Makassar (BRS) – Industri keuangan syariah nasional terus menunjukkan pertumbuhan positif di tengah ketidakpastian ekonomi global. Hingga September 2026, total aset keuangan syariah Indonesia tercatat mencapai Rp3.307,73 triliun atau tumbuh 9,28 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Capaian tersebut disampaikan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi saat menutup rangkaian Syariah Financial Fair (SYAFIF) Goes to Makassar 2026 di Atrium Transquare Trans Studio Mall Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (1/11/2026).
Menurut Friderica, pertumbuhan tersebut menjadi kabar positif bagi perkembangan ekonomi dan keuangan syariah nasional, terutama di tengah kondisi global yang masih diwarnai ketegangan geopolitik dan tingginya suku bunga.
Di tingkat internasional, Indonesia juga semakin memperkuat posisinya dalam ekosistem ekonomi syariah. Saat ini, Indonesia menempati peringkat keempat dalam State of Global Islamic Economy, dengan kekuatan pada sektor makanan halal, modest fashion, farmasi dan kosmetik halal, serta wisata ramah muslim.
Dalam kesempatan penutupan SYAFIF, OJK bersama Kementerian Agama turut meluncurkan buku PELITA Syariah atau Panduan Referensi dan Dakwah Keuangan Syariah. Buku ini disiapkan sebagai salah satu sarana untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai ekonomi dan keuangan syariah melalui pendekatan keagamaan.
“PELITA Syariah ini buku yang kita tunggu-tunggu. Di dalamnya ada naskah khutbah yang bisa digunakan para khatib untuk menyampaikan ekonomi syariah kepada jamaah,” kata Friderica.
Penyusunan buku tersebut melibatkan sejumlah lembaga, yakni OJK, Kementerian Agama, Bank Indonesia, Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), dan Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI).
Selain menerbitkan PELITA Syariah, OJK juga mendorong pemanfaatan program Si Cantik (Sahabat Ibu Cakap Keuangan Syariah) dan Ekosistem Pesantren Inklusi Keuangan (EKI). Kedua program tersebut diarahkan untuk memperluas jangkauan edukasi dan inklusi keuangan syariah, khususnya di kalangan ibu rumah tangga dan lingkungan pesantren.
Friderica menegaskan, penyelenggaraan SYAFIF tidak sekadar menjadi ajang pameran produk dan layanan keuangan syariah. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk mendekatkan industri keuangan syariah kepada masyarakat agar semakin dikenal dan dimanfaatkan.
“Ini upaya mendekatkan keuangan syariah kepada masyarakat. Kalau kita dorong tapi tidak disambut masyarakat, tidak akan berjalan,” imbuhnya.
SYAFIF Goes to Makassar 2026 berlangsung pada 30 Oktober hingga 1 November 2026. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi penutup rangkaian Bulan Inklusi Keuangan di Sulawesi Selatan. Agenda selanjutnya akan dilanjutkan melalui Indonesia Islamic Financial Forum pada Senin (2/11/2026).
Peluncuran buku PELITA Syariah juga mendapat apresiasi dari Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP DMI). Sekretaris Jenderal PP DMI Rahmat Hidayat menilai, kehadiran buku tersebut menjadi langkah positif untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah di tengah masyarakat, terutama melalui ekosistem masjid.
Menurut Rahmat, buku PELITA Syariah dapat menjadi panduan bagi penceramah, khatib, tokoh agama, dan tokoh masyarakat dalam menyisipkan edukasi mengenai keuangan syariah ketika menyampaikan pesan-pesan keagamaan.
Dengan demikian, kegiatan dakwah di lingkungan masjid juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkenalkan dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap prinsip serta layanan keuangan syariah.














