Jakarta (BRS) – PT Bio Farma (Persero) memperkuat pemanfaatan teknologi dalam pengembangan vaksin, mulai dari penelitian, produksi hingga distribusi. Upaya tersebut diperkenalkan melalui partisipasi perusahaan dalam Danantara Technology Innovation and Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, 26–28 Oktober 2026.
Dalam forum tersebut, Bio Farma menampilkan sejumlah teknologi yang telah diterapkan untuk mendukung operasional perusahaan, di antaranya sistem pemantauan distribusi vaksin secara real-time, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk riset dan produksi, serta Virtual Reality (VR) untuk pengembangan kompetensi personel.
Partisipasi Bio Farma dalam DTIIF 2026 juga menjadi kesempatan untuk menjajaki kerja sama dengan pelaku industri, lembaga penelitian, perusahaan teknologi, dan investor. Kolaborasi tersebut diharapkan membuka peluang transfer teknologi sekaligus mempercepat pengembangan inovasi farmasi di dalam negeri.
Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, mengatakan riset, inovasi, dan penguasaan teknologi menjadi faktor penting dalam pengembangan produk farmasi yang mampu bersaing di pasar global.
“Untuk menjadikan satu produk itu memerlukan riset dan pengembangan (R&D), inovasi, dan teknologi. Jadi, kita harapkan dari pertemuan ini ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk pengembangan Bio Farma,” ujar Shadiq.
Salah satu teknologi yang diperkenalkan adalah Medtrack, sistem digital untuk memantau distribusi vaksin secara real-time. Sistem ini memungkinkan pemantauan suhu selama pengiriman sekaligus mendeteksi potensi gangguan distribusi.
Pemantauan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas dan keamanan vaksin selama proses pengiriman hingga tiba di tujuan.
Di bidang penelitian dan produksi, Bio Farma memanfaatkan AI untuk mendukung pemantauan proses produksi vaksin polio serta membantu analisis dan seleksi kandidat vaksin berbasis DNA dan messenger RNA (mRNA). Pemanfaatan teknologi ini diarahkan untuk mendukung efektivitas riset dan pengembangan produk farmasi.
Sementara itu, penggunaan VR diterapkan dalam proses kualifikasi personel melalui simulasi digital. Metode ini memungkinkan pelatihan berlangsung secara interaktif dan terstruktur, sekaligus membantu meningkatkan kompetensi sumber daya manusia dalam mengikuti perkembangan teknologi industri farmasi.
Penerapan berbagai teknologi tersebut berjalan beriringan dengan digitalisasi proses produksi dan pengendalian mutu. Langkah ini ditujukan untuk mendukung efisiensi operasional, menjaga konsistensi proses, serta mempertahankan kualitas produk.
Penguatan teknologi dan riset menjadi salah satu perhatian Bio Farma dalam mempertahankan daya saing di pasar internasional. Saat ini, vaksin polio produksi Bio Farma telah digunakan di lebih dari 150 negara.
Selain memenuhi kebutuhan vaksin dalam negeri, perusahaan juga berkontribusi dalam penyediaan vaksin untuk pasar global, termasuk melalui kerja sama dengan UNICEF.
Forum DTIIF 2026 dimanfaatkan Bio Farma untuk memperluas peluang kemitraan strategis dalam pengembangan riset, transfer teknologi, dan inovasi farmasi. Kegiatan ini mengusung tema “Investing in Tomorrow: Advancing Technology, Innovation, and Sustainable Growth” dan diikuti lebih dari 1.500 peserta dari kalangan inovator global, perusahaan teknologi, lembaga penelitian, BUMN, investor, ilmuwan, serta mitra strategis dalam dan luar negeri.
CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, dalam pembukaan forum menyampaikan bahwa DTIIF memiliki tiga tujuan utama, yakni membangun kemitraan untuk transformasi ekonomi dan industri jangka panjang, memobilisasi modal serta keahlian global bagi proyek strategis, dan mendorong kolaborasi menghasilkan inisiatif nyata yang berkelanjutan.
“Saya berharap, forum tersebut dapat memperluas peluang kerja sama dengan berbagai mitra strategis, termasuk perusahaan riset dan pihak yang memiliki kapasitas dalam pengembangan teknologi,” kata Shadiq.
Melalui penguatan riset, produksi, dan distribusi, Bio Farma terus mendorong transformasi perusahaan sebagai industri life science yang inovatif dan berdaya saing global, sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan vaksin nasional dan internasional.














