal dan 84 orang luka-luka. Peristiwa tersebut merupakan catatan kelam KAI yang tidak boleh terulang lagi,” tegas Joni.
Dia menilai peningkatan keselamatan membutuhkan koordinasi antara KAI dengan berbagai instansi terkait, terutama dalam menangani perlintasan sebidang dan titik-titik yang memiliki risiko kecelakaan.
“Fokus pada peningkatan keselamatan dan koordinasi antar lembaga terkait adalah hal mutlak tanpa kompromi,” pungkasnya.









